
Bandung, UPI
Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dadang Sunendar, M.Hum., menyampaikan bahwa intensitas riset menjadi faktor utama dalam peningkatan jumlah Guru Besar di lingkungan UPI. Hal tersebut disampaikannya usai rangkaian Pengukuhan Guru Besar UPI yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026, di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Bandung.
Dalam rangkaian prosesi tersebut, UPI mengukuhkan 14 Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu. Pengukuhan ini menambah jumlah profesor aktif di lingkungan UPI menjadi 253 orang atau sekitar 15,6 persen dari total dosen yang ada. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang masih berada pada kisaran 2–3 persen.
Menurut Prof. Dadang, capaian tersebut tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang menuntut konsistensi akademik dan pengakuan keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.
“Perlu dipahami bahwa turunnya Surat Keputusan Guru Besar dari Menteri itu tidak mudah. Ada perjuangan dan perjalanan panjang dari seorang dosen untuk melakukan riset, menghasilkan karya ilmiah, serta temuan-temuan yang harus direkognisi secara nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar karya monumental para Guru Besar di UPI lahir dari proses penelitian yang konsisten melalui berbagai skema hibah, baik internal universitas maupun kompetisi nasional dan internasional.
“Kunci utamanya adalah intensitas riset. Karya-karya terbaik para guru besar ini dihasilkan melalui berbagai skema hibah, baik hibah internal UPI maupun hibah kompetisi nasional dan internasional,” katanya.
Selain menyoroti penguatan budaya riset, Prof. Dadang juga menilai regenerasi profesor di UPI berjalan secara dinamis. Hal tersebut terlihat dari munculnya profesor-profesor muda, termasuk Eka Cahya Prima yang dikukuhkan sebagai Guru Besar pada usia 35 tahun.
“Sekarang profil guru besar semakin merata; tidak selalu identik dengan usia tua. Kita bisa melihat sosok Prof. Eka Cahya Prima yang berhasil menjadi guru besar di usia 35 tahun. Ini menunjukkan bahwa regenerasi di UPI berjalan dengan baik dan dinamis,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Guru Besar UPI menyebut bahwa pengukuhan profesor tidak hanya menjadi capaian individu, tetapi juga bagian dari penguatan literasi publik dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat. Menurutnya, Guru Besar memiliki peran penting sebagai pemikir bangsa sekaligus penggerak perkembangan perguruan tinggi.
Saat ini, UPI juga memiliki 344 dosen dengan jabatan Lektor Kepala yang tengah didorong untuk melanjutkan jenjang akademik menuju Guru Besar. Dewan Guru Besar berharap rangkaian pengukuhan tahun ini dapat menjadi motivasi bagi dosen-dosen muda untuk terus aktif melakukan penelitian dan menghasilkan karya ilmiah yang berdampak. (RK/Rija/DN)

