
YOGYAKARTA – Menjawab tantangan global terkait kecemasan berbicara di depan umum, Tim Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Kajian Bahasa dan Budaya dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar sebuah lokakarya intensif bertajuk “Influence and Inspire: Pelatihan Public Speaking untuk Pengembangan Diri Mahasiswa”. Kegiatan ini dirancang secara strategis untuk menjembatani kesenjangan antara tuntutan kemampuan komunikasi di dunia akademik dan profesional dengan keterampilan yang dimiliki mahasiswa saat ini.
Permasalahan yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah isu fundamental yang dihadapi banyak mahasiswa: kurangnya rasa percaya diri, kesulitan dalam menyusun argumen yang logis, dan ketidakmampuan mengelola kecemasan saat tampil di hadapan audiens. Menyadari bahwa isu ini telah menjadi fenomena global, pelatihan ini hadir sebagai solusi proaktif untuk memberdayakan mahasiswa dengan salah satu keahlian terpenting di abad ke-21.
Pelatihan yang diselenggarakan dalam format one-day workshop ini berlangsung secara tatap muka (luring) pada hari Kamis, tanggal 14 Agustus 2025. Lokakarya ini berhasil menarik minat 21 mahasiswa dari tingkat awal hingga tingkat akhir dari berbagai program studi yang semuanya hadir dan berpartisipasi aktif hingga akhir sesi. Untuk mengukur dampak pelatihan secara efektif, para peserta diminta mengisi angket pra-pelatihan (pre-training questionnaire) sehari sebelum acara dan angket pasca-pelatihan (post-training questionnaire) di akhir sesi.

Tiga Sesi Terstruktur untuk Hasil Maksimal
Lokakarya dibagi menjadi tiga sesi utama yang saling membangun, masing-masing dirancang untuk mengembangkan keterampilan peserta secara holistik.
- Sesi 1: Building A Positive Public Speaking Mindset
Sesi pembuka ini berfokus pada pembangunan fondasi mental yang kuat. Peserta diajak untuk mengenali dan mengatasi akar dari kecemasan mereka, serta mengubah pola pikir negatif menjadi positif terkait berbicara di depan umum.
- Sesi 2: Organizing What to Say
Setelah fondasi mental terbangun, sesi kedua berlanjut ke aspek teknis, yakni bagaimana menyusun materi pembicaraan10. Peserta belajar cara merancang argumen yang logis, membuat kerangka pidato yang koheren, dan menyajikan ide secara terstruktur agar mudah dipahami.
- Sesi 3: Keys to Understandable and Influential Talks
Sesi terakhir mengupas tuntas kunci-kunci untuk menjadi pembicara yang tidak hanya mudah dimengerti, tetapi juga berpengaruh. Materi mencakup teknik vokal, bahasa tubuh, dan cara berinteraksi dengan audiens untuk menciptakan dampak yang mendalam.
Seluruh rangkaian acara dipandu oleh tim program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis Kepakaran Bidang Ilmu, Prodi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia, yang diketuai oleh Riesky, M.Ed., Isti Siti Saleha Gandana, Ph.D., dan Ernie D. Ayu Imperiani, M.Ed., dan Prof. Ahmad Bukhori Muslim, Ph.D.
Link YouTube untuk kegiatan ini:

Membentuk SDM Unggul Melalui Keterampilan Komunikasi (SDG 4) dan Meningkatkan Kolaborasi Internasional (SDG17)
Manfaat dari pelatihan ini jauh melampaui sekadar kemampuan berbicara di panggung; kegiatan ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) dan nomor 17 (Kolaborasi Internasional)Pendidikan berkualitas tidak hanya bertujuan mencetak lulusan dengan pemahaman teoretis, tetapi juga individu yang mampu mengartikulasikan ide dan pengetahuannya dengan jelas dan persuasif. Selain itu, pelatihan ini juga dapat meningkatkan ketrampilan berkomunikasi baik di tingkat nasional mupun internasional.
Dengan menguasai public speaking, mahasiswa memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan, terutama dalam menghadapi wawancara kerja dan melakukan presentasi profesional. Kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif meningkatkan kepercayaan diri mereka, yang merupakan alat pemberdayaan diri (empowerment) paling fundamental. Ini sejalan dengan target SDG 4 untuk memastikan bahwa semua pelajar memperoleh keterampilan yang relevan untuk pekerjaan yang layak dan kewirausahaan. Lebih jauh lagi, keterampilan ini adalah pilar dari pembelajaran sepanjang hayat. Mahasiswa yang percaya diri dalam menyuarakan pendapatnya cenderung lebih aktif dalam diskusi akademik, lebih berani dalam mengambil peran kepemimpinan, dan lebih siap untuk berkolaborasi dan menjadi agen perubahan di masyarakat, sejalan dengan target SDG 17. Dengan demikian, lokakarya “Influence and Inspire” tidak hanya melatih mahasiswa untuk berbicara, tetapi juga membentuk mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kritis, dan siap berkontribusi secara signifikan di tingkat lokal maupun global.
Oleh: Ernie D. A. Imperiani dan Isti Siti Saleha Gandana

