Bandung, UPI

Guru besar tidak lagi cukup dimaknai hanya melalui capaian publikasi ilmiah, tetapi juga harus hadir sebagai pemimpin intelektual, mentor akademik, dan penggerak kebijakan universitas. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum bertema “Professorship Beyond Publication”, yang menyoroti kepemimpinan dan tanggung jawab strategis profesor dalam ekosistem pendidikan tinggi yang disampaikan oleh Prof. Vanessa Gaffar saat kegiatan Wicara Dewan Guru Besar di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Prof. Vanessa Gaffar menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini. Menurutnya, publikasi ilmiah memang telah menjadi keniscayaan yang melekat pada jabatan guru besar. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seorang profesor mampu melampaui aspek publikasi melalui kontribusi kepemimpinan, tata kelola, serta tanggung jawab dalam regenerasi akademik.

“Kalau awareness para profesor sudah tinggi bahwa professorship itu embedded dengan publikasi, maka yang harus diperkuat adalah aspek beyond publication yakni leadership, tata kelola, dan tanggung jawab terhadap regenerasi,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Vanessa juga menyoroti fenomena professorship pipeline crisis, yakni tantangan serius dalam regenerasi guru besar di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa proses menuju profesor membutuhkan waktu panjang, bahkan dapat mencapai 20–30 tahun. Kondisi ini perlu disiasati melalui kebijakan yang mendukung percepatan karier akademik tanpa mengurangi kualitas.

Ia menegaskan, penguatan budaya riset sejak awal karier dosen menjadi kunci utama. Dengan budaya penelitian yang tertanam sejak dosen muda, publikasi tidak lagi menjadi hambatan saat memasuki tahapan kenaikan jabatan akademik menuju profesor.

Lebih lanjut, Prof. Vanessa memetakan tiga peran utama profesor. Pertama, sebagai pemimpin intelektual yang menghasilkan pengetahuan baru. Kedua, sebagai mentor bagi dosen muda, yang memastikan lahirnya generasi akademisi unggul secara berkelanjutan. Ketiga, sebagai bagian penting dari tata kelola universitas, khususnya dalam perumusan kebijakan akademik.

Ia menggambarkan dampak mentoring profesor secara eksponensial. Satu profesor yang membina sepuluh dosen muda, kemudian masing-masing dosen membina mahasiswa, akan menghasilkan pengaruh akademik yang luas dan berlipat ganda bagi kualitas institusi.

Melalui perspektif tersebut, forum ini menegaskan bahwa professorship di era modern menuntut lebih dari sekadar produktivitas publikasi. Guru besar diharapkan menjadi lokomotif perubahan akademik, penjaga mutu tata kelola, sekaligus penggerak regenerasi kepemimpinan intelektual di perguruan tinggi. (Rija/DN)