
Garut, UPI
Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) meluncurkan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Professor Goes to Pesantren: Mencetak 1000 Santri Menjadi Pengusaha di Jawa Barat”. Program yang digelar di Auditorium Pondok Pesantren Cipari Garut ini menandai komitmen UPI dalam mewujudkan santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Menjawab Tantangan Kemandirian Ekonomi Santri
Prof. Dr. Amir Machmud, S.E., M.Si., Dosen Terbaik kategori Pengajaran FPEB UPI Tahun 2025 sekaligus inisiator program ini, menyampaikan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi santri yang umumnya hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus. “Santri memiliki potensi luar biasa dengan kedisiplinan, kesalehan, dan ketekunan yang telah terlatih. Saatnya mengubah mindset dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja,” ujar Prof. Amir di hadapan lebih dari 500 santri Pondok Pesantren Cipari.
Program ini sejalan dengan visi Jawa Barat sebagai provinsi yang maju, sejahtera, dan agamis. Gubernur Jawa Barat telah menetapkan target menjadikan Jawa Barat sebagai pusat ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren di Indonesia. Dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia, Jawa Barat memiliki potensi dahsyat untuk melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda yang berintegritas tinggi.
Konsep Kewirausahaan Berbasis Nilai Islam
Berbeda dengan pelatihan kewirausahaan konvensional, program “Professor Goes to Pesantren” mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek pembelajaran. Prof. Amir menekankan pentingnya prinsip Shidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), Amanah (terpercaya), dan Fathonah (cerdas) dalam berbisnis, sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.
“Rasulullah SAW adalah entrepreneur sejati. Beliau memulai usaha sejak usia muda, membangun reputasi sebagai Al-Amin yang terpercaya, dan mengembangkan bisnis hingga ke negeri Syam. Para santri perlu memahami bahwa berwirausaha bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk ibadah dan kontribusi kepada masyarakat,” jelas Prof. Amir yang juga meraih Anugerah Bank Indonesia Kategori Kostum Terbaik Karya UMKM Jabar.
Kurikulum Komprehensif dari Mindset hingga Action Plan
Program pengabdian ini dirancang secara sistematis intensif yang mencakup berbagai aspek kewirausahaan. Dimulai dengan ice breaking berupa pantun-pantun khas pesantren yang mengangkat semangat berwirausaha:
“Jalan-jalan ke kota Surabaya, Membeli kitab untuk dipelajari, Wirausaha santri penuh daya, Mandiri dunia akhirat diraih nanti”.
Pembelajaran kemudian berlanjut ke pembentukan mindset wirausaha Muslim, di mana santri diajak berdiskusi tentang pentingnya kemandirian ekonomi dalam perspektif Islam. Santri tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga dibimbing untuk mengenali peluang usaha di lingkungan mereka sendiri.
“Kami mengajarkan santri untuk melihat potensi di sekitar pesantren. Bisa usaha makanan, kerajinan, pakaian muslim, jasa les privat, laundry, bahkan usaha digital seperti konten Islami dan desain grafis. Yang penting adalah memulai dari yang kecil dan konsisten,” tambah Prof. Amir.
Workshop Praktis: Dari Ide ke Rencana Bisnis
Salah satu keunggulan program ini adalah pendekatan praktis melalui workshop mini. Santri dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan brainstorming, mengidentifikasi peluang usaha, hingga menyusun rencana bisnis sederhana. Setiap kelompok dibimbing untuk menentukan produk atau jasa, menghitung modal awal, menetapkan harga jual, dan merancang strategi pemasaran.
Yang tidak kalah penting adalah pemahaman tentang prinsip keuangan Islami. Santri diajarkan untuk mengelola keuangan dengan jujur, menghindari riba dan transaksi haram, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk sedekah dan zakat. “Pencatatan keuangan yang rapi adalah kunci keberhasilan usaha. Ini juga bentuk amanah dalam mengelola rezeki yang Allah berikan,” ujar Prof. Amir.

