
Bandung, 24 Juni 2025
Pendidikan bukan sekadar kewajiban negara, tetapi fondasi utama dalam membangun peradaban. Pandangan ini mengemuka dalam pembukaan Orientasi Akademik PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara hybrid.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Ajam Mustajam, M.Si., menekankan bahwa kehadiran negara dalam membina guru melalui Program PPG adalah bentuk nyata perhatian terhadap masa depan pendidikan.
“Guru bukan hanya pekerja keras. Guru adalah arsitek peradaban yang mampu menciptakan inovasi dalam setiap perkembangan zaman,” ujar Ajam Mustajam, menggarisbawahi peran guru sebagai agen transformasi sosial dan budaya.
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dinilai bukan hanya sebagai kewajiban administratif untuk memperoleh sertifikasi, melainkan sebuah jalan pembinaan kompetensi, profesionalisme, dan juga kesejahteraan.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. A. Juntika Nurikhsan, M.Pd., Direktur Sekolah Pascasarjana UPI, yang menyebut bahwa hampir 50% mahasiswa aktif UPI saat ini adalah peserta PPG.
“Pendidikan merupakan masalah krusial dan fundamental. Dan pendidikan yang bermutu hanya bisa dicapai jika kita melandasinya dengan wisdom (kebijaksanaan),” tegas Prof. Juntika.
Tema besar dari sambutan para pimpinan adalah pentingnya kolaborasi dan adaptasi dalam menghadapi tantangan zaman, terutama dalam pendidikan berbasis teknologi dan kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.
Prof. Dr. H. Agus Rahayu, M.P., Wakil Rektor Bidang Inovasi, Kebudayaan, dan Sistem Informasi UPI, menyampaikan dukungannya terhadap semangat peserta PPG dan berharap kegiatan ini berjalan lancar serta memberi manfaat luas.
“UPI menyambut para mahasiswa PPG dengan sukacita. Ini bukan sekadar pelatihan, ini adalah upaya kolektif untuk mencetak pendidik yang unggul di masa depan,” katanya.
Program PPG kini tidak lagi dipandang semata sebagai jalur menuju sertifikasi pendidik. Dalam konteks yang lebih luas, ia menjadi wahana pembentukan karakter, pemantapan kompetensi, dan aktualisasi nilai-nilai kebangsaan dalam profesi guru. Orientasi akademik ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan titik tolak bagi 2.689 guru madrasah dari seluruh Indonesia untuk melangkah lebih. (Hany H | CS)

