
Bandung, UPI
Pusat Unggulan Center for Excellence of Lesson and Learning Studies (CELLS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memamerkan inovasi berbasis kearifan lokal melalui booth EtnoSTEM In-Saintek pada ajang UPI Sustainable Development Expo & Seminar 2026. Pameran yang berlangsung di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI Bandung, pada 21–22 Oktober 2026 ini memberikan penghargaan untuk lima kategori booth terbaik.
Dalam ajang tersebut, CELLS UPI berhasil meraih penghargaan Best Sustainable Impact Booth. Lewat program EtnoSTEM Discovery Hub dari Kearifan Lokal Budaya Sunda yang bermitra dengan masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, CELLS UPI membuktikan bahwa budaya lokal dapat menjadi sarana edukatif untuk mempelajari sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Kategori yang diraih ini menyoroti dampak berkelanjutan program yang telah tumbuh bersama masyarakat Cireundeu sejak 2025.
Kehadiran booth ini menarik perhatian sejumlah tokoh penting yang hadir dan meninjau langsung lokasi. Di antaranya Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D.; tim pakar Program InSaintek, Dr. Anton Timur Jaelani, M.Si., beserta tim Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi; Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si.; serta Direktur Inovasi, Hilirisasi, dan Science Techno Park UPI, Dr. Lili Adi Wibowo, S.Sos., S.Pd., M.M., beserta jajaran.
Dalam peninjauannya, Prof. Najib Burhani mengapresiasi pendekatan EtnoSTEM yang dinilainya mampu mendekatkan sains pada persoalan praktis sehari-hari masyarakat.
Ketua Pelaksana sekaligus penerima Hibah Program InSaintek 2025 dan 2026, Lina Aviyanti, Ph.D., menyampaikan bahwa program didanai oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program tahun ini merupakan keberlanjutan dari kegiatan tahun 2025 yang saat itu telah melibatkan lebih dari 700 peserta dan 10 organisasi mitra.
“Kami berupaya mendekatkan sains kepada masyarakat melalui budaya yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal menjadi titik berangkat untuk mengenal dan mempelajari sains, teknologi, rekayasa, dan matematika,” ujar Lina.

Di dalam booth, pengunjung diajak menjelajahi sains berbasis budaya Sunda melalui tiga klaster utama diantaranya, klaster ketahanan pangan, rasi (beras singkong) menjadi pintu masuk diskusi tentang pangan lokal dan biologi. Pengunjung juga dapat mencicipi produk olahan rasi, yakni Trasmi (mi kering Rasi), Trascuit (biskuit tepung rasi), dan Trasbar (snack bar rasi). Ketiga prototipe tersebut lahir dari workshop ko-kreasi yang digelar CELLS UPI bersama ibu-ibu pelaku UMKM Cireundeu pada 19 Oktober 2026, hanya beberapa hari sebelum pameran.
Klaster eco-engineering menampilkan teknologi pengolahan sisa pertanian menjadi bata ampas singkong, serta kotak termal dari anyaman bambu yang memberi gambaran nyata tentang karakteristik material dan perpindahan kalor. Sementara itu, klaster musik tradisional mengajak pengunjung menjelajahi sains bunyi melalui celempung, karinding, dan angklung buncis. Getaran pada senar bambu, bilah karinding, dan tabung angklung menghasilkan bunyi dengan frekuensi tertentu, yang dapat diamati langsung melalui aplikasi penganalisis bunyi di ponsel. Dari situ, pengunjung dapat melihat bagaimana panjang tabung bambu memengaruhi tinggi rendahnya nada.
Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga dipersilakan mencoba memainkan alat musik tersebut. Sambil mencoba, mereka mendapat penjelasan dari tim CELLS UPI tentang sains di balik setiap bunyi: mengapa tabung angklung yang lebih pendek menghasilkan nada lebih tinggi, atau mengapa bunyi karinding berubah ketika rongga mulut dibentuk berbeda. Dari bambu yang dipukul, dipetik, dan digoyangkan, konsep fisika yang biasanya hanya ditemui di buku pelajaran menjadi sesuatu yang bisa didengar dan dirasakan langsung.
Selain didukung tim CELLS UPI serta dosen dan mahasiswa dari Prodi Pendidikan Biologi, Pendidikan Fisika, dan Fisika FPMIPA UPI, kegiatan diseminasi ini juga melibatkan pelajar secara langsung melalui pendekatan research-based learning. Pada hari kedua pameran, tiga siswa SMP Alfa Centauri mempresentasikan riset perbandingan durabilitas payung geulis inovasi dan tradisional dari aspek material serta teknik pemasangan kain.
Guru pendamping SMP Alfa Centauri, Tata Koswara, mengungkapkan bahwa perpaduan STEM dan budaya Sunda meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar sekaligus menumbuhkan kepedulian menjaga warisan budaya.

Suasana pameran semakin semarak dengan pertunjukan tari, karinding, dan angklung buncis dari tim kesenian Kampung Adat Cireundeu. CELLS UPI juga menggelar Talkshow Etno-STEM Budaya Sunda pada Kamis (22/10/2026) yang mengulas ketiga klaster program tersebut.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dan inovasi sains dapat berjalan beriringan. Setelah pameran ini, rangkaian program EtnoSTEM dijadwalkan berlanjut ke ajang Gebyar Adat Kampung Cireundeu di Ciwalk, Bandung, pada pertengahan November 2026, serta Buka Kelas Publik pada akhir November 2026. (DN)