Komitmen Tim Dosen UPI untuk Jawa Barat
Program ini tidak hanya melibatkan satu dosen, tetapi merupakan tim solid yang terdiri dari 8 profesor dan 3 Assoc Profesor. Mereka adalah Prof. Dr. H. Nugraha, M.Pd., M.BA, CA., Prof. Dr. Amir Machmud, S.E, M.Si., Prof. Dr. H. Hari Mulyadi, M.Si, Prof. Dr. Drs. Janah Sojanah,M.Si dan Prof. Dr. Endang Supardi, SE, M.Pd. Sementara 4 orang Assoc Profesor Adalah Assoc Prof. Dr. Ilma Purnamasari, S.Pd, M.M.,., Assoc Prof. Dr. Rasto, S.Pd., M.Pd., dan Assoc Prof. Dr. Navik Istikomah, M.Si, dan Assoc Prof Muhamad Arief. Semuanya Adalah Dosen di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Selain para professor, kegiatan ini pun melibatkan Alumni dan Mahasiswa pascasarjana yang tergabung dalam INSEED Group Riset di UPI yang dikordinatori oleh Ali Usman, mahasiswa Program Magister.
Tim ini berkomitmen untuk menjangkau 1000 santri di berbagai pesantren di Jawa Barat sepanjang tahun 2025-2026. “Ini adalah bentuk Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kami ingin memastikan ilmu yang kami miliki memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya santri sebagai aset bangsa,” ungkap Prof. Janah Sojanah.
Mendukung Visi Misi Jawa Barat 2024-2029
Program ini selaras dengan visi Jawa Barat yang tertuang dalam RPJMD 2024-2029, yaitu “Jawa Barat Maju, Sejahtera, Juara untuk Semua”. Dalam misi ketiga disebutkan komitmen untuk mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis serta meningkatkan akses pendidikan berkualitas termasuk pendidikan pesantren.
Lebih jauh, program ini juga mendukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang ekonomi, khususnya strategi pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan UMKM berbasis pesantren. Data menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 20.000 pesantren dengan jutaan santri, potensi yang luar biasa untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Testimoni dan Harapan Santri
Hadir pada acara tersebut dari pihak Pesnatren Cipari adalah Ketua Yayasan: Drs. Sofwan salaf, M.Ag, Kepala MA: Hilman Arif Salaf, S.Pd.i, dan Kepala MTs: Drs. Mahbub. Pondok Pesantren Cipari, menyambut antusias program ini. “Selama ini kami fokus pada pendidikan agama. Namun kami menyadari santri juga perlu bekal keterampilan untuk hidup mandiri. Program dari UPI ini sangat kami butuhkan dan kami harap bisa berkelanjutan.” Ujar Drs. Mahbub.
Sammi Mustafa Raihan dan Aufa Karim, santri yang mengikuti program, mengaku mendapat pencerahan. “Saya tidak pernah berpikir untuk berwirausaha. Selalu berkeinginan ngaji, lalu mengajar ngaji saja. Tapi setelah mengikuti ini, saya jadi punya ide untuk usaha jilbab dan busana muslim. Insya Allah mau saya mulai dengan modal kecil dulu.”

Target dan Keberlanjutan Program
Untuk tahun pertama, program ini menargetkan 1000 santri dari 20 pesantren besar di Jawa Barat, meliputi wilayah Bandung Raya, Priangan Timur, Cirebon, dan Bogor. Setiap pesantren akan mendapat pendampingan intensif selama 3 bulan pasca-pelatihan untuk memastikan santri benar-benar memulai usahanya.
“Kami tidak hanya datang, memberikan materi, lalu pergi. Ada mekanisme monitoring dan pendampingan. Bahkan kami akan memfasilitasi santri yang sudah memulai usaha untuk terhubung dengan ekosistem bisnis yang lebih luas,” jelas Prof. Amir.
UPI juga berencana menjalin kemitraan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, serta berbagai korporasi untuk memberikan akses permodalan dan pemasaran bagi santri yang sudah memulai usaha.
Program “Professor Goes to Pesantren” bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi santri yang shalih secara spiritual sekaligus mandiri secara ekonomi. Sebagaimana pesan Prof. Amir kepada para santri: “Mulailah dari yang kecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri. Kalian adalah yang terhebat! Bekerja adalah ibadah, sehingga bekerjalah dengan serius penuh kecintaan.”
Dengan semangat Hari Santri Nasional yang mengangkat tema kemandirian dan kontribusi santri bagi bangsa, program ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia, menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.

