Jakarta, UPI

Sebagai kelanjutan dari keikutsertaannya dalam SDG Certified Leadership Program Angkatan VIII yang diselenggarakan SDG Academy Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas RI, Dr. Arvian Triantoro, S.Pd., M.Si., dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Direktur Pelaksana Pegasus Institute dan Ketua SDGs Centre UPI, kembali ditugaskan mengikuti rangkaian Lokakarya SDG Certified Leadership Program.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis–Jumat, 27–28 Agustus 2026 di Hotel Aloft, Ruang Tactic 6-8, Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 92, Jakarta Pusat ini merupakan kelanjutan dari Lokakarya 1 (Fondasi dan Perancangan Capstone) yang sebelumnya telah diikuti pada 12–13 Agustus 2026 di Ruang BSM, Kementerian PPN/Bappenas. Kegiatan dihadiri oleh 50 peserta program dengan brackground yang beragam meliputi akademisi, praktisi professional, NGO, swasta dan perwakilan pemerintah.

Dalam lokakarya tersebut, Dr. Arvian mematangkan Capstone Project berjudul “Dari Piloting ke Prototipe: Playbook Graduasi Kemiskinan Desa Cibeureum Kulon sebagai Model Replikasi untuk Program Sumedang Tuntas”.

Capstone Project ini menyasar keluarga Desil 1–4 DTSEN di Desa Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang — mencakup sekitar 150 keluarga yang terdata oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) — dengan target tidak langsung berupa replikasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang serta potensi jangkauan hingga 1.500 KK per tahun pada skala program Sumedang Tuntas.

Analisis yang dikembangkan mengungkap bahwa skema Kelompok Usaha Bersama (KUBE) konvensional selama ini hanya mencatatkan tingkat keberhasilan 29–30% (Riset UNPAS 2019 dan Asesmen Dinas Sosial Jawa Barat 2022), dengan lima masalah struktural utama: bantuan bersifat kelompok bukan individual, rasio pendampingan yang tidak memadai, absennya kriteria graduasi terukur, minimnya integrasi data antar-instansi (Dinsos, Puskesos, Desa), serta ketiadaan pendekatan intervensi berbasis fase (sequencing).

Sebagai solusi, Capstone Project ini mengusung pendekatan graduation approach berbasis bukti (evidence-based) hasil adaptasi metodologi Ultra-Poor Graduation Initiative (UPGI) dari BRAC International — yang telah tervalidasi melalui 27 Randomized Controlled Trials di lebih dari 20 negara dengan tingkat keberhasilan 75–93%. Model ini diproyeksikan mampu meningkatkan tingkat keberhasilan graduasi dari 30% menjadi 80%, serta menekan angka kemiskinan Kabupaten Sumedang hingga 6,28% pada 2029.

Capstone Project ini dirancang melibatkan sejumlah mitra kunci, yakni Bapperida Kabupaten Sumedang dan Dinas Sosial Kabupaten Sumedang sebagai pemegang kebijakan dan anggaran, BRAC International sebagai penyedia pendampingan teknis dan metodologi, Pegasus Institute FPEB UPI sebagai pengarah riset dan strategi, serta Puskesos Desa Cibeureum Kulon dan Kecamatan Cimalaka sebagai pelaksana di tingkat lapangan.

Sebagai langkah awal, tim menargetkan audiensi serta penyerahan Nota Kebijakan Ringkas (4–6 halaman) dan Playbook Graduasi kepada Bapperida dan Dinas Sosial Kabupaten Sumedang melalui forum Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) pada periode September–Oktober 2026, bersamaan dengan masa Mentoring dan Lokakarya 2 program.

Empat luaran utama yang ditargetkan dari Capstone Project ini meliputi Playbook Graduasi Cibeureum Kulon, Nota Kebijakan Sumedang Tuntas. Keberlanjutan langkah Dr. Arvian Triantoro dalam SDG Certified Leadership Program ini menegaskan konsistensi kontribusi UPI—melalui FPEB, SDGs Centre UPI, dan Pegasus Institute—dalam mendorong penanggulangan kemiskinan berbasis bukti yang dapat direplikasi lintas daerah, sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor antara akademisi, pemerintah daerah, dan lembaga pembangunan internasional. Setidaknya terdapat 4 Goals SDGs yang bisa berdampak meliputi Goals 1 ( tanpa kemiskinan), Goals 4 ( Pendidikan yang berkualitas), Goals 10 ( berkurangnya kesenjangan ) dan Goals 17 ( kemitraan global). (DN)