
Laporan Dr. Judhistra Aria Utama, M.Si. (Laboratorium Bumi dan Antariksa – Program Studi Fisika FPMIPA UPI, Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya)
“Christopher Columbus pernah membohongi penduduk asli Jamaika, suku Arawak, agar membantu armada lautnya. Berbekal pengetahuan astronomi Gerhana Bulan Total (GBT) pada 29 Februari 1504, Columbus berhasil menakut-nakuti suku Arawak dengan kemarahan Dewa-dewa mereka. Bulan purnama yang terlihat berwarna merah darah dalam balutan umbra Bumi, membuat warga pribumi mau menyediakan perbekalan untuk penjelajahan samudera yang dilakukan Columbus.”
Pada 7 September 2025 yang akan datang, langit malam Indonesia akan kembali menjadi saksi dari peristiwa alam yang selalu mengundang rasa kagum meski berulang kali terjadi, yaitu Gerhana Bulan Total (GBT). Fenomena astronomi ini bukan hanya indah untuk disaksikan, tetapi juga mengandung banyak pelajaran berharga, baik dalam hal astronomi, pendidikan, maupun refleksi spiritual.
Berdasarkan perhitungan astronomis, sepanjang musim gerhana pada tahun 2025 ini hanya terjadwal 4 peristiwa gerhana. Keempat gerhana tersebut adalah Gerhana Bulan Total (GBT) 13 Maret, Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 29 Maret, GBT 7 September, dan ditutup dengan GMS 21 September. Masing-masing gerhana dicirikan dengan bilangan yang dikenal sebagai seri Saros. Fenomena GBT 7 September berada dalam rangkaian seri Saros 128. Seri Saros ini terdiri dari 71 gerhana, yang mencakup berbagai jenis gerhana Bulan (penumbra, sebagian, dan total). Berdasarkan catatan yang ada, gerhana Bulan sebelumnya yang juga berada dalam seri Saros 128 terjadi pada 28 Agustus 2007 silam (gerhana Bulan ke-40 dari 71 gerhana Bulan), sementara yang berikutnya adalah GBT 19 September 2043 (gerhana Bulan ke-42).
Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan terjadi nanti merupakan satu-satunya gerhana, sekaligus yang terakhir dapat diamati dari wilayah Indonesia sepanjang tahun ini. Fase total selalu disertai oleh fase pendahuluan, yaitu fase gerhana sebagian dan penumbra. Waktu-waktu kejadian setiap fase dalam GBT 7 September 2025 dan posisi Bulan di bola langit disarikan dalam Tabel 1. Kedudukan Bulan dari waktu ke waktu di dalam penumbra dan umbra Bumi ditunjukkan dalam Gambar 1.


Gambar 1. Visualisasi posisi Bulan di dalam penumbra dan umbra Bumi sejak awal hingga akhir gerhana. Durasi total GBT selama 5 jam 27 menit, sementara fase total (Bulan terperangkap umbra Bumi) berlangsung selama 1 jam 22 menit.
Mengenal Siklus Saros
Siklus gerhana disadari pertama kali oleh para pengamat langit Babilonia kuno sejak ribuan tahun silam, meski konsep ini kemudian lebih lanjut dikembangkan oleh astronom Yunani kuno, Hipparchus, yang hidup sekitar abad ke-2 SM. Hipparchus menyadari bahwa suatu gerhana yang terjadi dalam satu seri Saros yang sama (Saros berarti perulangan) akan memiliki posisi dan geometri yang sangat mirip dengan gerhana lainnya setelah periode waktu tertentu. Oleh karena itu, siklus Saros menjadi dasar penting dalam perhitungan gerhana.
Siklus Saros merupakan sebuah periode waktu yang digunakan untuk memprediksi gerhana, baik itu gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Durasi siklus ini sekitar 6585,3 hari (sekitar 18 tahun, 10 atau 11 hari), yang artinya, setelah satu siklus Saros ini, posisi relatif Matahari, Bumi, dan Bulan akan kembali ke keadaan yang (nyaris) sama, untuk menghasilkan gerhana dengan geometri yang serupa. Siklus ini memungkinkan para astronom untuk memprediksi gerhana yang akan datang dengan akurasi tinggi; tidak hanya tanggal dan waktu kejadian gerhana, tetapi juga durasinya.
Rincian jumlah total gerhana Bulan di dalam seri Saros 128 adalah sebagai berikut:
- 14 Gerhana Bulan Penumbra (GBP): Pada jenis gerhana ini, Bulan hanya melewati bayang-bayang terang Bumi (penumbra), sehingga perubahan kecerahan Bulan sangat minim dan sulit dikesani dengan mata telanjang oleh orang yang kurang terlatih. Jenis ini pertama kali terjadi pada 18 Juni 1304 dan yang terakhir kali pada 2 Agustus 2566 yang akan datang.
- 42 Gerhana Bulan Sebagian (GBS): Pada gerhana jenis ini, sebagian permukaan Bulan memasuki bayang-bayang gelap Bumi (umbra), yang mengakibatkan berkurangnya kecerahan sebagian permukaan Bulan. Gerhana sebagian ini adalah jenis yang paling umum. Gerhana pertama jenis ini dalam seri Saros 128 terjadi pada 2 September 1439, sementara yang terakhir kali pada 17 Mei 2440.
