Bandung, 24 Juni 2025

Pembukaan orientasi akademik PPG Dalam Jabatan bagi guru madrasah tahun 2025 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bukan hanya menjadi ajang pengenalan program, tetapi juga momentum pembekalan awal bagi para guru untuk menjalani proses pendidikan yang profesional dan berstandar nasional.

Para peserta mendapatkan gambaran komprehensif mengenai sistem pendidikan di lingkungan UPI dan bagaimana proses pembelajaran PPG akan dijalankan. Salah satu materi utama disampaikan oleh Dr. rer. nat. H. Asep Supriatna, M.Si., yang membahas kebijakan akademik dan dinamika pembelajaran di UPI. Penjelasan ini membantu peserta memahami ritme, etika, dan ekspektasi akademik yang harus dipenuhi selama program berlangsung.

Selanjutnya, Prof. Dr. Asep Herry Hernawan, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PPG SPs UPI, memperkenalkan profil dan struktur program secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa pembelajaran akan berorientasi pada praktik reflektif dan berbasis modul digital, sehingga peserta dituntut aktif dan mandiri. Kurikulum yang digunakan dirancang selaras dengan standar nasional pendidik, serta merujuk pada kebutuhan riil di lapangan.

Salah satu sesi yang paling disorot adalah tentang strategi belajar mandiri menggunakan modul pembelajaran. Prof. Dr. Neti Budiwati, M.Si., dan Drs. Toto Subroto, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan peserta sangat bergantung pada kedisiplinan, manajemen waktu, serta kemampuan mengintegrasikan teori dengan praktik di kelas. Modul-modul PPG dirancang untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memandu peserta dalam mengasah kompetensi pedagogik dan profesional secara bertahap.

Tak kalah penting, peserta juga dibekali dengan informasi mengenai Ujian Pengetahuan (UP) dan Uji Kinerja (Ukin) sebagai bagian dari asesmen akhir program. Dr. Hj. Ai Nurhayati, M.Si., dan Dr. Rudi Adi Nugroho, M.Pd., menekankan bahwa persiapan ujian tidak bisa dilakukan secara instan. Semua proses belajar selama program harus dimaknai sebagai rangkaian pembentukan kompetensi yang utuh, bukan sekadar mengejar kelulusan.

Dari sisi teknis, peserta diperkenalkan pada platform Learning Management System (LMS) Ruang GTK dan sistem informasi PPG. Materi ini disampaikan oleh Acep Suryadi Fatoni, S.Pd., dan Nuludin Saefudin, S.Kom., yang menunjukkan bagaimana peserta dapat mengakses materi, mengunggah tugas, dan memantau progres akademik secara mandiri. Selain itu, mereka juga menjelaskan persyaratan administratif dalam proses penerbitan sertifikat pendidik setelah program dinyatakan selesai.

Meski disampaikan dalam waktu yang terbatas, keseluruhan materi orientasi dirancang untuk memberi gambaran utuh tentang tantangan dan harapan dalam mengikuti PPG. Dengan pendekatan blended learning dan sistem pendampingan berbasis daring, UPI berharap peserta dapat mengikuti proses pendidikan ini secara optimal.

Bagi para guru madrasah yang telah lolos seleksi ketat dan kini memulai proses PPG, orientasi ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah awal dari perjalanan baru menuju profesionalisme, pengakuan, dan kontribusi yang lebih besar dalam pendidikan nasional. (Hany H | CS)