Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mendorong pemanfaatan Kecerdasan Buatanuntuk mendukung peningkatan produktivitas penelitian dan publikasi ilmiah dosen. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu tetap menempatkan kemampuan berpikir kritis dan peran manusia sebagai bagian utama dalam proses penelitian.

Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan Optimalisasi Pemanfaatan AI untuk Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah yang digelar di Auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) UPI, Selasa (4/8/2026).

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan dosen UPI yang tengah melaksanakan penelitian.

“Saya kira ini kegiatan kerja sama yang cukup bermanfaat untuk UPI karena memang ini adalah needs dari para dosen kita yang sedang melakukan penelitian,” ujar Prof. Agus.

Menurutnya, pemanfaatan AI menjadi salah satu kebutuhan dalam upaya meningkatkan produktivitas penelitian maupun publikasi ilmiah. Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut tetap perlu menempatkan peneliti sebagai aktor utama dalam keseluruhan proses penelitian.

“Dari sisi kebutuhan, ini betul-betul kebutuhan di kita untuk meningkatkan produktivitas penelitian maupun publikasi,” katanya.

Namun Prof. Agus menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis harus tetap menjadi bagian dari proses penggunaan AI. Teknologi dapat membantu peneliti, tetapi integritas dan peran manusia tetap perlu dipertahankan dalam setiap proses penelitian.

“Bagaimana kita menggunakan AI dengan tetap mengedepankan integritas dan tetap memerankan kita sebagai peneliti, dalam hal ini berpikir kritis itu tetap harus menjadi bagian dari proses penggunaan AI,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan Professor of Interdisciplinary Linguistics UPI, Prof. Eri Kurniawan, Ph.D. Dalam wawancara terpisah, Prof. Eri mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat memunculkan fenomena cognitive offloading, ketika sebagian proses kognitif dan berpikir diserahkan kepada teknologi.

Menurut Prof. Eri, mahasiswa memang dapat terbantu ketika menggunakan AI dalam proses menulis. Namun, persoalan muncul ketika teknologi digunakan secara instan tanpa diikuti proses mencerna, mengkritisi, dan merefleksikan informasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat pemahaman yang diperoleh tidak dapat diterapkan pada tugas atau konteks baru.

Karena itu, Prof. Eri tidak memandang pelarangan AI secara total sebagai pilihan yang realistis dalam pendidikan. AI dapat ditempatkan sebagai “teman diskusi”, antara lain ketika mengembangkan gagasan atau membantu analisis awal. Pada saat yang sama, manusia tetap harus melakukan penyaringan dan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP., turut menilai pemanfaatan AI perlu diarahkan agar mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas penelitian dengan tetap digunakan secara bertanggung jawab.

“Kita ingin memastikan bahwa AI digunakan secara optimal dengan tetap bertanggung jawab. Dan itu benar-benar bisa membuat riset-riset kita menjadi lebih produktif dan berkualitas, juga memberikan kemanfaatan yang lebih nyata,” ujar Hetifah.

Dengan demikian, peningkatan produktivitas melalui AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas peneliti. Kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak menggantikan kemampuan manusia dalam mengkritisi, memverifikasi, merefleksikan, dan mempertanggungjawabkan proses maupun hasil penelitian.

Melalui penguatan pemahaman tersebut, pemanfaatan AI di lingkungan akademik diharapkan tidak hanya mempercepat proses penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga tetap menjaga kualitas proses berpikir yang menjadi fondasi kegiatan ilmiah. (RK/RI)