Bandung, 19 Mei 2025 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menjadi titik temu kolaborasi strategis dalam bidang pendidikan melalui penyelenggaraan Psychological Network and Lesson Study Workshop yang melibatkan Malaysia Educational Psychology Society (MEPS) dan berbagai unit di UPI. Kegiatan yang berlangsung selama satu hari penuh ini diawali dengan observasi pembelajaran langsung di Sekolah Dasar Alfa Centauri.

Tim dari Center for Excellence of Lesson and Learning Studies (CELLS) yang berada di bawah Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan UPI, bersama dengan perwakilan MEPS serta dosen dan mahasiswa Program Studi Psikologi UPI, melakukan pengamatan mendalam pada proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Olah Raga di kelas SD Alfa Centauri. Kepala sekolah dan guru-guru setempat menyambut antusias kehadiran tim dan menegaskan bahwa praktik observasi dan refleksi seperti ini sangat penting untuk membangkitkan motivasi belajar siswa sekaligus meningkatkan mutu pengajaran di kelas.

Beranjak dari kegiatan lapangan, acara berlanjut ke ruang meeting DIPUU UPI untuk pelaksanaan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama antara MEPS dan Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan UPI. Penandatanganan ini dilakukan langsung oleh Direktur DIPUU, Prof. Ida Kaniawati, S.Pd., M.Si., bersama Ketua MEPS, Teow Chean Khai, sebagai wujud komitmen kuat kedua institusi untuk bersama-sama mengembangkan riset dan inovasi pendidikan yang berdampak luas. MoA ini diharapkan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan pengembangan kapasitas akademik di kedua negara.

Tidak berhenti di situ, diskusi intensif dengan tema Slow Looking in Classroom Dialogues dipimpin oleh Ketua Unit CELLS, Arif Hidayat, Ph.D.Ed., berlangsung dengan sangat interaktif. Para peserta aktif menggali teknik observasi pembelajaran yang mendalam dan reflektif guna memperkuat pemahaman guru terhadap dinamika kelas serta interaksi belajar siswa. Diskusi ini membuka ruang pertukaran ide inovatif yang dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sesi berikutnya menghadirkan General Lecture yang dipandu oleh para pakar terkemuka dari Malaysia Educational Psychology Society (MEPS). Dalam kesempatan ini, para ahli memaparkan temuan-temuan riset mutakhir yang sangat relevan dengan dinamika psikologi pendidikan saat ini. Fokus utama paparan mencakup isu-isu neuromyth, mitos dan miskonsepsi yang umum beredar mengenai fungsi otak dan proses belajar, yang kerap memengaruhi praktik pendidikan secara global. Pemahaman kritis terhadap neuromyth menjadi sangat penting agar kebijakan dan praktik pembelajaran berbasis ilmu saraf dapat diterapkan secara akurat dan efektif.

Selain itu, pembicara juga mengulas penggunaan reflective journaling sebagai instrumen asesmen yang inovatif dalam psikologi pendidikan. Metode ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pengembangan kesadaran metakognitif dan keterampilan reflektif siswa dalam proses belajar. Dengan pendekatan ini, guru dan pendidik dapat memperoleh wawasan lebih mendalam mengenai pengalaman belajar siswa, yang kemudian dapat dijadikan dasar pengembangan strategi pembelajaran yang lebih personal dan berdampak.

Kuliah umum yang sarat dengan ilmu dan praktik aplikatif ini diikuti dengan antusiasme tinggi oleh dosen dan mahasiswa strata satu maupun dua dari Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Diskusi interaktif setelah sesi paparan membuka ruang pertukaran gagasan yang kaya dan kritis, menambah dimensi wawasan peserta mengenai tantangan dan peluang pengembangan psikologi pendidikan modern.

Melalui rangkaian workshop dan paparan ilmiah ini, kedua negara kembali menegaskan komitmen kuat mereka dalam memperkuat jejaring akademik dan riset pendidikan. Kolaborasi ini tidak hanya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempercepat penerapan praktik pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan formal. Sinergi strategis yang terjalin diharapkan mampu memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan di kawasan Asia Tenggara, yang pada akhirnya akan memperkuat kualitas sumber daya manusia dan daya saing regional.