
Bandung, UPI

Hima Pensatrada mengadakan kegiatan gelar bicara dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional dengan tema “Ngaguar Sastra Sunda dina Pangajaran Basa Sunda”. Kegiatan ini juga merupakan kerja sama antara Hima Pensatrada dengan Prodi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI yang dimulai pada pukul 13.00 WIB di Auditorium Gedung B FPBS UPI, Bandung, Kamis (20/2/2025).
Dalam kegiatan ini, mereka turut mengundang dua Sastrawan Sunda yang sangat berperan aktif dalam perkembangan Sastra Sunda dan tentu tidaklah aneh bila mereka juga berprestasi. Abdullah Mustappa juga Aam Amilia yang diberi julukan “Indung Beurang” Sastrawan Sunda. Guna kegiatan ini berlangsung semakin meriah, sudah pasti para Sastrawan Sunda dibersamai oleh Moderator yang tak kalah prestasinya yaitu Agus Suherman, S. Pd., M. Hum. sekaligus selaku salah satu Dosen pengajar di Prodi Pendidikan Bahasa Sunda.
Tak lupa, dalam kegiatan ini juga dihadiri oleh para Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, juga para alumnus selaku tamu serta dihadiri oleh inohong Sunda lainnya seperti Yus Rusyana dan Hawe Setiawan. Demikian juga para audiens yang ada didalam ruangan (mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda) yang turut melengkapi juga menjadi pemanis dalam kegiatan tersebut.
Sebelum acara dimulai, para hadirin disuguhkan sambutan penampilan beberapa lagu kawih Sunda yang ditampilkan oleh mahasiswa-mahasiswi Pendidikan Bahasa Sunda dengan merdunya.

Sembari menikmati kawih sunda, para hadirin tidak sadar bahwa Master Of Ceremony sudah ada didalam ruangan dan dibukanya kegiatan ini oleh Zulfikar Alamsyah, S. Pd., M. Hum. yang juga selaku dosen prodi Pendidikan Bahasa Sunda berpasangan dengan Fazriah Fitri Haswidhi, mahasiswi Pendidikan Bahasa Sunda Angkatan 2023 yang terlihat sangat klop.

Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita semua dengan sangat syahdu. Setelahnya, adapun laporan kegiatan yang disampaikan ole ketua BEM Hima Pensatrada periode 2025-2026, Agus Rahmat Hidayat. Dan ada pula, sambutan dari wakil Dekan Bidang Keuangan, Sumber Daya dan Umum, Prof. Dr. Dingding Haerudin, M. Pd.
Tak lama setelah itu, MC memberi arahan untuk foto bersama antara pembicara dengan para Dosen juga para tamu yang ada dan dilanjutkan pemasrahan Sertifikat kepada pembicara kegiatan ini.

Selepas kegiatan tersebut, ada penampilan layeutan sora dari mahasiswa PBS angkatan 2024 dengan membawakan lagu Basa Sunda sebelum memasuki acara intinya.

