Bandung, UPI

Di balik keberhasilan seorang mahasiswa menjadi lulusan terbaik, selalu ada perjuangan panjang, disiplin, dan pengorbanan yang tidak terlihat. Hal itulah yang tercermin dari sosok Sandy Sanjaya, mahasiswa Program Studi S1 Bisnis Digital yang berhasil meraih predikat lulusan terbaik pada Wisuda Gelombang 2 Tahun 2026 di gedung Gymnasium UPI. Minggu (10/5), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hampir sempurna, yakni 3,99.

Pencapaian tersebut ternyata datang di luar dugaan Sandy. Ia mengaku tidak pernah secara khusus menargetkan diri menjadi lulusan terbaik sejak awal kuliah. Baginya, yang terpenting adalah selalu melakukan yang terbaik dalam setiap proses perkuliahan.

“Sebenernya nggak kepikiran jadi lulusan terbaik. Aku cuma berusaha melakukan yang terbaik aja selama kuliah,” ungkapnya.

Kabar dirinya menjadi lulusan terbaik baru ia terima beberapa hari sebelum prosesi wisuda berlangsung. Meski terkejut, Sandy merasa sangat bahagia dan bersyukur atas pencapaian tersebut, terutama karena dapat membanggakan keluarga yang selalu mendukung perjuangannya selama kuliah.

Bagi Sandy, keberhasilan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan langkah awal untuk mencapai mimpi yang lebih besar di masa depan. Ia percaya bahwa prestasi yang diraih hari ini harus menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.

Selama menjalani perkuliahan, Sandy dikenal sebagai mahasiswa yang disiplin dan aktif. Ia meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele justru memiliki pengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang. Datang tepat waktu, duduk di bangku paling depan, aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan dosen menjadi kebiasaan yang selalu ia terapkan.

Menurutnya, konsistensi dalam menjalani kebiasaan positif mampu membentuk karakter sekaligus membuka peluang untuk berkembang lebih jauh. Selain rajin mengulas materi perkuliahan, Sandy juga aktif mengeksplorasi pengetahuan di luar kelas, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana belajar.

Namun, ia menegaskan bahwa teknologi harus digunakan secara bijak. Informasi yang diperoleh tetap perlu divalidasi melalui jurnal dan sumber terpercaya agar tidak menimbulkan kesalahan pemahaman.

Perjalanan kuliahnya tentu tidak selalu mudah. Sandy mengaku cukup aktif dalam berbagai kegiatan non-akademik selama menjadi mahasiswa. Ia harus pintar membagi waktu antara organisasi, pengabdian masyarakat, dan tanggung jawab akademik. Bahkan, tidak jarang ia harus mengulas materi kuliah hingga larut malam demi menjaga performa akademiknya.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika dipercaya menjadi ketua organisasi mahasiswa. Dari pengalaman tersebut, ia belajar banyak tentang kepemimpinan, kerja sama tim, hingga bagaimana memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Di situ aku belajar banyak. Ternyata masyarakat sangat membutuhkan dukungan mahasiswa dan kampus,” tuturnya.

Di balik semua pencapaian itu, Sandy mengaku memiliki motivasi kuat yang selalu membuatnya bangkit ketika merasa lelah atau burnout. Ia terus mengingat tujuan dan mimpi yang ingin dicapai. Perjuangannya merantau jauh dari Tangerang demi menempuh pendidikan menjadi pengingat bahwa ia tidak boleh menyerah di tengah jalan.

Baginya, setiap rasa lelah akan terbayar ketika seseorang tetap konsisten berjalan menuju tujuan hidupnya.

Menutup kisahnya, Sandy menyampaikan harapan besar untuk almamater tercinta, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ia berharap UPI dapat terus berkembang dan menjadi universitas terbaik di Indonesia karena menurutnya kampus tersebut memiliki banyak talenta hebat dan tenaga pengajar berkualitas.

Kisah Sandy Sanjaya menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari target besar, tetapi dari konsistensi menjalani kebiasaan baik setiap hari. Disiplin, kerja keras, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci utama yang mengantarkannya meraih prestasi gemilang. (Varrel Zandra Putra)