Sumedang, UPI — Di balik sebuah ruang simulasi mengajar, seorang mahasiswi berdiri tenang, menata suara dan gerak, seolah sedang berada di depan kelas sungguhan. Bagi Anita Seli, momen itu bukan sekadar bagian dari lomba, melainkan perwujudan dari cita-cita yang ia rawat sejak memilih jalan sebagai calon guru sekolah dasar.

Perjalanan itu berbuah manis. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang tersebut berhasil meraih Juara 1 Lomba Simulasi Mengajar (LSM) ke-6 Tingkat Nasional, mengungguli 279 peserta dari 28 universitas di seluruh Indonesia. Sebuah capaian yang tak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga kampus yang membentuknya.

Bagi Anita, kompetisi ini bukan ajang pamer kemampuan semata. Ia melihatnya sebagai ruang belajar—tempat menguji sejauh mana teori yang dipelajari di bangku kuliah mampu diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang hidup, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar masa kini.

Dalam simulasi mengajarnya, Anita menghadirkan pendekatan pembelajaran modern yang menekankan keaktifan siswa, penguasaan konsep yang mendalam, serta metode yang selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21. Setiap gerak, pertanyaan, dan interaksi dirancang untuk menciptakan suasana kelas yang inklusif dan efektif.

Penampilan itulah yang membuat dewan juri menilai simulasi mengajar Anita sebagai yang paling unggul—bukan hanya dari sisi teknik, tetapi juga dari segi visi pedagogis.

Prestasi Anita tidak lahir dalam ruang hampa. Di balik keberhasilannya, ada proses panjang dan pendampingan intensif dari para dosen yang membersamainya.

Dr. Cucun Sunaengsih, M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing Lomba, berperan mengarahkan strategi pembelajaran dan penyusunan perangkat ajar. Popon Rohaeti, M.Pd., sebagai Dosen Praktisi, memberi sentuhan realistis agar simulasi mengajar tetap membumi dan aplikatif. Sementara Dr. Maulana, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik, memastikan Anita tetap menjaga keseimbangan antara kompetisi dan kewajiban akademik.

Kolaborasi tersebut mencerminkan ekosistem pembelajaran di UPI Kampus Sumedang—di mana mahasiswa tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama bimbingan yang terarah dan berkelanjutan.

Kemenangan ini bukan titik akhir bagi Anita. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa menjadi guru adalah pilihan hidup yang menuntut kesiapan intelektual, emosional, dan moral.

Prestasi ini juga memiliki makna lebih luas. Model pembelajaran yang dipresentasikan Anita sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif, bermutu, dan berkeadilan. Dalam konteks itu, keberhasilan Anita bukan hanya kemenangan individu, tetapi juga kontribusi nyata terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

Bagi UPI Kampus Sumedang, prestasi ini menegaskan komitmen institusi dalam mencetak calon guru profesional—mereka yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap menjadi agen perubahan di ruang kelas nyata.

Di ruang simulasi itu, Anita Seli telah membuktikan satu hal penting: bahwa mimpi menjadi guru hebat bukanlah angan-angan. Dengan proses, pendampingan, dan ketekunan, mimpi itu bisa berdiri tegak—mengajar, menginspirasi, dan memberi harapan bagi generasi masa depan. (RK)