Penampilan tersebut mengingatkan kita kembali betapa bangganya kita sebagai suku Sunda memiliki salah satu karya sastra yang ada, hingga mendapat banyaknya tepuk tangan dari para hadirin.
Memasuki acara inti, Moderator membukanya dengan penuh semangat. Ia menjelaskan bahwasanya Aam Amilia sudah membuat kurang lebih 200 karya carpon Sunda, lalu 60 lebih cerpen berbahasa Indonesia.
Satu hal yang sangat menarik dan sesuai dengan fakta masyarakat Sunda di zaman kini, ialah ketika Aam Amilia mengatakan “Tapi anu pangkacida keuheulna nguping, Basa Sunda téh Kampungan.” Itulah salah satu alasan terkikisnya Bahasa Sunda seiring berjalannya waktu yang menyebabkan semakin terancamnya Bahasa Sunda di masa depan terutama dalam pembelajaran di sekolah.
Bahkan Ketika dahulu ia menginjak sekolah menengah pertama, sudah diperintahkan banyak membaca buku berbahasa Sunda dan harus diceritakan kembali didepan kelas. Tentunya hal tersebut berbeda dengan pembelajaran zaman sekarang yang serba digital memudahkan mencari informasi —berkurangnya rasa penasaran— yang menghambat pembelajaran Bahasa Sunda.
Aam menginginkan pembelajaran Bahasa dan Sastra itu dipisah, dikarenakan tidak adanya pembelajaran khusus mengenai Sastra tersebut. Juga banyaknya “Takhayul Sastra” di sekolah yang disebabkan banyaknya teori mengenai Sastra saja ketika pembelajaran berlangsung.
Lalu dilanjutkan dengan Abdullah Mustappa yang membahas mengenai fenomena pembelajaran, bahwa pada tahun 1960 pembelajaran berlangsung dengan biasa, tetapi ada yang berbeda pada tahun 1973-1974 adanya usulan mengenai tidak diajarkannya Bahasa Sunda di sekolah yang memantik amarah masyarakat Sunda. Untungnya, hal tersebut tidak dilaksanakan. Namun, pada tahun 2013 adanya ‘muatan lokal’ yaitu Bahasa Sunda akan disatukan dengan pembelajaran Seni.
“Boro-boro kana Basa jeung Sastra daerah, kana Basa jeung Sastra Indonesia gé henteu dianggap penting.” ucapnya. Karena pembelajaran Bahasa sangatlah penting, lalu dimanakah posisi Bahasa Sunda sebagai Bahasa daerah? Hal tersebut memicu pertanyaan bagi kami sebagai audiens.
Pembelajaran Bahasa itu penting, membaca itu penting. Hal tersebut diutarakan oleh Abdullah yang semakin membuat mata kami terbuka, dan dikuatkannya dengan pendapat “Jalanna pikiran téh ku ayana Basa.” menjadi fakta yang tidak terelakkan. Sebab dalam proses berfikir manusia, tentunya kita memakai Bahasa didalamnya.
Pendapat Aam juga disetujui oleh Abdullah Mustappa mengenai dipisahnya pembelajaran antara Sastra dan Bahasa. Dua hal tersebut tentu berbeda tetapi entah bagaimana selalu dikaitkan bahkan disatukan dalam pembelajaran Bahasa Sunda.

Yang menjadi masalah sekarang ini, ialah mengenai perkembangam Teknologi Digital seperti AI yang turut mengubah proses pembelajaran di sekolah maupun di kampus. Bagaimana kontennya? Juga bagaimana sumbernya?
Sebab bagaimanapun juga didalam sumber informasi yang didapatkan oleh AI sangat banyak yang berbahasa Inggris, juga Bahasa sedangkan Bahasa Sunda belum disebut-sebut.
Itulah yang akan menjadi tugas kami selaku mahasiswa Sunda, perbanyaklah karya dan tulisan serta dipublikasikan agar data-data mengenai Bahasa Sunda terdeteksi oleh AI menjadi informasi yang lebih faktual dan konkrit.
Setelah membahas hal tersebut, dibukalah sesi tanya jawab. Pastinya banyak sekali yang bertanya, diantaranya ada Prof. Dr. Yayat Sudaryat, juga beberapa mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda seperti Erlangga, Adjie Sugih serta Fitrianingsih.
Sebelum acara ditutup, adanya penampilan spektakuler yaitu pintonan sajak yang ditampilkan oleh Siti Humaira Ramadhani Fakir juga Yani Nurhasanah mahasiswi Sunda Angkatan 2023 yang membawakan sajak yang berjudul “Ger Giat Migawé Hadé” didepan pengarangnya langsung, Yus Rusyana.

Suatu kehormatan besar mereka bisa menampilkan pintonan sajak tersebut didepan pemiliknya yang membuat para hadirin diam seketika mendengarkan dan membuat kami semua merinding akan penampilannya. Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap mereka.
Oleh Windiana Nurhalisa







