Oleh

Suwatno

Guru Besar Komunikasi Organisasi

Fakultas Pendidikan Ekonomi Dan Bisnis

Universitas Pendidikan Indonesia

Dalam sebulan terahir, sejak Purbaya Yudhi Sadewa dilantik sebagai Menteri Keuangan, ruang publik riuh membicarakan bukan hanya arah kebijakannya, tetapi juga gaya komunikasinya yang dianggap “koboi”. Ia menunjukkan ekspresi tegas, blak-blakan, kadang tanpa basa-basi diplomatis. Di tengah kultur birokrasi yang kerap berhati-hati, apalagi jika dibandingkan dengan Menteri keuangan sebelumnya, gaya komunikatif seperti ini terasa kontras. Namun di baliknya ada dimensi menarik yang justru patut diapresiasi: transparansi dan autentisitas.

Dalam teori komunikasi publik, gaya bicara yang terbuka dan faktual sering kali menjadi fondasi bagi trust building. Komunikasi kepemimpinan yang karismatik dan transparan kerapkali dapat berpengaruh positif terhadap keterbukaan terhadap perubahan (openness to change), terutama ketika kepercayaan organisasi menjadi mediator utama. Artinya, publik cenderung lebih siap menerima kebijakan baru ketika pemimpinnya bicara apa adanya.

Hal ini tercermin dalam cara Purbaya menjelaskan kebijakan fiskal atau pengendalian inflasi. Ia tidak bersembunyi di balik jargon teknokratik, melainkan menyampaikan kalkulasi fiskal dengan bahasa konkret, bahkan kadang disertai analogi yang tajam. Gaya itu menciptakan dua efek komunikasi sekaligus: pertama, menghilangkan jarak psikologis antara pemerintah dan publik; kedua, menghidupkan kembali sense of accountability di tengah kelelahan publik terhadap jargon ekonomi yang kerap tidak membumi.

Namun gaya seperti ini tidak lepas dari kontroversi. Sebagian kalangan menilai Purbaya terlalu keras, kurang politis. Padahal dalam teori authentic leadership sebagaimana dikemukakan oleh Bruce Avolio dan William Gardner (2005), keautentikan seorang pemimpin justru ditandai oleh kemampuan untuk berbicara jujur tanpa kehilangan empati terhadap pendengar. Dengan kata lain, komunikasi autentik bukan tentang keras atau lembut, melainkan tentang konsistensi antara pikiran, kata, dan tindakan. Dalam konteks ini, gaya “koboi” Purbaya bisa dibaca bukan sebagai arogansi, tetapi sebagai manifestasi kejujuran epistemik: keberanian menyebut fakta sebagaimana adanya.

Salah satu contoh nyata keberanian komunikatif Purbaya muncul ketika ia secara terbuka mengkritik rekan-rekan sejawat di kabinet. Kritik itu bukan diarahkan kepada oposisi, melainkan kepada sesama pejabat pemerintah, suatu tindakan yang jarang dilakukan di lingkungan birokrasi yang hierarkis. Bahkan ia juga pernah menegur secara terbuka beberapa pejabat eselon I di Kementerian Keuangan yang dianggapnya “terlalu konservatif” dalam pengelolaan belanja kementerian.

Dalam konteks teori komunikasi kepemimpinan, tindakan seperti itu merefleksikan courageous communication, yakni sebuah bentuk keberanian moral dalam menyampaikan kebenaran meskipun berisiko terhadap kenyamanan hubungan birokratik. Dalam hal ini, transparansi menyumbang hampir separuh variabel yang memengaruhi kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. Maka gaya komunikasi Purbaya dapat dianggap bukan sekadar public speaking, tetapi bentuk arsitektur kepercayaan publik (trust architecture). Dengan membuka data ekonomi, menjelaskan logika kebijakan secara rasional, dan tak segan mengakui risiko fiskal, ia sedang membangun kepercayaan relasional yang berbasis kejujuran informasi, bukan pencitraan.

Namun teori komunikasi kepemimpinan modern juga mengingatkan bahaya dari keautentikan yang tidak dikelola dengan konteks. Katja Einola dan Mats Alvesson (2021) mengingatkan bahwa kejujuran tanpa sensitivitas sosial bisa menimbulkan resistensi, bahkan alienasi. Dalam konteks Indonesia yang sarat eufemisme birokratik, transparansi bisa dibaca sebagai keberanian, tetapi juga sebagai pelanggaran terhadap norma komunikasi kekuasaan yang cenderung menjaga harmoni simbolik.

Komunikasi Membumi

Dalam komunikasi politik kontemporer, publik semakin mendambakan figur yang lebih menampilkan gaya komunikasi membumi, riil dan kredibel. Dalam hal ini, Purbata berbicara dengan data, berdialog dengan kejelasan, dan mempertahankan posisi dengan argumen. Dalam istilah sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, ia menampilkan kesadaran tentang realitas (consciousness of reality), yakni kemampuan melihat dan memahami realitas secara kritis, reflektif, dan empiris, terlepas dari bias ideologis atau kepentingan kelasnya. Ini adalah kesadaran yang realistis terhadap kondisi sosial yang sebenarnya, bukan kesadaran yang terdistorsi oleh ideologi, dogma, atau utopia.

Di saat banyak pejabat memilih aman dengan bahasa seragam, Purbaya tampil sebagai antitesis: jujur, kalkulatif, dan berani menanggung konsekuensi dari pernyataannya sendiri. Gaya ini mengingatkan pada apa yang disebut Jürgen Habermas sebagai tindakan komunikatif: komunikasi yang bertujuan mencapai pemahaman bersama (mutual understanding), bukan sekadar memanipulasi opini publik. Ketika publik merasakan koherensi antara kata dan kebijakan, muncul optimisme baru bahwa pemerintah mampu berbicara seperti manusia biasa, bukan sekadar institusi yang dingin dan formal.

Namun efektivitas gaya seperti ini tetap bergantung pada konteks dan kontinuitas. Autentisitas yang hanya episodik akan mudah ditafsirkan sebagai teatrikal. Oleh karena itu, tantangan terbesar Purbaya bukan sekadar mempertahankan ketegasan, melainkan menjaga konsistensi kepercayaan, bahwa setiap pernyataan publik selaras dengan arah kebijakan dan hasilnya di lapangan. Kepercayaan publik, sebagaimana diingatkan Fukuyama (1995) dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, dibangun bukan oleh retorika, melainkan oleh konsistensi perilaku institusional.

Gaya komunikasi yang “koboi”, jika disertai transparansi dan kejujuran intelektual, justru bisa menjadi energi baru bagi birokrasi ekonomi Indonesia. Dalam masyarakat yang terlalu lama dijejali eufemisme politik, keberanian berkata apa adanya bisa memulihkan rasionalitas publik. Dalam arti ini, Purbaya bukan sekadar teknokrat. Hari ini ia sedang memperkenalkan etika baru dalam komunikasi kekuasaan: lugas tapi beralasan, kritis tapi bertanggung jawab, keras tapi jernih. Gaya seperti ini mungkin menimbulkan gesekan, tetapi justru di situlah perubahan sering lahir.

Opini ini sudah fimuat di harian Pikiran Rakyat, Selasa 21 Oktober 2025