- 15 Gerhana Bulan Total (GBT): Gerhana Bulan Total (GBT) terjadi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayang-bayang gelap Bumi. Gerhana Bulan jenis ini memberikan pemandangan yang dramatis; Bulan akan tampak berwarna jingga, merah atau bahkan coklat gelap, akibat cahaya Matahari yang dipantulkan permukaan Bulan dibiaskan oleh atmosfer Bumi dan dipengaruhi pula oleh tingkat kekeruhan stratosfer planet kita. Gerhana total dalam Saros 128 terjadi 15 kali, dengan gerhana pada 7 September 2025 nanti menjadi salah satu di antaranya. Gerhana total dalam seri Saros 128 terjadi pertama kali pada 21 Mei 1845 dan yang terakhir pada 21 Oktober 2097.
Dengan total terdapat 71 gerhana Bulan di dalam seri Saros 128 ini dan antargerhana terjeda oleh waktu selama 18 tahun, artinya, untuk menuntaskan seluruh agenda gerhana Bulan diperlukan waktu selama hampir 13 abad!
Gerhana Bulan dan Pembelajaran Berbasis Fenomena Alam
Sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah literatur (lihat misalnya, Schaffar & Wolff (2024)), phenomenon-based learning (PhBL) bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dengan cara melihat fenomena dari berbagai perspektif yang berbeda. Di Finlandia, pendekatan ini telah diterapkan dalam kurikulum pendidikan dasar, di mana siswa diajak untuk memahami berbagai fenomena alam melalui perspektif lintas disiplin. Pendekatan ini menantang siswa untuk tidak hanya menguasai pengetahuan teoretis, tetapi juga menghubungkannya dengan masalah dunia nyata yang kompleks, seperti perubahan iklim dan keberlanjutan. Model PhBL sesuai untuk diimplementasikan dalam konteks fenomena astronomi seperti gerhana Bulan karena memungkinkan siswa/mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari teori di balik fenomena alamnya, melainkan juga terlibat langsung dalam akuisisi data nyata melalui kegiatan pengamatan sebagaimana yang dilakukan astronom profesional.
Di dalam domain astronomi, alamlah yang “bereksperimen”, sementara kita dalam posisi sebagai pengamat aktif. Salah satu aspek menarik dari gerhana Bulan adalah kedudukannya sebagai eksperimen alam yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur jarak Bumi dan Bulan; bentangan jarak yang tidak mungkin ditentukan menggunakan alat ukur konvensional. Pada saat terjadi gerhana Bulan, posisi satu-satunya satelit alamiah Bumi ini berada di dalam bayang-bayang Bumi (penumbra/umbra). Dengan menggunakan pengetahuan geometri serta citra digital yang diperoleh dari pengamatan, kita dapat menghitung jarak faktual antara Bumi dan Bulan pada saat gerhana terjadi.
Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Utama dkk. (2018) dalam artikel berjudul Umbra Bumi dan Jarak Bumi-Bulan dalam Peristiwa Gerhana Bulan Total 31 Januari & 28 Juli 2018 (tersedia melalui tautan berikut: https://proceedings.upi.edu/index.php/sinafi/article/view/405/393), mereka berhasil menghitung jarak Bumi-Bulan dengan akurasi yang sangat mengesankan. Hasil pengukuran jarak Bumi-Bulan dalam kedua peristiwa GBT (31 Januari dan 28 Juli 2018) yang berhasil mereka amati dan rekam momennya, memiliki kesalahan kurang dari 10% bila dibandingkan dengan nilai jarak faktual Bumi-Bulan. Hasil yang mereka peroleh menunjukkan bahwa meskipun menggunakan alat sederhana, seperti teleskop dan kamera digital, ditunjang dengan pengetahuan terkait geometri, jarak Bumi – Bulan dapat ditentukan dengan ketidakpastian kurang dari 10%!
Penelitian lainnya oleh Utama dkk. (2021, tersedia melalui tautan berikut: https://proceedings.upi.edu/index.php/sinafi/article/view/1854/1655) yang juga memanfaatkan hasil pengamatan GBT pada 26 Mei 2021, menyertakan partisipasi aktif dari para pengamat gerhana yang tersebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi. Total berhasil terkumpul 264 data pengamatan yang dilaporkan dari masing-masing lokasi melalui formulir elektronik (GoogleForm) yang telah dipersiapkan. Model crowdsourcing ini bertujuan untuk memperoleh informasi warna Bulan (direpresentasikan oleh nilai skala Danjon) dan magnitudo visual Bulan pada saat fase total mencapai maksimum. Warna Bulan yang teramati saat mengalami gerhana, dapat menjadi indikator bagi tingkat kekeruhan lapisan stratosfer yang menyelimuti Bumi.
Refleksi Spiritualitas
Berkesempatan menyaksikan peristiwa alam GBT yang memesona, kita tidak sekadar memanfaatkan fenomena tersebut untuk belajar ilmu pengetahuan dan memperdalam pemahaman kita tentang alam semesta. Gerhana yang terjadi juga mengundang kita untuk merenungkan betapa besar dan agungnya Tuhan sang pencipta alam raya ini. Dapat kita bayangkan, apa efek yang akan timbul bagi kehidupan di Bumi bila kenyamanan yang kita rasakan selama ini akibat keteraturan yang pergerakan benda-benda langit mendadak terganggu. Bumi berhenti berotasi dan Bulan pun urung berrevolusi. Sebagai manusia, kita dianugerahi kemampuan untuk memahami sebagian kecil dari alam semesta yang luas ini, sebuah kesempatan yang seharusnya mengarahkan kita pada rasa syukur dan kekaguman yang mendalam terhadap kekuasaan-Nya. Pendidikan adalah proses yang tidak hanya membawa kita pada pengetahuan, tetapi juga pada penggalian makna yang lebih mendalam tentang tempat kita di dunia ini, serta cara kita dapat berkontribusi untuk menjaga dan memahami Bumi sebagai rumah bersama yang telah Tuhan titipkan.
Kontributor: Judhistra Aria Utama

