Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Barat. mengambil sumpah profesi 12 lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) UPI dalam Sidang Terbuka Angkat Sumpah Profesi Insinyur Angkatan Kedua, Rabu (16/9/2026), di Ruang Auditorium Lantai IV Gedung A FPTI UPI.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., Dekan FPTI Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si., dan Ketua Program Studi PPI FPTI UPI Dr. Ir. Elih Mulyana, M.Si., IPU., serta tamu undangan. Sumpah profesi Insinyur dibacakan oleh Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia, Jawa Barat, Ir. Tulus Martua Sihombing, S.T., M.T., CPFF.

Sebanyak 12 lulusan mengikuti prosesi pengucapan sumpah, dilanjutkan dengan pemakaian helm keselamatan dan penyematan pin Persatuan Insinyur Indonesia sebagai bagian dari simbol memasuki dunia profesi keinsinyuran. PPI FPTI mencatat terdapat peningkatan jumlah lulusan angkatan kedua dibandingkan angkatan pertama tahun 2025.

Ketua Program Studi PPI FPTI UPI Dr. Ir. Elih Mulyana menjelaskan, peningkatan jumlah peserta pada angkatan kedua antara lain didukung waktu promosi dan sosialisasi program yang lebih panjang. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, waktu persiapan penerimaan dan promosi peserta relatif singkat.

Menurut Elih, PPI UPI diarahkan untuk membentuk insinyur yang tidak hanya memiliki kompetensi keteknikan, tetapi juga memahami profesionalisme, kode etik, keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan (K3L), hukum, dan literasi teknologi.

Hal tersebut sejalan dengan pesan Wakil Rektor Prof. Yudi Sukmayadi yang menekankan tiga tanggung jawab utama yang perlu melekat pada seorang insinyur, yakni kompetensi teknis, tanggung jawab etika, dan tanggung jawab sosial.

“Kompetensi teknis harus didukung integritas. Yang kedua adalah tanggung jawab etika. Ketiga adalah tanggung jawab sosial. Para insinyur bertanggung jawab untuk memikirkan keselamatan, bumi, lingkungan, dan kemaslahatan yang ada di masyarakat,” ujar Prof. Yudi.

Program PPI FPTI UPI dilaksanakan melalui pembelajaran yang memadukan teori dan praktik. Sistem pembelajaran diselenggarakan secara hybrid, dengan praktik keinsinyuran selama enam bulan, kuliah umum bersama praktisi, studi kasus, penyusunan laporan, seminar, dan ujian.

Sementara itu, Ir. Tulus Martua Sihombing menegaskan bahwa sumpah profesi bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan pernyataan tanggung jawab dalam menjalankan profesi insinyur. Ia berpesan agar para lulusan terus belajar, menjaga integritas, dan mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Salah satu lulusan, Firda Hadi Permana, mengatakan bahwa mengikuti PPI menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi, memenuhi tuntutan profesional, memperoleh pengakuan profesi, dan menjawab kebutuhan di tempat kerja. Ia menilai pendidikan profesi juga memperkuat pemahaman bahwa keputusan teknis selalu berkaitan dengan keselamatan dan tanggung jawab profesional.

Ke depan, PPI FPTI UPI akan memperluas promosi program, memperkuat kerja sama dengan industri dan lokasi praktik, serta membangun hubungan yang lebih kuat dengan alumni. (RK/RI)