
Di sebuah ruang workshop di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hanya terdengar dengung mesin dan bunyi logam yang saling bersentuhan. Di sudut ruangan itu, seorang mahasiswa muda tampak tenggelam dalam pekerjaannya—menyusun kabel, merakit komponen, dan menguji rangkaian yang tak semua orang pahami. Waktu berjalan tanpa terasa. Bahkan pergantian siang dan malam sering luput dari kesadarannya.
Bagi Kusman Subarja, tempat itu bukan sekadar bengkel. Ia adalah rumah kedua—tempat mimpi dirakit, satu demi satu.
Hari ini, lelaki yang dulu “bermukim” di workshop itu berdiri sebagai guru di SMK Negeri 2 Cimahi, mengajar Teknik Mekatronika, sekaligus menjadi pembimbing yang telah mengantarkan banyak siswanya menembus panggung nasional hingga internasional .
Namun perjalanan itu tidak dimulai dari pencapaian, melainkan dari ketertarikan sederhana.
Sejak SMP, Kusman sudah akrab dengan dunia elektronika. Ia gemar memainkan perangkat pemancar radio, rasa ingin tahu yang terus tumbuh hingga ia melanjutkan ke SMK di bidang yang sama. Ketika tiba waktunya kuliah, pilihannya jatuh pada Pendidikan Teknik Elektro di UPI tahun 2004 — sebuah keputusan yang didukung penuh oleh orang tuanya, bahkan dengan bantuan sponsor untuk biaya pendidikan .
Di bangku kuliah, hidupnya berubah arah.
Ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga di luar itu—di dunia robotika. Bersama rekan-rekannya, ia membangun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) robotika yang diberi nama Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (KOMPOR) dengan satu tujuan besar: membawa nama UPI ke tingkat nasional dan internasional di bidang robotika.
Namun, ambisi itu datang dengan konsekuensi, “Kuliah saya malah ‘terganggu’ oleh robot,” kenangnya sambil tertawa. Ia bahkan menghabiskan hampir satu tahun tanpa menjalani kuliah secara efektif karena fokus di bengkel robot. Masa studinya pun molor—yang seharusnya empat tahun, menjadi hampir enam tahun hingga akhirnya lulus pada 2009 .
Namun di balik “keterlambatan” itu, ada proses yang tidak ternilai, Ia belajar tentang kerja tim, relasi, dan ketekunan—hal-hal yang justru menjadi bekal penting dalam dunia kerja. “Ternyata bukan hanya akademis yang penting. Relasi dan kerja sama justru sangat berpengaruh,” ujarnya .
Kisahnya selama kuliah pun penuh warna, tanpa kendaraan pribadi, ia harus menempuh perjalanan jauh dari Cangkuang ke kampus menggunakan bus sejak subuh. Karena lelah bolak-balik, ia kerap “nomaden” menginap di kos teman, hingga akhirnya menetap di workshop robot yang konon dianggap angker. Namun baginya, tempat itu justru menjadi ruang paling hidup.
“Saking asyiknya ‘ngulik’ robot, saya sampai tidak tahu dunia luar,” katanya . Bahkan momen seperti gerhana bulan atau hari besar keagamaan pernah ia lewati begitu saja, karena terlalu fokus pada apa yang ia kerjakan.
Di sanalah, mimpi mulai menemukan bentuknya, Ia pernah membayangkan dirinya berdiri di arena lomba robot, membawa papan nama perguruan tinggi. Imajinasi yang tampak sederhana itu ternyata menjadi kenyataan. Dalam sebuah kompetisi nasional, ia berdiri di barisan depan, membawa nama UPI—momen yang baginya begitu membekas .
Perjalanan itu tidak berhenti setelah lulus.
Kusman melanjutkan kiprahnya sebagai guru, memulai dari SMK Negeri 1 Katapang hingga akhirnya mengabdi di SMK Negeri 2 Cimahi sejak 2010 . Di sana, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran berbasis praktik dan inovasi.
Ia menjadi pembina komunitas robotik, pelatih lomba, hingga pengembang kurikulum nasional di bidang mekatronika. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek industri dan penelitian terapan, mulai dari Internet of Things hingga pengembangan alat teknologi tepat guna .
Namun yang paling menonjol bukanlah daftar panjang pencapaiannya, melainkan dampak yang ia ciptakan melalui siswa-siswanya.
Ia membimbing anak-anak dari daerah yang bahkan belum pernah naik pesawat, memiliki keterbatasan bahasa, namun mampu berdiri di podium internasional. Di balik setiap medali, ada proses panjang—latihan, kepercayaan, dan hubungan yang dibangun antara guru dan murid.
“Saya bangga melihat anak didik saya sukses. Itu kepuasan tersendiri bagi seorang guru,” ungkapnya .
Prestasi yang ia raih pun mencerminkan dedikasi itu. Ia menerima berbagai penghargaan, mulai dari Guru Berprestasi Kota Cimahi, inovator tingkat nasional, hingga penghargaan dari pemerintah daerah atas kontribusinya dalam pendidikan dan inovasi .
Namun di balik semua itu, Kusman tetap melihat dirinya sebagai seorang pembelajar.
Saat ini, ia tengah melanjutkan studi doktoral di UPI, kembali ke tempat di mana ia pernah membangun mimpi-mimpi besarnya .
Ia juga menyaksikan bagaimana UPI berkembang pesat—baik dari sisi fasilitas, sistem, hingga pengakuan internasional. “Dulu mungkin UPI dipandang sebelah mata, sekarang sudah sangat disegani,” katanya .
Namun harapannya tetap sederhana.
Ia ingin agar perguruan tinggi tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga memperkuat pengabdian kepada masyarakat—khususnya kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan dukungan nyata.
Bagi Kusman, pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang kesempatan.
Kesempatan bagi siswa untuk bermimpi.
Kesempatan bagi guru untuk membimbing.
Dan kesempatan bagi siapa pun untuk tumbuh—tanpa batas.
Di workshop yang dulu ia tinggali, mungkin mesin-mesin lama sudah berganti. Namun semangat yang pernah ia bangun di sana tetap hidup—kini berpindah ke ruang kelas, ke tangan-tangan siswa, dan ke mimpi-mimpi baru yang sedang dirakit.
Karena bagi Kusman Subarja, pendidikan adalah proses yang tidak pernah selesai.
Ia hanya berpindah tangan—dari satu generasi ke generasi berikutnya. (RK)

