Bandung, UPI

Di antara sorak-sorai mahasiswa baru, teriakan panitia yang memobilisasi, derap langkah barisan, serta gemuruh yel-yel yang menggema di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia, ada sekelompok anak muda yang bekerja dan cepat tanggap dalam mengelola timbulan sampah. Mereka bukan panitia acara, bukan pula peserta orientasi, melainkan Waste Ranger, pasukan hijau yang mengawal kelestarian lingkungan di tengah gegap gempita MOKAKU UPI 2025.

Berbekal sarung tangan, kantong sampah terpilah, hingga senyum ramah, para Waste Rangers tampak sigap di setiap pintu masuk Gymnasium mempersilakan para mahasiswa baru membuang sampah sesuai jenisnya. Sesekali mereka mengedukasi mahasiswa baru yang hendak membuang sampah, mengarahkan tangan ke kotak bertanda “organic, botol plastic, kertas, dan non-kertas serta residu”. Interaksi singkat itu sering kali diiringi tawa kecil, seolah mengajarkan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dengan langkah sederhana—meletakkan sampah pada tempatnya.

“Ribuan mahasiswa baru hadir, otomatis volume sampah pun meningkat. Kami ada di sini untuk memastikan sampah tidak menumpuk sembarangan,” ujar Kaka Satria Pratama  seorang Koordinator Waste Ranger sambil merapikan tumpukan sampah terpilah.

Tugas mereka bukan perkara mudah. Di tengah panas matahari siang dan padatnya kerumunan, para Waste Rangers harus lincah memilah, mengangkut, sekaligus mengedukasi. Namun di balik peluh yang bercucuran, tersimpan rasa bangga. Mereka sadar, keberadaannya bukan sekadar menjaga kebersihan, tetapi juga mewujudkan semangat Green Campus yang sudah lama digaungkan UPI.

Di sela-sela acara, pemandangan menarik pun kerap terjadi. Mahasiswa baru yang awalnya bingung tentang kategori sampah, lama-lama terbiasa mengikuti arahan. Beberapa bahkan terlihat antusias membantu, seolah ikut menjadi bagian dari tim kecil penjaga bumi itu. Tidak hanya mahasiswa baru, panitia MOKAKu 2025 pun beberapa ikut serta membereskan dan mengkurasi ulang tumpukan sampah di area pintu keluar dan pintu masuk Gymnasium.

MOKAKU UPI 2025 memang menjadi momentum penting peralihan status mahasiswa baru, tetapi bagi Waste Rangers, ajang ini adalah ruang edukasi publik. Bahwa orientasi bukan hanya soal adaptasi akademik dan sosial, melainkan juga tentang membangun kesadaran ekologis sejak hari pertama menjejak kampus. Mereka mungkin tidak berdiri di panggung utama, tidak pula terdengar dalam orasi resmi. Namun kehadiran Waste Rangers menjadi bukti nyata bahwa kepahlawanan bisa lahir dalam senyap. Di balik riuhnya perkenalan mahasiswa baru, merekalah penjaga keseimbangan lingkungan—pahlawan kecil yang membuat kampus tetap nyaman, bersih, dan lestari. (Retno)