Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan 14 Guru Besar yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026, di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi No. 229 Bandung. Pada hari pertama, sebanyak delapan Guru Besar dikukuhkan, sementara enam lainnya dijadwalkan dikukuhkan pada hari kedua.

Di hari pertama, Pakar Konversi dan Konservasi Termo-Kimia, Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi, S.T., M.T., telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTK).

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Indra menegaskan bahwa metode pengelolaan sampah konvensional di Indonesia sudah tidak mampu mengimbangi laju urbanisasi. Ia menawarkan transformasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dari sekadar tempat penimbunan menjadi pusat energi melalui sistem desentralisasi yang cerdas.

Prof. Indra memperkenalkan dua teknologi konversi termokimia sebagai instrumen utama untuk menghabiskan sampah secara ramah lingkungan. Pertama, Pirolisis, Proses pembakaran sampah tanpa oksigen yang mampu mereduksi volume sampah hingga lebih dari 70%. Hasilnya bukan sekadar abu, melainkan produk bernilai tinggi seperti bio-oil, gas bahan bakar (syngas), dan arang (bio-coal). Kedua, Chemical Looping Conversion, Teknologi energi tingkat lanjut yang menggunakan media padat sebagai pembawa oksigen. Metode ini diklaim sangat efisien dan mampu menekan emisi gas berbahaya secara signifikan dibandingkan pembakaran biasa.

“Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban yang harus ditimbun, melainkan sumber energi yang dikelola secara ilmiah,” ujar Prof. Indra.

Uniknya, strategi yang ditawarkan Prof. Indra tidak hanya soal pembakaran, tetapi juga integrasi Teknologi Informasi (TI). Ia mengusulkan penggunaan sensor Internet of Things (IoT) sebagai “saraf digital” untuk memantau volume dan komposisi sampah secara real-time.

Dengan sistem otomatisasi ini, operasional TPA desentralisasi dapat berjalan secara presisi. Sensor akan mengatur suhu reaktor secara otomatis ketika komposisi sampah berubah, sehingga kualitas energi yang dihasilkan tetap stabil tanpa bergantung penuh pada intervensi manual.

“Ini adalah pergeseran fundamental dari sistem pengolahan sampah yang reaktif menjadi sistem yang prediktif dan proaktif,” tegasnya.

Implementasi sistem ini diharapkan membawa dampak luas, di antaranya: Pengurangan Emisi, menekan gas metana yang biasanya dihasilkan dari sampah yang membusuk di TPA terbuka. Ketahanan Energi, menghasilkan energi lokal yang dapat digunakan langsung oleh komunitas di sekitar fasilitas pengolahan. Dan Ekonomi Lokal, membuka peluang lapangan kerja baru melalui pengelolaan fasilitas skala menengah di tingkat wilayah (desentralisasi).

Menutup orasinya, Prof. Indra menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan memerlukan sinergi lintas bidang ilmu. Ia memandang pengukuhan guru besar ini sebagai tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi nyata bagi krisis sampah perkotaan di Indonesia.

“Kota masa depan adalah kota yang mampu mengelola limbahnya sendiri secara cerdas. Ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi kebijakan, bukan sekadar angka dalam publikasi ilmiah,” pungkasnya. (DN/Rija/RK)