Bandung, UPI

Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi sosial dan rendahnya empati lintas budaya, sebuah inovasi pembelajaran berbasis teknologi lahir dari ruang akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Restu Adi Nugraha resmi meraih gelar doktor di bidang Pendidikan Umum dan Karakter melalui disertasi yang mengintegrasikan Augmented Reality (AR) untuk memperkuat karakter kebinekaan global pelajar.

Penelitian berjudul “Penguatan Karakter Kebinekaan Global Pelajar Indonesia melalui Penggunaan Augmented Reality Berbasis Project Citizen” ini hadir sebagai solusi konkret atas dua masalah besar pendidikan nasional: maraknya eksklusivisme di sekolah dan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan hasil PISA.

Restu mengungkapkan bahwa selama ini terdapat jarak antara nilai kebinekaan yang diamanatkan Pancasila dengan praktik sosial sehari-hari di sekolah. Terlebih, mayoritas pelajar Indonesia masih berada pada kategori Lower Order Thinking Skills (LOTS).

“Secara normatif, fondasi kebijakan kita sudah kuat melalui Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025. Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan nilai tersebut dalam pengalaman belajar yang nyata,” ujar Restu saat memaparkan disertasinya di hadapan tim penguji.

Inovasi ini menggabungkan tiga elemen kunci, Global Citizenship Education (GCED): Wawasan kewargaan global. Project Citizen: Pendekatan aksi nyata untuk memecahkan masalah publik. Augmented Reality (AR): Jembatan visual digital untuk menarik minat generasi digital native.

Berbeda dengan teknologi Virtual Reality (VR) atau Metaverse yang membutuhkan perangkat mahal, model AR yang dikembangkan Restu cukup menggunakan smartphone milik siswa.

Siswa cukup memindai buku atau lembar kerja untuk memunculkan video isu global, avatar pemandu, hingga fitur diskusi berbasis chatbot. Setelah itu, siswa ditantang melakukan riset, mencari data, dan menyusun solusi kebijakan yang dipresentasikan dalam sebuah showcase.

“Tantangan kita bukan pada akses teknologi, tetapi bagaimana teknologi diarahkan untuk memperkuat karakter, bukan sekadar hiburan,” tegasnya.

Keaslian dan urgensi riset ini turut diakui secara internasional. Sidang disertasi ini menghadirkan penguji luar negeri dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, Profesor Madya Dr. Nadarajan A/L Thambu, yang memberikan perspektif komparatif terhadap kontribusi riset tersebut bagi pendidikan di kawasan regional.

Melalui model yang reflektif dan partisipatif ini, siswa didorong untuk keluar dari pola hafalan menuju kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS).

Ke depan, pengembangan model ini dirancang untuk berkolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) agar inovasi ini tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika dunia global. (DN)