
Bandung, UPI
Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Paten tersebut diberikan atas invensi alat ukur suhu larutan inovatif yang memanfaatkan perubahan medan magnet.
Karya yang diberi nomor paten IDS000013350 ini resmi mendapatkan perlindungan hukum selama 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan 17 Oktober 2024. Menariknya, produk teknologi ini lahir dari tugas akhir mata kuliah Listrik Magnet yang dirancang berbasis proyek (project-based learning).
Tim mahasiswa di balik inovasi ini terdiri dari Deriel, Aisha Mulia Fazrani, Alya Alifah, Hilda Adinda, Ishma Firdausi, dan Syifa Callista. Mereka mengembangkan alat tersebut di bawah bimbingan intensif dosen pengampu, Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si.
Keberhasilan meraih paten ini tidak lepas dari standar tinggi yang diterapkan dalam mata kuliah Listrik Magnet. Nilai akhir mahasiswa ditentukan dari kombinasi 60 persen tes kognitif dan 40 persen proyek kelompok.
Untuk mendapatkan nilai sempurna (100) pada aspek proyek, mahasiswa ditantang memenuhi kriteria berat: produk harus terjual di atas harga dasar, memenangkan medali minimal perak di lomba invensi nasional/internasional, atau berhasil diajukan sebagai paten sederhana.
“Pada awalnya, mahasiswa sempat kebingungan menentukan ide, memilih alat, dan memahami prinsip dasar fisikanya. Melalui bimbingan intensif, kami memberikan solusi desain, mengarahkan prinsip pengukuran yang benar, serta mendampingi proses penyusunan dokumen paten sesuai undang-undang,” ujar Dr. Selly Feranie dalam keterangannya.

Alat ukur suhu larutan berbasis perubahan medan magnet ini dinilai orisinal karena mengusung prinsip non-kontak. Artinya, sensor tidak menyentuh rentetan cairan secara langsung, sehingga dapat mencegah kontaminasi zat kimia sekaligus menjaga keawetan alat.
Secara teknis, alat ini bekerja dengan memanfaatkan fenomena magnetik, di mana sifat magnet batang akan berubah akibat variasi suhu larutan. Perubahan medan magnet tersebut kemudian ditangkap oleh Sensor Efek Hall untuk diubah menjadi sinyal listrik. Selanjutnya, mikrokontroler mengolah sinyal tersebut menggunakan persamaan kalibrasi linier guna menampilkan suhu secara real-time di layar LCD.
Tidak hanya canggih, alat ini memiliki akurasi tinggi hingga 0,1°C serta dirancang siap diintegrasikan dengan sistem data logger maupun teknologi Internet of Things (IoT).
Selain sukses meraih paten, invensi ini memiliki kegunaan ganda. Di dunia pendidikan, alat ini sangat potensial menjadi alat peraga laboratorium untuk menjelaskan hubungan linier antar-variabel fisika secara nyata kepada siswa atau mahasiswa.
Sementara di sektor industri, alat ini berpotensi besar menjadi alternatif alat ukur suhu untuk sistem pengolahan cairan yang membutuhkan presisi tinggi tanpa kontak langsung, seperti pada industri kimia, pangan, dan farmasi.
Capaian membanggakan dari mahasiswa Fisika UPI ini menjadi bukti nyata bahwa metode pembelajaran berbasis proyek mampu menghasilkan output konkret yang diakui negara serta siap memberikan solusi bagi kebutuhan industri. (DN)

