
Dinn Wahyudin
Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
Malam 1 Muharam 1448 H turun perlahan di Dusun Sudimampir. Angin berembus lembut melewati hamparan sawah, rumpun bambu dan pepohonan yang mengelilingi perkampungan. Cahaya lampu seadanya memancar dari sebuah Tajug (surau kecil) di ujung jalan kampung, menerangi wajah-wajah warga yang datang dengan langkah tenang dan hati yang teduh.
Tidak ada pesta, tidak ada petasan. Tidak ada pula panggung kemeriahan. Sayup sayup hanyalah terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, suara salam yang lirih, dan sapaan hangat antarwarga yang sudah seperti keluarga sendiri. Di tajug itulah dahulu kami diajari mengaji, mengeja huruf-huruf hijaiyah dengan terbata-bata, mendengarkan kisah para nabi, dan mengenal makna kebersamaan.
Malam pergantian Tahun Baru Islam terasa begitu dekat, sederhana, dan menyentuh hati.
Di dalam tajug, para orang tua duduk bersila di atas tikar yang telah usang dimakan waktu. Anak-anak duduk di samping mereka, sesekali memperhatikan wajah ustadz yang bersiap memberikan tausiah. Suasana hening, namun penuh kehangatan. Setiap orang tampak larut dalam renungannya masing-masing. Ada yang mengenang nikmat kesehatan yang masih diberikan Allah. Ada yang bersyukur karena berhasil melewati berbagai kesulitan hidup. Dan ada pula yang dengah penuh khusuk melantunkan doa untuk orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu berpulang.
Rasa syukur semakin terasa ketika ustadz mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan sekadar bertambahnya angka dalam kalender, melainkan bertambahnya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam kesederhanaan hidup kampung, warga menyadari bahwa masih bisa berkumpul di tajug kecil sebagai rumah ibadah, masih bisa mendengar azan berkumandang, masih bisa bersujud dan berdoa, merupakan nikmat yang tidak ternilai harganya. Segelas teh hangat, kesehatan keluarga, sawah yang masih bisa digarap, serta suasana kampung yang damai menjadi alasan untuk terus mengucapkan alhamdulillah.
Malam itu ustadz menyampaikan pesan yang sederhana tetapi menggetarkan hati.
“1 Muharam mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perubahan diri menuju keadaan yang lebih baik. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri’ (QS. Ar-Ra’d: 11). Karena itu, setiap datang Tahun Baru Hijriah, kita diajak untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari rasa putus asa menuju harapan yang lebih kuat kepada Allah.” Perubahan tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Ia bisa dimulai dari hati yang lebih ikhlas, salat yang lebih khusyuk, lisan yang lebih terjaga, serta kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. “Hijrah,” kata ustadz, “adalah keberanian untuk berubah, meskipun pelan-pelan, tetapi terus berjalan menuju ridha Allah.”
Ustadz kemudian melanjutkan dengan sebuah hadis Rasulullah SAW: “Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari). “Kalau kita belum mampu melakukan hal-hal besar,” katanya, “mulailah dengan hijrah yang paling dekat: memperbaiki salat, menjaga lisan, menghormati orang tua, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak amal kebaikan.” Jamaah mendengarkan dengan kepala tertunduk. Beberapa mata terlihat berkaca-kaca. Mereka sedang berbicara dengan hati masing-masing, menimbang perjalanan hidup yang telah dilalui dan harapan yang ingin diraih pada tahun yang baru.
Ketika doa bersama dipanjatkan, suasana haru menyelimuti tajug kecil itu. Suara “Amiin” terdengar lirih namun penuh keyakinan. Setiap orang membawa harapan memohon ampun atas kekhilafan. Memohon kesehatan bagi keluarga. Memohon rezeki yang berkah, dan memohon kekuatan untuk menjalani hari-hari yang akan datang dengan lebih baik.
Malam semakin larut. Satu per satu warga meninggalkan tajug dan berjalan pulang menyusuri jalan kampung yang temaram. Tajug kembali sunyi, tetapi kehangatan kebersamaan masih tertinggal di dalam dada. Tahun Baru Islam 1448 Hijriah disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan rasa syukur, persaudaraan, dan harapan yang tulus.
Di tajug kecil dusun Sudimampir itu, setiap orang pulang membawa tekad yang sama: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih dekat kepada Allah. Sebab hijriah yang sesungguhnya bukanlah perjalanan kaki menuju tempat yang jauh, melainkan perjalanan hati menuju ridha-Nya

