Bandung, UPI

Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memasuki angkatan kedua dengan jumlah peserta yang meningkat dua kali lipat dibandingkan angkatan sebelumnya. Sebanyak 12 peserta menyelesaikan pendidikan profesi insinyur pada tahun kedua, setelah angkatan pertama menghasilkan enam lulusan.

Kepala Program Studi PPI FPTI UPI, Dr. Ir. Elih Mulyana, M.Si., IPU, mengatakan peningkatan jumlah peserta tidak terlepas dari waktu promosi penerimaan mahasiswa yang lebih panjang. Pada tahun pertama, program baru memperoleh izin penyelenggaraan pada Juni, dilanjutkan promosi pada Juli dan penerimaan pada Agustus sehingga waktu sosialisasinya relatif terbatas.

“Jadi penerimaan sedikit. Nah, kemarin ada keleluasaan promosi. Jadi diterima bisa nambah peserta 12 orang,” ujar Elih.

Menurutnya, tantangan PPI juga berkaitan dengan karakteristik calon peserta yang sebagian besar telah bekerja. Kondisi tersebut membuat jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menjadi pilihan yang banyak diminati karena memungkinkan pendidikan profesi ditempuh dalam waktu lebih singkat, sementara jalur reguler menjadi alternatif berikutnya.

PPI FPTI UPI sendiri dirancang sebagai pendidikan selama satu tahun atau dua semester. Selain jalur reguler, program tersebut menyediakan RPL yang dapat ditempuh selama satu semester.

Elih menjelaskan, pendidikan profesi tidak hanya diarahkan pada penguasaan kemampuan teknis. Lulusan diharapkan menjadi insinyur profesional yang memiliki pengalaman praktik keinsinyuran sesuai bidangnya, sekaligus memahami profesionalisme, kode etik, keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), serta memiliki landasan etika, hukum, dan literasi teknologi.

Pembelajaran dilaksanakan secara hybrid melalui kegiatan luring dan daring. Pada tahap praktik, peserta menjalani praktik keinsinyuran di lapangan selama enam bulan, termasuk mengerjakan studi kasus yang kemudian dilaporkan, diseminarkan, dan diuji.

Ke depan, PPI FPTI UPI akan mengembangkan program melalui perluasan promosi dan peningkatan jejaring dengan industri, terutama untuk memperbanyak tempat praktik keinsinyuran. Hubungan antara program studi dan alumni juga menjadi bagian dari pengembangan program, dengan telah dibentuknya kepengurusan alumni yang nantinya berkolaborasi dengan program studi.

Bagi Elih, pengembangan tersebut penting agar pendidikan profesi insinyur tetap relevan dengan kebutuhan praktik di lapangan. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memperoleh pendidikan profesi, tetapi juga memiliki bekal kompetensi dan profesionalisme untuk menjalankan tanggung jawab sebagai insinyur. (RK/RI)