
Serang, UPI
Sebanyak 25 guru dari 14 Sekolah Dasar (SD) penyelenggara pendidikan inklusi (SPPI) di Kota Serang mengikuti pelatihan intensif untuk meningkatkan kompetensi dalam mengidentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Penyelenggara Pendidikan Inklusi” ini diinisiasi oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus di Serang. Acara yang berlangsung pada Rabu (29/10/2025) ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (PkM) kampus tersebut.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi UPI Kampus Serang dengan Dinas Pendidikan Kota Serang, Sekolah Khusus Negeri (SKHN) 1 Kota Serang, dan Esensia Psychology Consultant.
Ketua Pelaksana PkM, Fatihaturosyidah, S.S, M.Pd, menyatakan kegiatan ini bertujuan membangun ekosistem pendidikan inklusi yang berkelanjutan di Kota Serang.
“Kami tidak hanya ingin sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga membangun ekosistem pendidikan inklusi yang berkelanjutan di Kota Serang,” ujar Fatihaturosyidah.

Fokus utama pelatihan adalah “Diseminasi Materi dan Instrumen Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus”. Instrumen yang digunakan merupakan hasil hilirisasi penelitian dosen UPI Kampus Serang yang dirancang secara kontekstual untuk kebutuhan SD di wilayah tersebut.
Memahami Anak Secara Utuh
Kegiatan ini menghadirkan dua praktisi berpengalaman di bidang ABK, yaitu Wuri Estiaddini, S.Psi. S.Pd dan Agus Hefli Rahman, S.Pd.
Wuri menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang aman antara guru dan siswa sebelum melakukan identifikasi.
“Identifikasi bukan sekadar mengisi instrumen, tapi memahami anak sebagai manusia utuh,” tegas Wuri dalam pemaparannya.
Sementara itu, Agus Hefli Rahman berbagi pengalaman lapangan mengenai pendekatan individual. Ia menceritakan bagaimana kesabaran dan konsistensi dapat mengubah perilaku anak yang semula dianggap ‘bermasalah’.
“Kuncinya adalah kesabaran dan konsistensi. Anak-anak ini bisa berkembang luar biasa jika kita percaya pada potensinya,” ujar Agus.

Bantu Guru Secara Sistematis
Pelatihan dibagi dalam tiga sesi: pemaparan materi, berbagi pengalaman, dan praktik langsung menggunakan instrumen identifikasi. Para guru melakukan simulasi pengisian instrumen, yang memicu diskusi dinamis seputar tantangan di lapangan.
Kepala Sekolah SDN Rawu, Enah Suhaenah, mengaku kegiatan ini memberikan wawasan baru.
“Selama ini kami hanya mengandalkan intuisi dalam mengenali anak-anak yang berbeda. Tapi dengan adanya instrumen ini, kami jadi punya alat bantu yang lebih sistematis dan ilmiah,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Kepala Sekolah SD Sumursana, Een Sutiah, berharap ada pendampingan lanjutan. “Kami butuh pendampingan berkelanjutan, bukan hanya pelatihan satu kali. Karena tantangan di lapangan sangat kompleks,” katanya.
Dukungan Pemerintah dan Rencana Tindak Lanjut
Pihak Dinas Pendidikan Kota Serang yang diwakili Miftahudin, S.Pd, dari Bidang Pembinaan SD, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, penguatan kompetensi guru inklusi sejalan dengan strategi jangka panjang Pemda untuk mewujudkan sekolah ramah anak dan bebas diskriminasi.
“Kami akan mengusulkan agar kegiatan semacam ini masuk dalam program kerja tahunan dinas,” ujar Miftahudin.
Sebagai tindak lanjut, para peserta akan mendapatkan akses ke instrumen identifikasi dan forum diskusi daring yang difasilitasi tim UPI. Selain itu, modul instrumen ini akan dikembangkan dalam versi cetak dan digital untuk mempermudah akses guru.
Kegiatan ini juga selaras dengan program “Berdampak” Kemendikbudristek dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait pendidikan berkualitas dan pengurangan ketimpangan. (Kontributor: Fatihaturosyidah)

