Tawau, Sabah – 5 April 2025

Dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia di luar negeri, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil membawa misi kemanusiaan dan kepedulian akademik ke wilayah perbatasan. Fatharani Hasna, mahasiswa angkatan 2022, menjalani program magang internasional di Community Learning Center (CLC) Sabah Softwood Berhad, Tawau, Sabah, Malaysia—sebuah inisiatif kolaboratif antara Prodi Pendidikan Masyarakat UPI dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Program magang ini bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi menjadi ruang refleksi mendalam tentang hak atas pendidikan, terutama bagi anak-anak migran yang tinggal di perkebunan kelapa sawit—komunitas yang sering kali terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.

Belajar dari Lapangan: Pendidikan Nonformal di Tengah Keterbatasan

Selama beberapa minggu, Fatharani terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di lima CLC binaan Sabah Softwood Berhad: Kapilit, Mawang, Kumansi, Bukit Tukok, dan Kalum. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga mendampingi guru, mengikuti dinamika kelas, dan berdiskusi tentang kurikulum kesetaraan (Paket A, B, dan C) yang dirancang khusus untuk anak-anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan reguler.

Yang menarik, sebagian besar guru di CLC adalah warga negara Malaysia yang secara sukarela mempelajari kurikulum Indonesia dan mendampingi anak-anak migran dengan penuh dedikasi. “Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi jembatan budaya dan harapan,” ujar Fatharani dalam catatan reflektifnya.

Sejak 2020, Sabah Softwood Berhad telah menginvestasikan dana sebesar RM3,6 juta untuk membangun enam CLC, menyediakan fasilitas belajar yang layak, termasuk gedung sekolah, logistik, air bersih, hingga transportasi bagi guru dan siswa.

Ladang Banita: Momen yang Menggugah Hati

Salah satu pengalaman paling menggugah dalam perjalanan Fatharani adalah kunjungan ke ladang Banita—lokasi yang belum memiliki CLC. Didampingi oleh Pak Agil, guru pembina CLC yang menjadi penghubung antara komunitas, perusahaan, dan SIKK, Fatharani turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan awal terhadap anak-anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan.

Dari hasil pendataan, ditemukan sekitar 60 anak yang belum bersekolah, dengan 32 di antaranya sudah melewati usia pendidikan dasar. Mereka direncanakan akan diikutsertakan dalam program kesetaraan Paket A dan B.

“Saya tidak akan pernah lupa ekspresi anak-anak di Banita. Mereka belum tahu apa itu sekolah, tapi mereka tahu bahwa belajar itu penting,” kenang Fatharani. “Dari situ saya sadar: pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian membuka pintu bagi mereka yang selama ini tertutup.”

Meski belum memiliki ruang belajar, semangat anak-anak untuk belajar sangat besar. Orang tua mereka menyambut hangat kedatangan tim, dan menyampaikan harapan agar anak-anak mereka kelak bisa mengecap pendidikan yang layak.

Pendidikan sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Tujuan

Di akhir program, Fatharani pulang bukan hanya dengan laporan magang, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa pendidikan masyarakat adalah upaya yang tak pernah selesai. “Saya tidak hanya belajar menjadi pendidik, tetapi juga belajar menjadi manusia,” ujarnya.

Pengalaman ini juga menjadi bukti nyata bahwa Prodi Pendidikan Masyarakat UPI mampu berkontribusi dalam konteks global, terutama dalam memperluas akses pendidikan nonformal bagi kelompok marginal. Kolaborasi dengan SIKK Kinabalu membuka jalan bagi penguatan jaringan pendidikan lintas batas, serta menjadi model bagi keterlibatan mahasiswa dalam isu sosial yang mendalam.

Pendidikan Sepanjang Hayat, di Mana Saja

Program magang internasional ini bukan hanya membuka mata mahasiswa pada realitas pendidikan di perbatasan, tetapi juga mengingatkan kita semua: bahwa pendidikan adalah hak asasi yang harus diperjuangkan, bahkan di ujung ladang kelapa sawit sekalipun.

Bagi Fatharani dan Prodi Pendidikan Masyarakat UPI, perjalanan ini hanyalah awal. Di tengah perbatasan, mereka belajar—dan mengajar—dengan hati.

Kontributor: Fatharani Hasna dan Dadang Yunus