
Bandung, UPI
Pakar Kajian Buku Teks Sejarah, Prof. Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jumat (8/5/2026).
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Rekonstruksi Narasi Sejarah dalam Buku Teks: Dari Hegemoni Naratif Menuju Historiografi Multiperspektif”, Prof. Wawan menyoroti pentingnya perubahan cara bangsa memahami masa lalu melalui buku teks sekolah.
Prof. Wawan menegaskan bahwa rekonstruksi narasi sejarah bukan hanya masalah teknis penyusunan materi ajar. Hal ini berkaitan erat dengan cara generasi muda membangun kesadaran historis dan bagaimana pengetahuan dilegitimasi dalam ruang pendidikan.
Menurutnya, sejarah seringkali hadir sebagai dogma atau hafalan kronologis yang kaku. Ia mendorong agar pendidikan sejarah bertransformasi menjadi ruang dialog dan proses reflektif untuk membentuk nalar kritis siswa.
“Buku teks sejarah dapat menjadi hegemonik apabila menutup kemungkinan perspektif alternatif. Padahal, buku teks memiliki potensi transformatif jika disusun secara inklusif,” ujar Prof. Wawan dalam orasinya.
Indonesia yang majemuk menjadi alasan utama mengapa pendekatan multiperspektif dalam buku teks sejarah sangat mendesak. Prof. Wawan menjelaskan bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh interaksi berbagai etnis, agama, dan bahasa yang kompleks.
Ia membantah anggapan bahwa keragaman narasi akan memecah persatuan. Sebaliknya, mengakui pluralitas pengalaman sejarah justru akan memperdalam makna persatuan itu sendiri.
“Identitas yang kokoh bukan dibangun di atas keseragaman narasi, melainkan identitas yang mampu berdialog dengan keragaman memori dan interpretasi,” tegasnya.
Sebagai akademisi, Prof. Wawan mengingatkan pentingnya integritas ilmiah dan metodologi yang ketat dalam merekonstruksi sejarah. Kritik terhadap narasi lama harus didasarkan pada riset yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar polemik tanpa dasar.
Ia menekankan tiga tanggung jawab utama dalam pendidikan sejarah Tanggung Jawab Akademis: Menjaga verifikasi sumber dan integritas ilmiah. Tanggung Jawab Moral: Menumbuhkan generasi yang mampu mengevaluasi argumen sejarah secara sadar. Tanggung Jawab Kolektif: Memastikan sejarah membangun kedewasaan dan empati, bukan kecurigaan atau polarisasi.
Menutup orasinya, Prof. Wawan berharap buku teks sejarah tidak lagi hanya menjadi instrumen transmisi pengetahuan, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa secara kritis dan bijaksana. (DN/Rija/RK)

