
Cibiru, UPI
Tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin dari Program Studi Pendidikan Teknik Otomasi Industri dan Robotik (PTOIR) serta Program Studi Keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meluncurkan inovasi teknologi untuk kesehatan, yaitu Smart Medicine Box. Inovasi ini diperkenalkan kepada masyarakat Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru, dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) beberapa waktu lalu.
Alat cerdas berbasis Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk mengatasi faktor risiko akibat kelalaian dalam konsumsi obat, terutama pada lansia, pasien penyakit kronis, dan mereka yang membutuhkan pemantauan jarak jauh.
Smart Medicine Box adalah hasil kolaborasi terpadu yang menggabungkan aspek medis, edukasi, dan teknologi. Tim PTOIR bertanggung jawab dalam merancang perangkat keras dan aplikasi IoT, sementara tim Keperawatan UPI fokus pada pendampingan dan edukasi medis kepada masyarakat.
Dosen Keperawatan, Irma Darmawati, dalam sosialisasinya di Balai Warga Palasari, menekankan pentingnya konsumsi obat yang teratur bagi penderita penyakit seperti hipertensi dan TBC. Ia menyoroti bahwa lupa minum obat adalah masalah umum yang dapat menyebabkan kondisi kesehatan tidak stabil.
“Penjadwalan konsumsi obat yang tidak teratur, terutama bagi penderita penyakit kronis, dapat memengaruhi stabilitas kesehatan. Alat ini mampu memberikan pengingat yang terstruktur dan otomatis, sehingga pengguna tidak lagi hanya mengandalkan ingatan,” jelas Irma Darmawati.
Selain fungsi pengingat jadwal, alat ini juga dilengkapi sensor suhu dan kelembaban. Fitur ini penting untuk memastikan obat disimpan dalam kondisi lingkungan yang terkontrol, mencegah penurunan kualitas dan efektivitas obat akibat penyimpanan yang tidak tepat.

Dalam sesi pelatihan, tim teknis dari PTOIR mendemonstrasikan secara langsung cara kerja Smart Medicine Box. Alat ini dapat dikendalikan melalui aplikasi yang terhubung dengan IoT.
Pengguna cukup melakukan pengaturan awal melalui aplikasi, seperti mengisi informasi dosis (jumlah butir obat) dan menentukan jam pengingat konsumsi. Data tersebut akan otomatis dikirim ke perangkat.
“Ketika waktu yang telah dijadwalkan tiba, sistem akan bekerja secara otomatis. Mikrokontroler akan menggerakkan servo untuk membuka laci dan mengeluarkan obat sesuai dosis, bersamaan dengan menyalanya buzzer dan lampu indikator sebagai tanda obat siap diambil,” terang tim teknis PTOIR.
Sistem otomatisasi ini, yang didukung oleh komponen seperti Real Time Clock (RTC), bertujuan menjadikan proses konsumsi obat lebih mudah, aman, dan mempermudah pemantauan jarak jauh.
Kegiatan PkM ini tidak hanya memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola kesehatan secara mandiri dengan dukungan teknologi terjangkau, tetapi juga menegaskan komitmen UPI dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (Kontributor: Clarisa Paramitha, Nurul Fahmi Arief Hakim)

