
Kabupaten Badung, UPI
Di tengah berbagai tantangan pendidikan abad ke-21, perubahan tidak lagi dapat digerakkan oleh satu institusi saja. Pemerintah dapat merumuskan kebijakan, namun keberhasilannya ditentukan oleh banyak tangan yang bekerja sama. Gagasan inilah yang mengemuka dalam QS Higher Ed. Summit Asia Pacific 2026, 3-5 November di Bali, salah satu forum pendidikan tinggi internasional terbesar di kawasan Asia Pasifik, yang mempertemukan pemangku kebijakan, pimpinan perguruan tinggi, dan pakar pendidikan dari berbagai negara untuk membahas ihwal masa depan pendidikan.
Dalam salah satu diskusi panel yang bertajuk “Building Resilient Education Ecosystems: Cross-Sector Partnerships for Purpose-Driven Reform”, turut hadir sebagai pembicara. Prof. Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. H. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Prof. Chuang Wang dari The Education University of Hong Kong (EdUHK), dengan moderator Dr. Ju Seong Lee dari EdUHK.
Dalam diskusi tersebut, UPI tampil bukan sekadar sebagai peserta forum internasional, melainkan sebagai mitra strategis dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Salah satu fokus pembahasan adalah kolaborasi antara UPI, EdUHK, dan pemerintah Indonesia dalam mendukung implementasi kebijakan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar, yang akan diperkuat melalui pembentukan pusat kolaborasi bersama (Joint Center) dengan dukungan mitra dari EdUHK dan kementrian terkait.
Menurut Prof. Didi Sukyadi, kemitraan yang bermakna tidak dibangun di atas seremoni atau dokumen semata. Kemitraan harus lahir dari kesamaan visi, manfaat bersama, kepercayaan, dan tanggung jawab yang dijalankan secara kolektif. Karena itu, kolaborasi UPI dengan EdUHK dirancang bukan sebagai kerja sama yang berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan langsung diwujudkan ke dalam program-program konkret yang dapat dirasakan dampaknya oleh dunia pendidikan.
Langkah nyata tersebut bahkan telah mulai dirintis pada tahun ini. Program awal yang disiapkan berfokus pada pelatihan dan pendampingan intensif bagi guru sekolah dasar dan menengah untuk memperkuat kompetensi bahasa Inggris mereka. Dalam inisiatif ini, UPI akan mengerahkan kapasitas akademiknya melalui pengembangan materi pembelajaran, pelatihan guru, penyusunan instrumen asesmen, pengembangan model pelatihan, serta penelitian dan evaluasi yang dapat diperluas ke berbagai daerah. Sementara itu, EdUHK akan memberikan dukungan dalam evaluasi hasil pelatihan berbasis kecerdasan artifisial, sedangkan pemerintah menyediakan dukungan kebijakan, materi pembelajaran, serta program pelatihan berskala nasional.
Lebih jauh, Prof. Didi Sukyadi menegaskan bahwa keberhasilan reformasi pendidikan pada akhirnya bertumpu pada guru dan pemimpin sekolah. Mereka tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga kompetensi, pendampingan berkelanjutan, dan kepercayaan untuk menjadi penggerak perubahan di ruang-ruang kelas. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar guru tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan transformasi pendidikan.
Di negara kepulauan dengan ribuan pulau dan keragaman konteks pendidikan seperti Indonesia, UPI juga menggarisbawahi pentingnya memperluas dampak, bukan sekadar menggandakan model yang sama di setiap daerah. Penguatan kapasitas guru, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan platform pembelajaran, serta jejaring dengan pemerintah daerah dan organisasi profesi menjadi bagian dari strategi agar manfaat reformasi pendidikan dapat menjangkau wilayah yang paling membutuhkan.
Dari forum di sudut kabupaten Badung ini, tercermin sebuah pesan jelas dari UPI bahwa Pendidikan yang kuat lahir dari kolaborasi yang erat. Ketika pemerintah menghadirkan arah, perguruan tinggi menyumbangkan keilmuan, dan mitra internasional berbagi pengalaman serta praktik baik, maka yang dibangun bukan sekadar sebuah program, melainkan sebuah ekosistem. Sebuah ruang tumbuh bersama yang memungkinkan setiap guru mengajar dengan lebih percaya diri, setiap sekolah bergerak lebih maju, dan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik. Di titik itulah kemitraan menemukan maknanya, bukan pada tanda tangan di atas kertas, melainkan pada perubahan yang benar-benar hadir di ruang kelas. (Vidi Sukmayadi)

