Bandung, UPI

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2025 melakukan observasi lapangan untuk mendalami psikologi perkembangan anak secara langsung. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak I yang menerapkan metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.

Alih-alih hanya terpaku pada buku teks di ruang kelas, para calon pendidik ini diterjunkan ke berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, Raudhatul Athfal (RA), hingga sekolah dasar (SD) tingkat awal. Tujuannya adalah untuk mengaitkan teori perkembangan dengan realitas dinamika anak di lapangan.

Berdasarkan hasil observasi, mahasiswa mencatat bahwa setiap anak memiliki potensi perkembangan yang sangat beragam, baik dari aspek sosial, emosional, maupun kognitif. Di jenjang PAUD dan RA, para guru terpantau menggunakan pendekatan responsif untuk menangani perbedaan karakter tersebut.

Beberapa strategi yang menonjol di lapangan meliputi Pembiasaan Rutinitas: Menanamkan disiplin melalui jadwal harian yang konsisten. Instruksi Bertahap: Memudahkan anak memahami tugas yang kompleks. Pendekatan Emosional: Membangun kedekatan hangat antara guru dan anak untuk menciptakan rasa aman. Penguatan Nilai Moral: Integrasi doa dan praktik ibadah sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

Observasi juga diperluas ke jenjang sekolah dasar kelas awal untuk melihat kesinambungan perkembangan. Mahasiswa menemukan adanya variasi partisipasi siswa yang signifikan; sebagian siswa tampil sangat percaya diri, sementara lainnya membutuhkan dorongan ekstra untuk berani berpendapat.

“Interaksi guru yang hangat dan metode pembelajaran yang aktif terbukti meningkatkan partisipasi siswa. Sebaliknya, metode yang kurang bervariasi cenderung menurunkan fokus dan motivasi belajar anak,” lapor mahasiswa dalam diskusi reflektif pasca-observasi.

Selain penguatan kompetensi individu, kegiatan ini merupakan langkah nyata UPI dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyiapan guru yang kompeten, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penciptaan iklim kelas yang inklusif dan aman.

Sebagai rekomendasi, tim mahasiswa mendorong penguatan pembelajaran berdiferensiasi yang lebih peka terhadap kebutuhan unik setiap anak. Pengelolaan kelas yang mendukung rasa aman dianggap sebagai kunci utama agar seluruh anak dapat berpartisipasi tanpa rasa takut.

Melalui program ini, UPI menegaskan komitmennya untuk mencetak pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan profesionalisme dalam mengawal tumbuh kembang generasi masa depan. (DN)