
Bandung, UPI
Indra Gandara M.Pd, alumni Program Studi Pendidikan Seni jenjang Magister, Sekolah Pascasarjana (SPs.), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang lulus tahun 2025 berhasil menggelar pertunjukan inovatif spektakuler berjudul “Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian” pada tanggal 14 Juni 2026 di Gudung Juang 45 Sukabumi. Gagasan karya tersebut bersumber dari kearifan lokal Sukabumi berupa permainan anak-anak yang dikemas secara kekinian dengan memadukan teknologi AI, Musik Tradisi, Teater, dan Gerak tari yang mengangkat pesan sosio_ecological cultural.
Karya ini digarap berbasis riset. Ketika Indra menyelesaikan kuliah pada Program Studi Pendidikan Seni, SPs. UPI, dia melakukan riset dengan metode arts based research, yaitu berkarya seni untuk menerapkan kecerdasan majemuk anak-anak. Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan arts based research dalam permainan rakyat tidak hanya berfungsi dalam proses kreatif dan pelestarian budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Indra menambahkan bahwa saat anak-anak terlibat dalam proses kreatif berkesenian, mereka belajar berakting dan menari, berbagai kecerdasan seperti linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, dan intrapersonal hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. “Pendidikan seni melalui permainan dan pertunjukan merupakan metode yang jauh lebih efektif menerapkan pendidikan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah di kelas saja” jelas Indra.
Kegiatan ini didukung banyak komunitas seni di Sukabumi antara lain Kakoncara Art, Sekedart, Perguruan Pencak Silat Macan Tunggal, Teater Sajiwa, Sayang Iwung, Gentra Suara Percussion, SMK Mardiyuana Cikembar. Selain itu, dukungan berasal dari Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit, Arta English Club, Yellow Home Syndicate, The Itikurih, Dimasakin Bu Mayang, UKM Lisensi Nusa Putra, Jumphurry, Gedung Widaria Kencana Sukabumi, Ekraf Kota Sukabumi, Ayeuna Official, Studio IF, Analog Koffi. Total pendukung karya ini adalah 120 orang termasuk Siswa SD, SMP, SMA/SMK.
Pertunjukan kolosal ini disajikan dalam dua kali pementasan yaitu jam 16.00 sampai 17.30 dan jam 19.30 sampai jam 21.00 pada tanggal 14 Juni 2026. Penonton yang hadir adalah para siswa sekolah SD, SMP, SMA, dan SMK beserta para guru seni budaya. Mereka sangat antusias menyaksikan pertunjukan kolosal yang langka di Sukabumi ini. Selain guru seni budaya di Sukabumi, empat dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia yaitu Prof. Juju Masunah, M.Hum., Ph.D, Prof. Dr. Tati Narawati, M.Hum., Prof. Dr. Trianti Nugraheni, M.Si, dan Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd. hadir menyaksikan pertunjukan spektakuler ini.
“Kami meras kagum dengan prestasi alumni Prodi Pendidikan Seni SPs. UPI ini”, tegas Prof. Narawati dan Prof. Trianti.

Tim manajmen dimotori oleh Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd. dan mahasiswa program doktor Pendidikan Seni, Rivaldi Indra Hapidzin, M.Pd. Pendanaan produksi ini didukung oleh Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Grant Indonesia Raya 2026.
KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal kolosal, tidak hanya menghibur tetapi juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak. Diharapkan produksi dan pertunjukan kolosal ini dapat dijadikan model pembentukan karakter melalui pendidikan seni dan pertunjukan di Jawa Barat. (JM)


