
Bandung, UPI
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mempertegas komitmennya dalam mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia. Hal tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif fakultas dalam kegiatan Pembekalan Guru Bantu Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Term 2 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra.
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (13/4/2026) ini diikuti oleh sejumlah calon guru bantu yang akan ditugaskan di berbagai sekolah dan community language school di Australia. Program pembekalan ini bertujuan mempersiapkan para calon guru bantu BIPA sebelum menjalankan tugas mengajar di Australia. Selain memperkuat kesiapan pedagogis para peserta, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia melalui penguatan pembelajaran bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan internasional.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D., dalam pembukaan acara menekankan peran strategis para peserta. Menurutnya, guru bantu BIPA bukan sekadar pengajar bahasa, melainkan juga duta budaya yang bertugas memperluas pemahaman masyarakat internasional terhadap Indonesia.
Dalam program ini, empat mahasiswa FPBS UPI terpilih menjadi peserta guru bantu BIPA di Australia, yakni Zakia, Icha, Mumtaz, dan Annisa. Keikutsertaan ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi pedagogis dalam lingkungan multikultural, sekaligus menjadi sarana diplomasi budaya secara langsung.

Dosen FPBS UPI, Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber, memaparkan strategi pengajaran BIPA yang adaptif dan komunikatif. Ia menekankan pentingnya kreativitas dalam merancang pembelajaran agar relevan dengan kebutuhan siswa di luar negeri.
“Pembelajaran BIPA tidak hanya berfokus pada penguasaan bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara kontekstual. Pendekatan komunikatif dan berbasis pengalaman sangat krusial untuk membangun minat serta partisipasi siswa,” ujar Prof. Yulianeta.
Selain penguatan materi akademik, kegiatan ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman praktis dari praktisi pengajaran di Australia, Mei Turnip, serta para alumni guru bantu, Adrian dan Intan. Mereka memberikan wawasan terkait dinamika kelas di Australia, proses adaptasi, hingga kehidupan di Wisma Atdikbud Canberra.
Turut hadir pula perwakilan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang memaparkan mengenai dukungan kebijakan serta pengembangan materi ajar untuk menunjang penguatan internasionalisasi bahasa Indonesia.
Sinergi antara KBRI Canberra, Badan Bahasa, dan perguruan tinggi seperti FPBS UPI ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengajaran BIPA di tingkat global. Ke depannya, program ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi bahasa Indonesia di kancah internasional sekaligus menjadi jembatan diplomasi yang mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Australia melalui jalur pendidikan. (DN)

