Bandung, UPI

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2023 sukses menyelenggarakan pagelaran budaya bertajuk “Sankrama Harsa 2026”. Acara yang mengusung tema “Rawayan Jamparing Rasa, Rawayan Sétraning Tresna” ini digelar secara meriah di Gedung Achmad Sanusi, Kampus UPI Bumi Siliwangi, Bandung, pada Rabu (10/06/2026).

Pagelaran yang berlangsung mulai pukul 06.30 WIB tersebut menampilkan visualisasi lengkap prosesi adat pernikahan Sunda. Acara ini merupakan bentuk implementasi nyata (praktikum) dari mata kuliah rumpun seni kawih dan kaprotokolan Sunda.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Kaprotokolan dan Kawih, Dr. Dian Hendrayana, M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras dan soliditas mahasiswa yang mempersiapkan proyek besar ini dalam waktu tiga bulan.

“Bapak melihat ini sebagai proyek yang digarap betul-betul dari nol. Mulai dari belajar dasar kawih secara parsial, hingga keprotokolan berbicara yang kemudian dikolaborasikan menjadi proyek upacara pernikahan. Dalam waktu intensif tiga bulan, hasilnya sangat luar biasa,” ujar Dian.

Ia juga menambahkan bahwa koordinasi yang solid antar-mahasiswa angkatan 2023 berhasil membuat tim dosen takjub dan bangga.

Rangkaian acara sendiri berjalan dengan sangat lancar dan dinamis. Alur kegiatan diawali dengan pembukaan resmi oleh duo MC, Agus Rahmat dan Rahma Noor, serta lantunan ayat suci Al-Quran oleh Qori Siti Rubaeah. Sesi sambutan beruntun kemudian disampaikan oleh Ketua Pelaksana Pramayuda Padmanegara, perwakilan dosen pengampu, hingga Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd.

Memasuki inti acara, visualisasi ragam prosesi adat pernikahan Sunda yang sangat padat nilai mulai disuguhkan. Prosesi diawali dengan Karesmen Mapag Calon Pengantin Pria (CPP) yang diiringi oleh pemusik tradisional (pangrawit), dilanjutkan secara simbolis lewat gunting pita serta pengalungan rangkaian bunga (manglé). Acara kemudian berlanjut ke sesi Serah-Terima (Sérén-Tampi) dari perwakilan kedua keluarga calon mempelai, sebelum akhirnya masuk ke prosesi paling sakral, yakni Akad Nikah, yang berlangsung khidmat dipimpin oleh Alifio selaku Amil, Fadhil selaku Lebe, serta disaksikan oleh Ilyas.

Setelah akad dinyatakan sah, runtutan adat Sunda lainnya ditampilkan secara beruntun, mulai dari prosesi Buka Pintu, Sungkeman kepada orang tua yang diiringi oleh pangrawit, hingga prosesi Bantayan (menginjak telur, membakar bambu harupat, dan memecahkan kendi) yang dipimpin oleh Putra Aulianto selaku Pangeuyeuk. Sebelum memasuki sesi istirahat, para hadirin disuguhkan dengan prosesi Sawer Pengantin yang dipimpin oleh Juru Sawer Kristia. Siang harinya, acara diteruskan kembali dengan Kirab Pengantin, Huap Lingkung, serta Pabetot-betot Bakakak. Rangkaian resmi kemudian ditutup oleh MC dan disemarakkan oleh penampilan hiburan spesial dari seniwati Sunda ternama, Teh Rita Tila.

Keterlibatan muatan budaya, kerja sama tim, dan visualisasi ekologis dalam Sankrama Harsa 2026 ini sekaligus menegaskan kontribusi nyata dunia akademik terhadap capaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada poin SDGs Nomor 4 mengenai pendidikan berkualitas (Quality Education) melalui metode pembelajaran berbasis proyek yang aplikatif, poin SDGs Nomor 5 tentang kesetaraan gender (Gender Equality) dalam pembagian peran kepanitiaan, serta poin SDGs Nomor 11 mengenai kota dan komunitas berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya nyata pelestarian warisan budaya lokal di lingkungan generasi muda.

Totalitas panitia dalam menghadirkan replika pernikahan Sunda mulai dari tata rias, dekorasi gedung, hingga konsumsi mendapat ulasan positif dari pengunjung prodi lain.

“Acaranya seru, jadi kita bisa melihat acara nikahan yang sama persis seperti yang aslinya. Mulai dari properti, sewa gedung itu pasti mahal banget, belum makeup dan konsumsi kaya gitu. Totalitas banget, keren,” puji Davina, mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2023.

Keberhasilan acara ini menjadi bukti nyata bahwa ruang kuliah mampu bertransformasi menjadi wadah pelestarian budaya yang megah dan edukatif. (Haidar Ali Dzulfikar/Dian Hendrayana)