Bandung, UPI

Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI), Dr. Warli Haryana, M.Pd., menjadi salah satu pembicara dalam Simposium Antarabangsa AI dalam Pendidikan di Malaysia pada Rabu (19/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Filem Kelantan (FFK 2026) yang diselenggarakan oleh sektor pendidikan di Kelantan bekerja sama dengan Universiti Malaysia Kelantan (UMK) pada 18–20 Agustus 2026. Forum internasional ini mempertemukan akademisi serta praktisi dari Malaysia, Indonesia, Thailand, hingga Inggris untuk membahas implikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan, seni, film, dan industri kreatif.

Dalam sesi pemaparan bertajuk “Creative Arts Rooted in Cultural Diversity as a Catalyst for Global Diplomacy: Preserving Heritage, Fastening Education and Inspiring International Collaboration”, Warli menyoroti pentingnya menjaga nilai kemanusiaan, etika, dan identitas budaya di tengah masifnya perkembangan AI.

Warli merumuskan prinsip utama dalam pemanfaatan teknologi, yaitu “AI Supports – Humans Lead” (AI mendukung – manusia memimpin). Menurutnya, meski AI dapat membantu efisiensi pembuatan storyboard, animasi, hingga variasi desain, manusia harus tetap memegang kendali atas pertimbangan etis dan arah kreatif.

“Teknologi dan perangkat berkarya akan terus berubah. Namun, perubahan tersebut tidak seharusnya menghilangkan posisi manusia sebagai sumber gagasan, pengalaman, pertimbangan etis, dan makna budaya,” paparnya.

Selain itu, ia menegaskan prinsip “Culturalize AI – Not AI-ze Culture” dengan pesan “Culture comes first. Technology follows” (Budaya hadir lebih dahulu. Teknologi mengikuti). Pendekatan ini menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi utama agar AI tidak menyederhanakan atau mengikis identitas budaya suatu bangsa.

Menurut Warli, partisipasi dalam forum seperti ini memiliki relevansi dengan pengembangan pendidikan yang adaptif terhadap transformasi teknologi sekaligus tetap berorientasi pada nilai kemanusiaan. Dialog dengan akademisi dan praktisi dari Malaysia dan Indonesia juga membuka kemungkinan pengembangan riset bersama, proyek kreatif mahasiswa, pertukaran akademik, workshop AI dan literasi budaya, pameran, produksi film atau animasi berbasis budaya, serta pengembangan dokumentasi budaya digital.

Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan karakter FFK 2026 sebagai festival pendidikan digital bertaraf internasional yang melibatkan institusi dan peserta dari Malaysia, Indonesia, Thailand, dan United Kingdom dalam bidang film, video kreatif, dan podcast.

Kehadiran akademisi UPI dalam simposium ini sekaligus memperkuat potensi kolaborasi internasional dalam bidang riset bersama, workshop literasi digital, produksi film berbasis kearifan lokal, hingga diplomasi budaya antarnegara di kawasan Asia Tenggara. (DN)