Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menggelar screening film ujian akhir semester dalam tajuk “Framing”, yang menayangkan sembilan karya film fiksi mahasiswa. Acara berlangsung di Auditorium Lantai 7, Gedung Baru FPSD UPI, dan menjadi ajang penting bagi para mahasiswa untuk mempresentasikan hasil kerja kreatif sekaligus capaian akademik mereka di mata publik dan sivitas akademika.

Hadir dalam kegiatan ini jajaran pimpinan fakultas, yakni Wakil Dekan I Bidang Akademik Prof. Dr. Trianti Nugraheni, S.Sen., M.Si. Wakil Dekan II Bidang Sarana dan Prasarana Dr. Tri Karyono, M.Sn, serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Hery Supiarza, M.Pd., yang juga merangkap sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Ketua Program Studi Film dan Televisi. Ketiganya memberikan apresiasi tinggi atas capaian para mahasiswa yang berhasil menghadirkan karya fiksi berbasis riset dan pengalaman empirik.
Dua dosen pengampu mata kuliah Studio Film, Dedi Warsana, M.Sn., dan Erik Muhammad Pauhrizi, M.Sn., menekankan pentingnya pendekatan empirik dalam proses kreatif mahasiswa tahun ini. Keduanya mengungkapkan bahwa kekuatan utama dalam sembilan film yang diputar berasal dari akumulasi proses dokumenter yang telah dilakukan para mahasiswa pada semester sebelumnya.

“Tahun ini sangat menarik. Para mahasiswa memulai karya fiksi mereka dengan menggali realitas terlebih dahulu melalui pendekatan dokumenter. Sehingga gagasan, konflik, dan karakter dalam film fiksi mereka tidak datang dari ruang hampa, melainkan dibangun dari data yang kaya dan pengalaman langsung di lapangan,” ujar Erik Muhammad Pauhrizi.
Hal senada disampaikan oleh Dedi Warsana yang menambahkan bahwa metode ini memberikan kedalaman naratif serta akurasi konteks sosial dalam film, yang membuat karya-karya tersebut lebih relevan dan berdampak.

Film-film yang ditayangkan dalam screening ini mengangkat beragam tema sosial, psikologis, hingga kultural, mencerminkan keberagaman perspektif mahasiswa dalam merespons fenomena di sekitarnya. Dengan penyajian visual yang matang dan narasi yang kuat, karya-karya ini tidak hanya menjadi syarat kelulusan akademik, namun juga bentuk partisipasi mahasiswa dalam percakapan budaya dan sosial melalui medium film.
Acara screening ini juga menjadi ruang diskusi terbuka antara mahasiswa, dosen, dan tamu undangan yang hadir, menandai pentingnya kolaborasi kritis dalam pengembangan pendidikan seni berbasis media. “Framing” bukan hanya sekadar tajuk, tetapi metafora akan cara mahasiswa menyusun realitas melalui bingkai sinematik mereka—sebuah pernyataan artistik yang berpijak pada pengalaman dan keberanian berekspresi (Kontributor Humas UPI/FPSD/Dewangga Ahmad Nafarel)

