Sumedang, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan melaksanakan pengabdian di empat kecamatan di Kabupaten Sumedang. Program ini menjadi bagian dari upaya UPI dalam memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Cisitu Jl. Rd. Umar Wirahadikusumah, Situmekar, Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Rabu (24/6/2026)

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan KKN tidak hanya dilaksanakan di Sumedang, tetapi juga tersebar di beberapa daerah lain seperti Ciamis, Garut, dan Bandung. Mahasiswa yang terlibat berasal dari Kampus UPI Sumedang serta beberapa kampus UPI lainnya.

“Tujuan utama KKN bukan hanya sebagai bagian dari program pendidikan, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa terkait berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Mereka akan dikenalkan secara langsung dengan kondisi lapangan serta diharapkan dapat memberikan solusi yang konkret,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam berbagai isu strategis masyarakat, seperti pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penanganan persoalan lingkungan termasuk pengelolaan sampah, serta upaya penanganan stunting. Namun demikian, mahasiswa juga akan dihadapkan pada berbagai tantangan lain yang lebih kompleks sesuai kondisi di lapangan.

Prof. Agus menyampaikan keyakinannya bahwa mahasiswa UPI mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki kreativitas dan motivasi tinggi dalam mencari pendekatan penyelesaian masalah, meskipun berasal dari latar belakang disiplin ilmu yang beragam.

Pada kesempatan yang sama Bupati Sumedang Dr. H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M. menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Sumedang sebagai lokasi pelaksanaan KKN mahasiswa. Menurutnya, kegiatan KKN bukan hanya menjadi bagian dari proses akademik, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

“KKN merupakan kegiatan yang bermakna, bermanfaat, dan harus memberikan dampak. Mahasiswa diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi terhadap persoalan yang ada di masyarakat desa dengan keilmuan yang dimiliki,” ujarnya.

Tema KKN yang diusung dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Beberapa fokus program yang menjadi perhatian di antaranya penanganan stunting, pengelolaan sampah, pengembangan sektor pariwisata, pemberdayaan UMKM, serta penguatan sektor pertanian masyarakat.

Bupati juga meminta para mahasiswa agar memahami kondisi dan persoalan masyarakat secara mendalam melalui pendekatan berbasis data sebelum menyusun program kerja.

“Kami berharap mahasiswa memahami persoalan yang ada melalui data dan kondisi riil di lapangan, sehingga program yang dijalankan benar-benar berdampak dalam menyelesaikan masalah masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, ia juga berpesan agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami karakteristik masyarakat, serta mengedepankan pendekatan ilmiah dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan yang ditemukan selama pelaksanaan KKN.

“Mereka harus mempelajari kondisi masyarakat, kulturnya, dan memahami masalah yang ditemukan. Penyelesaian yang diberikan harus memiliki dasar keilmuan yang kuat sebagai karakter pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa,” katanya.

Kegiatan KKN juga menjadi implementasi pendekatan pembangunan pentahelix, yaitu kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengatasi persoalan masyarakat desa. (Rija/RK)