
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui UPI Migrant Center menerima kunjungan kerja monitoring dan evaluasi (monev) dari Direktorat Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), Rabu (29/4). Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat peran institusi pendidikan dalam ekosistem vokasi global dan perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Kunjungan yang berlangsung di Ruang Rapat Migrant Center, Kampus UPI Bumi Siliwangi ini dipimpin oleh Sekretaris Dirjen P3KLN, Sri Andayani, serta dihadiri perwakilan BP3MI Jawa Barat, Annida Mardhotillah. Dari pihak universitas, Yana R. Sopian bersama tim pengelola UPI Migrant Center menyambut agenda evaluasi yang berfokus pada integrasi data dan kesiapan layanan terpadu.
Dalam diskusi tersebut, pihak KP2MI menekankan pentingnya sinkronisasi data alumni UPI yang berkarier di luar negeri. Data ini dinilai krusial sebagai fondasi perencanaan program penempatan kerja internasional yang tepat sasaran.
Menanggapi hal itu, UPI Migrant Center menegaskan komitmennya dalam penyediaan data, namun dengan catatan perlindungan privasi yang ketat.
“Data tersedia, namun pengelolaannya harus sesuai regulasi perlindungan privasi. Kami memerlukan spesifikasi kebutuhan yang jelas serta jaminan keamanan data sebelum diintegrasikan,” ujar perwakilan tim pengelola UPI.
Pertemuan ini juga mematangkan implementasi program nasional “SMK Go Global”. Program ini dirancang untuk mencetak tenaga kerja terampil di sektor-sektor prioritas seperti Caregiver (Tenaga Perawat), Manufaktur, Hospitality (Perhotelan), dan Teknologi Informasi
Negara tujuan utama yang menjadi fokus antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Australia. Mengingat penguasaan bahasa asing masih menjadi kendala utama, UPI Migrant Center diarahkan untuk menyusun program pelatihan berbasis kebutuhan pasar (demand-based), termasuk standarisasi TOEFL atau IELTS untuk penempatan di Eropa.
Sebagai langkah konkret penguatan infrastruktur, UPI menyatakan kesiapannya dalam mengimplementasikan sistem E-Vokasi. Sistem digital ini diharapkan mampu mengintegrasikan proses pendidikan, pelatihan, hingga sertifikasi dalam satu pintu.
Pertemuan ditutup dengan peluncuran tagline “Migran Aman”. Slogan ini merepresentasikan komitmen bersama antara pihak universitas dan pemerintah untuk memastikan pekerja migran Indonesia tidak hanya kompeten secara skill, tetapi juga terlindungi secara hukum dan memiliki daya saing tinggi di pasar kerja global. (maxkeensopisan)

