Pengambilan Sumpah Profesi Guru bagi Lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 2 Tahun 2025 di Gedung Gymnasium UPI, Selasa (25/11).

Bandung, UPI — Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru di era digital tidak berhenti pada penyelesaian pendidikan profesi semata, tetapi harus dilanjutkan melalui pembelajaran berkelanjutan.

“Sebagaimana saya sampaikan dalam sambutan sebelumnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kuncinya adalah terus belajar (lifelong learning). Dalam dunia profesi dikenal istilah Continuous Professional Development (CPD). Ini berarti seorang guru wajib terus belajar kapan pun dan di mana pun,” ujar Rektor dalam sesi wawancara seusai acara Pengambilan Sumpah Profesi Guru PPG Gelombang 2 Tahun 2025 di Gedung Gymnasium UPI, Selasa (25/11) dengan total peserta yang diambil sumpah berjumlah 451 orang, dengan 401 di antaranya hadir secara langsung, sementara sisanya mengikuti prosesi secara daring.

Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan formal sebelum para lulusan nantinya memasuki dunia kerja dan menjalankan profesi sebagai pendidik berlisensi.

Rektor menjelaskan bahwa peserta yang mengikuti prosesi ini telah menempuh pendidikan S1 dari berbagai program studi sebelum mengikuti PPG selama satu tahun penuh. Setelah dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat pendidik, mereka berhak mengikuti proses rekrutmen guru baik sebagai ASN maupun non-ASN sesuai jalur yang tersedia.

Menurutnya, kebutuhan tenaga pendidik di Indonesia masih tinggi, sebagaimana disampaikan dalam diskusi bersama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

Rektor UPI: “kebutuhan guru masih sangat besar namun kemampuan pemerintah dalam pengangkatan masih terbatas”

“Terkait kebutuhan guru, berdasarkan hasil diskusi kami dengan GTK, kebutuhan guru di Indonesia masih sangat besar. Banyak pemda mengajukan permohonan formasi karena kekurangan signifikan. Namun kemampuan pemerintah dalam pengangkatan masih terbatas,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan PPG, terdapat dua skema besar, yaitu PPG Prajabatan dan PPG Dalam Jabatan. Gelombang ini termasuk kategori Prajabatan, yang jumlah pesertanya ditentukan langsung oleh Direktorat Jenderal GTK, bukan oleh UPI.

Sementara itu, jumlah peserta PPG Dalam Jabatan tahun ini secara nasional mencapai sekitar 30.000 peserta. Berbeda dengan Prajabatan, metode pembelajarannya menyesuaikan pengalaman mengajar karena pesertanya telah aktif sebagai guru di sekolah.

Rektor berharap ke depan sistem pendidikan guru dirancang secara holistik mulai dari rekrutmen hingga pengembangan karier.

“Mulai dari proses rekrutmen, pendidikan calon guru, penempatan, pembinaan hingga pengembangan karier harus dirancang sebagai satu sistem yang utuh agar melahirkan guru profesional, bermartabat, dan berdaya saing tinggi.”

Di era kecerdasan buatan (AI), guru tetap memiliki peran penting yang tidak dapat tergantikan. Rektor menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat yang membantu proses pembelajaran, sementara guru adalah figur yang memberi makna dan arah.

“AI bisa pintar, tetapi tetap bergantung pada siapa yang melatihnya. Guru memiliki empati, nurani, kreativitas, dan kemampuan berpikir reflektif yang tidak dimiliki mesin.”

Ia juga mendorong para lulusan untuk terus memanfaatkan sumber belajar digital sebagai bentuk pengembangan profesional berkelanjutan.

Mengakhiri wawancara, Rektor UPI menyampaikan ucapan selamat atas kelulusan para peserta, sekaligus memperingati momentum Hari Guru Nasional ke-80 dan peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang jatuh pada bulan yang sama.

Dengan diambilnya sumpah profesi ini, para lulusan PPG resmi memasuki jejak karier sebagai pendidik profesional. UPI berharap kehadiran mereka di berbagai daerah dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan nasional dan menghadirkan generasi masa depan yang lebih unggul, berkarakter, serta adaptif terhadap perkembangan zaman. (RK)