Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., sekaligu untuk membuka kegiatan akademik bedah buku Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie, Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI.

Kegiatan berlangsung Senin (7/9/2026) di Auditorium Lantai 6 Gedung Nu’man Sumantri, FPIPS UPI. Prof. Atip hadir sekaligus memberikan sambutan dan membuka kegiatan yang menghadirkan Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum. dan Siti Komariah, M.Si., Ph.D. selaku penulis, serta Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed. dan Prof. Dr. Eli Malihah, M.Si. sebagai pembedah buku.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Atip memiliki makna penting bagi UPI. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk melihat kembali peristiwa Reformasi 1998, tetapi juga memperoleh pemaknaan sejarah yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi masa depan.

“Dari beliau kita tidak hanya kembali flashback ke belakang terkait dengan peristiwa itu, tetapi kita juga diberikan tafsir terkait dengan pemaknaan sejarah yang tentu saja bermanfaat untuk membawa dan mengarahkan kita ke depan,” ujar Didi.

Didi menilai kegiatan bedah buku juga menjadi bagian dari upaya membangun literasi melalui forum akademik. Menurutnya, pemahaman terhadap suatu peristiwa akan semakin teruji ketika gagasan dibaca, didiskusikan, dipertanyakan, dan diuji bersama.

Sementara itu, Prof. Atip mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mengkaji sejarah dan memberikan analisis kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi harus tetap kritis, harus tetap memberikan analisis yang kritis terhadap situasi yang terjadi di sekeliling kita terkait dengan pengelolaan negara ini,” kata Atip.

Ia menyebut perguruan tinggi sebagai salah satu unsur penting dari minoritas kreatif yang dapat merespons tantangan dan berkontribusi terhadap perjalanan bangsa. Karena itu, peran tersebut perlu terus ditingkatkan agar perguruan tinggi mampu memberikan respons yang tepat terhadap berbagai persoalan ke depan.

Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM., mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami peristiwa 1998 melalui karya akademik yang ditulis oleh para akademisi. Ia berharap buku tersebut dapat dibaca mahasiswa dan menjadi sumber pembelajaran sejarah.

Melalui kegiatan ini, UPI menempatkan kajian sejarah tidak semata sebagai upaya mengingat kembali peristiwa masa lalu, tetapi sebagai ruang akademik untuk memahami fakta, menguji berbagai perspektif, dan mengambil pembelajaran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. (RK/DN)