Jakarta, UPI

Keterbatasan guru khusus bahasa Inggris masih menjadi salah satu persoalan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar. Kondisi tersebut dialami SDN 196 Sukarasa, Kota Bandung, yang selama ini mengandalkan guru kelas untuk mengampu mata pelajaran bahasa Inggris.

Kepala SDN 196 Sukarasa, Ihat Solihat, mengatakan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di sekolahnya telah dilaksanakan untuk peserta didik kelas III hingga kelas VI. Namun, sekolah belum memiliki guru khusus dengan latar belakang pendidikan bahasa Inggris.

“Karena gurunya tidak spesifik bahasa Inggris, jadi hanya menerjemahkan dari buku,” ujarnya saat diwawancarai terkait keterlibatan sekolahnya dalam kerja sama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan The Education University of Hong Kong (EdUHK).

Menurut Ihat, kondisi tersebut berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Penguasaan kosakata menjadi salah satu hal yang selama ini lebih banyak diberikan kepada peserta didik, sementara kemampuan menggunakan bahasa Inggris secara mandiri masih perlu dikembangkan.

Ia juga melihat adanya perbedaan kemampuan bahasa Inggris antarpeserta didik. Sebagian anak yang memiliki kemampuan lebih baik, menurut pengamatannya, memperoleh dukungan tambahan dari keluarga atau mengikuti les di luar sekolah.

Ihat berharap kerja sama UPI dan EdUHK dapat memberikan kesempatan kepada guru-guru di sekolahnya untuk mengikuti pelatihan. Dengan peningkatan kompetensi pendidik, pembelajaran bahasa Inggris diharapkan dapat berlangsung lebih terarah dan sesuai kebutuhan peserta didik.

SDN 196 Sukarasa menjadi salah satu sekolah yang dilibatkan dalam penjajakan kerja sama tersebut. Ihat menjelaskan bahwa pihak sekolah telah mengikuti proses survei dan pertemuan awal, tetapi belum menerima rincian program lanjutan yang akan dilaksanakan.

Kerja sama UPI–EdUHK melalui Joint Centre for English Language Education and Leadership diluncurkan di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Pusat tersebut dirancang untuk menjalankan kegiatan penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, serta penelitian dan pengembangan pendidikan bahasa Inggris.

Keterlibatan sekolah dalam tahap awal pemetaan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pembelajaran di lapangan. Informasi tersebut menjadi salah satu bahan untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dan guru. (RK/RI)