
Bandung, 16 Oktober 2025 — Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan, Dr. H. Saan Mustopa, M.Si., kembali ke almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), untuk memberikan pidato alumni pada Wisuda Gelombang III Tahun 2025 di Gedung Gymnasium UPI, Kamis (16/10/2025). Dalam pidatonya, Saan Mustopa berbagi kisah perjuangan semasa kuliah di IKIP Bandung yang membentuk karakter dan semangat pengabdiannya hingga kini.
Pria asal Karawang ini mengenang masa mudanya ketika harus belajar dengan lampu cempor karena belum ada listrik di desanya. Ia diterima melalui jalur PMDK di Jurusan Fisika IKIP Bandung pada tahun 1988 dengan cita-cita sederhana menjadi guru fisika, namun jalan hidup membawanya ke dunia politik dan pemerintahan.
“Saya dari SD sampai SMA belajar pakai lampu cempor di kampung. Saat lulus tahun 1988, saya diterima lewat jalur PMDK di IKIP Bandung jurusan Fisika, dengan cita-cita sederhana — menjadi guru Fisika,” kenangnya.
Namun, perjalanan hidup membawa Saan ke jalur berbeda. Di kampus inilah ia menempa jati diri, mengasah kemampuan berpikir kritis, dan menumbuhkan kepercayaan diri. Ia aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika, Ketua Senat FMIPA, dan bahkan Sekretaris Umum Senat Mahasiswa IKIP Bandung, organisasi yang turut ia dirikan.
“Kampus ini mengubah hidup saya. Dulu saya anak kampung yang pemalu, tapi IKIP Bandung membuat saya percaya diri, berani berpikir, dan berani menyuarakan kebenaran,” ujarnya disambut tepuk tangan ribuan wisudawan.

Saan juga mengenang masa-masa ketika kehidupan mahasiswa penuh keterbatasan namun kaya pengalaman. Ia sering tidur di sekretariat Himpunan Mahasiswa Fisika, mandi di Masjid Al-Furqon, dan berdiskusi hingga larut malam bersama rekan-rekannya. Menurutnya, pengalaman itu membentuk karakter, integritas, dan kepemimpinan yang ia bawa hingga saat ini.
“Kalau dulu ada pilihan antara kuliah atau ikut diskusi aktivis antar-kampus, saya pilih diskusi. Di situlah saya belajar memahami realitas, belajar berjuang, dan belajar menjadi manusia yang peka terhadap persoalan masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai alumni, Saan menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater dan terus menebar kemaslahatan. Ia menegaskan, menjadi lulusan UPI bukan sekadar gelar akademik, tetapi juga tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi bangsa.
“Kita tidak pernah bisa lepas dari identitas sebagai keluarga besar UPI. Menjaga nama baik diri berarti menjaga nama baik kampus. UPI telah membentuk saya menjadi pribadi yang berani dan berintegritas,” tandasnya.
“Kampus bukan menara gading yang terpisah dari realitas, melainkan laboratorium kehidupan. Dari sinilah mahasiswa dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat,” ujarnya di hadapan ribuan wisudawan.
Ia menegaskan bahwa menjadi alumni UPI berarti membawa tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater dan menebar kemaslahatan di mana pun berada.
“Menjaga reputasi diri berarti menjaga kehormatan kampus UPI tercinta yang telah menempa kita menjadi pribadi yang berani dan berkarakter,” tutupnya. RK (16/10)

