
Yogyakarta, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan kiprahnya dalam ranah perfilman dan animasi internasional. Melalui Program Studi Film dan Televisi (FTV) konsentrasi Animasi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD), UPI berhasil menempatkan karya mahasiswanya di panggung bergengsi 5th CRAFT International Animation Festival 2025. Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi pencapaian individual mahasiswa, tetapi juga mencerminkan komitmen institusi terhadap penguatan ekosistem kreatif dan inovatif dalam pendidikan seni di Indonesia.
Partisipasi UPI dalam ajang ini menjadi wujud nyata implementasi pendidikan berbasis proyek (Project-Based Learning) dan penelitian berbasis praktik (Practice-Based Research), yang menjadi ciri khas pembelajaran di lingkungan FPSD, Khususnya dalam pembelajaran berbasis Studio di Prodi FTV. Melalui riset kolaborasi berbasis ruang studio antara dosen dan mahasiswa, karya animasi tidak hanya dipandang sebagai produk seni, tetapi juga sebagai instrumen reflektif untuk memahami isu sosial, psikologis, dan kultural yang relevan dengan generasi muda. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan kurikulum UPI yang menekankan integrasi antara analisis akademik, proses produksi kreatif, dan inovasi teknologi.
Lebih jauh, keberhasilan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 9: Industry, Innovation, and Infrastructure, yang menekankan pentingnya membangun kapasitas industri kreatif berbasis inovasi dan pendidikan tinggi. Melalui dukungan FPSD, Prodi FTV UPI berupaya menumbuhkan infrastruktur kreatif yang mampu menjembatani dunia akademik dengan industri animasi nasional dan global. Karya mahasiswa seperti “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” menjadi bukti bahwa UPI tidak hanya melahirkan kreator, tetapi juga inovator yang siap berkontribusi pada pembangunan ekonomi kreatif berkelanjutan di Indonesia. Salah satu alasan film ini terpilih untuk masuk tahap official screening adalah kekuatan konsepnya yang relevan dan berdampak: mengangkat isu kesehatan mental (mental health) sebagai refleksi atas keresahan generasi muda. Tema tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3: Good Health and Well-Being, yang menekankan pentingnya kesejahteraan psikologis dalam pembangunan manusia. Dari sisi teknis, film ini juga menonjol karena berbasis pada inovasi produksi di studio berstandar industri, memanfaatkan perangkat animasi digital dan pipeline kerja kolaboratif yang diterapkan dalam proses belajar di Prodi FTV UPI. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi seni dapat menjadi motor penggerak bagi integrasi antara isu sosial, inovasi teknologi, dan kreativitas industri dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Festival yang digelar di Yogyakarta ini merupakan salah satu ajang animasi paling bergengsi di tingkat Asia Tenggara. Film “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” terpilih masuk dalam kategori kompetisi “South East Asia Competition”, menandai langkah penting bagi sineas muda UPI untuk bersaing dengan karya terbaik dari berbagai negara di kawasan tersebut.
Film karya mahasiswa UPI ini dijadwalkan tayang pada Jumat, 31 Oktober 2025, bertempat di Studio Kalahan, Gamping, Sleman. Dalam sesi tersebut, film ini diputar bersama delapan film animasi pilihan lain dari berbagai negara Asia Tenggara, menarik perhatian pegiat animasi, kritikus, serta audiens internasional yang hadir memadati ruang pemutaran.
Sesuai standar festival internasional, sesi pemutaran dilanjutkan dengan sesi tanya jawab (Q&A) bersama pembuat film. Rendi, selaku sutradara “Kutukan Fikiran yang Membelenggu”, hadir mewakili almamater UPI dan memaparkan konsep, teknik, serta pesan artistik yang diusung dalam karyanya. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan director’s statement yang menyoroti proses kreatif di balik film yang menggambarkan pergulatan mental dan kebebasan berpikir generasi muda.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Piotr Kardas (Program Director) dan Chonie Prysilia, selaku Festival Director CRAFT, yang menyampaikan apresiasi atas kualitas karya animasi dari generasi muda Indonesia. “CRAFT Festival selalu berupaya menjadi ruang tumbuh bagi animator Asia Tenggara, dan karya dari peserta ini menunjukkan potensi luar biasa dalam eksplorasi tema dan teknik visual,” ujar Chonie. Agenda festival masih akan berlanjut dengan tahapan penilaian untuk menentukan nominasi film terbaik, yang akan dinilai oleh dewan juri ternama, antara lain Yoshihari Ashino (Jepang), Julia Hazuka (Polandia), dan Heri Dono (Indonesia).

Keikutsertaan “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” di ajang internasional ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi FTV UPI FPSD mampu menghasilkan karya dengan kualitas dan orisinalitas tinggi yang diakui secara global. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi kreatif berikutnya di lingkungan akademik UPI untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan industri animasi Indonesia. (Kontributor: Humas UPI – Salsa Solli Nafsika, M.Pd)

