Banten, UPI — Tim Biocita Formica Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan penelitian mengenai strategi konservasi pohon yang diterapkan masyarakat Baduy Dalam di Hutan Cijerenong, Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, pada 20–24 Agustus 2025. Penelitian ini dilakukan untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat adat terkait pelestarian hutan adat atau Leuweung Kolot, yang hingga kini tetap terjaga secara turun-temurun.

Kegiatan diawali dengan keberangkatan rombongan dari Terminal Leuwipanjang, Bandung, pada Rabu (20/8) sore dan tiba di Saketi pada malam hari. Keesokan paginya, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah Binong untuk melakukan wawancara awal dengan tokoh masyarakat sekaligus narasumber utama, Ayah Sangsang, yang kemudian menjadi pembimbing lapangan. Putra beliau, Ayah Sayuti, turut mendampingi tim selama penelitian berlangsung.

Penelitian menggunakan metode wawancara mendalam dan survei lapangan untuk menggali praktik konservasi masyarakat Baduy Dalam. Selur­uh rangkaian kegiatan dilakukan dengan mengikuti aturan adat, termasuk larangan merekam gambar, baik foto maupun video, serta rekaman suara. Pembatasan tersebut menjadi bagian penting dari penghormatan terhadap kawasan adat Baduy Dalam yang dikenal memiliki aturan ketat terkait dokumentasi.

Rangkaian pengumpulan data berlangsung hingga 23 Agustus, dan tim kemudian melakukan perjalanan keluar wilayah adat menuju Baduy Luar pada 24 Agustus. Rombongan tiba di Gerbang Ciboleger sekitar pukul 14.00 WIB, menandai berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan penelitian.

Tokoh masyarakat Baduy, Ayah Sangsang, menegaskan bahwa prinsip-prinsip konservasi hutan merupakan bagian dari identitas masyarakat adat.

“Kalau hanya kami yang menjaga, moal kuat. Hutan itu titipan. Kalau rusak, manusia juga yang akan susah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan peran penting masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekologis kawasan hutan.

Ketua pelaksana, Hawa, menyatakan bahwa kunjungan ke Baduy Dalam memberikan banyak wawasan terkait pemanfaatan sumber daya alam berbasis budaya.

“Mengunjungi Baduy Dalam adalah pengalaman berharga. Kami belajar bahwa pohon, daun, dan buah digunakan tidak hanya untuk bahan bangunan, tetapi juga obat dan kebutuhan ritual,” ungkapnya.

Selain mempelajari konservasi pohon, tim juga memperoleh pemahaman mengenai nilai-nilai adat yang mengatur interaksi masyarakat dengan alam. Ungkapan adat ‘Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak’ menjadi pedoman moral yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Baduy sebagai prinsip pelestarian lingkungan.

Ketua Adat KPA Biocita Formica, Nabila Ramadhani, memberikan apresiasi terhadap kelancaran kegiatan penelitian ini.

“Perjalanannya mantap, trekking-nya memenuhi syarat perjalanan panjang. Selamat belajar dan terus berkembang,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kang Mamad, alumni angkatan pertama Biocita Formica, yang membimbing peserta dalam persiapan teknis dan keseluruhan pelaksanaan kegiatan. Ia berharap program ini memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu biologi mahasiswa.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya Biocita Formica dalam memahami konsep konservasi berbasis kearifan lokal. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian etnobiologi serta mendorong kolaborasi lebih luas antara akademisi dan masyarakat adat dalam pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. (RK)

Kontributor KKIPP UPI : Hawa Hafifah Putri Susanto