
Bandung, UPI
Cerita dan kegiatan mendongeng memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan literasi bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi siswa di Indonesia. Melalui pendekatan yang kontekstual dan berbasis budaya, pembelajaran bahasa Inggris dapat menjadi lebih bermakna, relevan, dan memberdayakan peserta didik.
Dalam Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 yang dilaksanakan pada hari Rabu (5/11) di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung, Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D., Guru Besar bidang Pendidikan Literasi Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dalam orasi ilmiahnya mengatakan pembelajaran literasi bahasa Inggris di Indonesia memiliki tantangan unik karena siswa hidup dalam konteks multilingual dan bahasa Inggris berstatus sebagai bahasa asing yang tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan pengajaran yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakter dan latar belakang budaya peserta didik Indonesia.
“Model pedagogi yang dibawa dari luar konteks Indonesia harus diadaptasi dengan nilai dan kebudayaan lokal. Mendongeng dan bercerita bisa menjadi jembatan antara pembelajaran bahasa dan kearifan budaya bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan pedagogi berbasis genre atau teks merupakan salah satu strategi efektif untuk membantu siswa memahami struktur bahasa dan teks secara bertahap. Dalam pendekatan ini, guru memberikan scaffolding atau dukungan bertahap — dimulai dengan pembelajaran eksplisit di mana guru memodelkan penggunaan bahasa, lalu secara perlahan memberikan tanggung jawab kepada siswa hingga mereka mampu berbahasa Inggris secara mandiri dan reflektif.
Prof. Ika menekankan bahwa seni bercerita telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak lama, mulai dari dongeng sebelum tidur hingga pertunjukan wayang dan drama tari dalam upacara tradisional. Cerita rakyat yang menceritakan asal-usul gunung, danau, atau pulau merupakan wujud kekayaan budaya yang sarat nilai moral dan kearifan lokal.
“Cerita bukan hanya media hiburan, tetapi juga ruang belajar nilai, emosi, dan identitas. Melalui cerita, anak-anak belajar memahami diri dan lingkungannya,” tuturnya.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi menghadirkan peluang baru dalam tradisi bercerita. Kini, cerita dapat dibagikan melalui berbagai platform digital seperti media sosial, video interaktif, hingga ruang virtual. “Teknologi memungkinkan setiap anak menjadi pendongeng dan pencipta makna, baik untuk lingkaran kecil maupun khalayak global,” jelasnya.
Melalui riset dan kegiatan akademiknya, Prof. Ika menggabungkan praktik mendongeng dan membaca cerita dalam pembelajaran literasi bahasa Inggris. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga mengembangkan empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
“Cerita adalah jembatan yang paling manusiawi dalam pembelajaran bahasa. Ia menghadirkan konteks, emosi, dan budaya yang membuat bahasa terasa hidup dan dekat dengan siswa,” katanya.
Pendekatan literasi berbasis cerita dan multimoda yang dikembangkannya berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak berhak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri baik melalui kata, gambar, suara, maupun gerak. “Ketika seorang anak menulis atau menceritakan kisahnya, ia sebenarnya sedang menulis dirinya sendiri ke dalam dunia yang lebih luas. Itulah esensi pembelajaran yang membebaskan,” ujar Prof. Ika.
Kontribusinya terhadap pendidikan literasi bahasa Inggris juga diwujudkan melalui pengembangan kurikulum nasional, penyusunan buku teks English for Nusantara, serta program PPG Prajabatan dan pelatihan guru di bawah Direktorat GTK. Seluruh inisiatif tersebut, menurutnya, berupaya memperluas akses pendidikan literasi yang berpihak pada konteks Indonesia, menghargai keragaman bahasa, budaya, dan pengalaman belajar.
“Pendidikan yang sejati tidak diimpor begitu saja, tetapi dibangun dari nilai-nilai lokal yang dijiwai oleh kebijaksanaan global,” tegasnya.

Prof. Ika menutup orasinya dengan refleksi bahwa masa depan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi atau metode pengajaran, tetapi pada proses belajar yang memanusiakan.
“Setiap kata yang diajarkan, setiap cerita yang dibacakan, adalah benih masa depan. Bahasa bukan lagi batas, melainkan ruang perjumpaan yang membuka kesempatan bagi setiap anak Indonesia untuk tumbuh dan berkontribusi,” pungkasnya. (DN/Rija/Cawal/Ratih)

