Bandung/Chirchiq, 14 April 2026

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mengukuhkan posisinya sebagai universitas pendidikan rujukan di Asia melalui kontribusi keilmuan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Mohammad Ali, M.Pd., M.A., yang tampil sebagai keynote speaker pada International Scientific-Practical Conference bertajuk “Integration of Philological and Pedagogical Research in an Innovative Educational Environment” yang digelar di Chirchik State Pedagogical University (CSPU), Republik Uzbekistan, pada 13–14 April 2026. Atas penugasan resmi dari Rektor UPI, Prof. Mohammad Ali hadir untuk merepresentasikan kontribusi keilmuan UPI pada forum akademik lintas benua yang mempertemukan para sarjana dari Asia Tenggara, Asia Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat.

Partisipasi ini memperkuat peran UPI sebagai pusat kajian pendidikan yang diperhitungkan di tataran global. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang diundang menjadi pembicara utama, Prof. Mohammad Ali membawa kerangka keilmuan khas UPI yang mengintegrasikan paradigma pedagogi modern dengan riset bahasa dan sastra. Kontribusi ini sekaligus menegaskan reputasi program studi di lingkungan UPI, terutama yang menaungi kajian pendidikan, kurikulum, serta pendidikan bahasa, sebagai rujukan bagi pengembangan pendidikan inovatif di Asia.

Dampak konkret dari keterlibatan UPI pada forum ini adalah terbukanya kanal kerja sama akademik langsung antara UPI dengan CHDPU beserta mitra strategis dari Uzbekistan, Kazakhstan, Malaysia, dan Inggris. Forum ini membuka ruang bagi program studi di UPI untuk menjajaki riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan kurikulum bersama yang memperkaya pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Bagi sivitas akademika UPI, capaian ini juga menjadi pintu masuk bagi internasionalisasi program akademik di fakultas dan prodi, khususnya dalam pengembangan inovasi pembelajaran bahasa dan pedagogi.

Kehadiran Prof. Mohammad Ali di Uzbekistan sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yaitu orientasi kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menempatkan perguruan tinggi, sains, serta teknologi sebagai motor penghasil dampak nyata bagi masyarakat. Alih-alih berhenti pada partisipasi seremonial, diplomasi akademik ini menghasilkan dampak terukur berupa penguatan kapasitas dosen, pertukaran gagasan ilmiah, serta pembukaan ruang kolaborasi internasional yang akan diturunkan menjadi program akademik di tingkat fakultas dan prodi. Hal ini selaras dengan arah Diktisaintek Berdampak yang mendorong UPI untuk terus melahirkan riset, inovasi, dan kerja sama internasional yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sekaligus berkontribusi pada peradaban global.

Partisipasi UPI pada konferensi internasional ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan riset dan inovasi pembelajaran lintas negara, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui jejaring kerja sama antaruniversitas di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Eropa. Integrasi filologi dan pedagogi yang menjadi tema konferensi turut relevan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) karena mendorong pemerataan akses dan mutu pendidikan melalui pendekatan yang berpusat pada peserta didik serta pelestarian bahasa warisan.

Berpijak pada dampak tersebut, UPI memandang partisipasi ini memiliki makna strategis berlapis sekaligus melahirkan sejumlah rekomendasi tindak lanjut. Pertama, kehadiran Guru Besar UPI sebagai pembicara utama mempertegas reputasi UPI sebagai universitas pendidikan rujukan di kawasan Asia sehingga perlu ditindaklanjuti dengan penguatan diplomasi akademik berkelanjutan. Kedua, forum ini membuka kanal langsung kerja sama dengan universitas-universitas Uzbekistan yang selama ini belum banyak terjalin oleh perguruan tinggi Indonesia. Ketiga, pertemuan dengan delegasi dari Malaysia, Kazakhstan, dan Inggris memperluas peluang kolaborasi riset multilateral sehingga direkomendasikan pengembangan program mobilitas dosen dan mahasiswa serta konferensi bersama sebagai tindak lanjut strategis yang berdampak jangka panjang.

Mengintegrasikan Filologi dan Pedagogi untuk Pendidikan Inovatif

Prof. Mohammad Ali menyampaikan paparan keynote di hadapan peserta International Scientific-Practical Conference, Chirchik State Pedagogical University, Uzbekistan, 13 April 2026.

Mengusung tema integrasi penelitian filologi dan pedagogi, konferensi ini menegaskan relevansi kolaborasi interdisipliner dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap tuntutan abad ke-21. Panitia menggarisbawahi bahwa kajian filologi memperdalam pemahaman atas bahasa, komunikasi, dan budaya, sementara kajian pedagogi mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan keduanya harus bertemu untuk menghasilkan pendekatan pendidikan yang berpusat pada peserta didik serta berorientasi inovasi.

Pada 13 April, Prof. Mohammad Ali membawakan sesi pleno pukul 10.00–10.30 waktu Chirchiq dengan paparan berjudul Integration of Philological and Pedagogical Research in an Innovative Educational Environment: Concept and Application. Selain sesi pleno, beliau juga memimpin sesi workshop pada hari yang sama.

Dalam paparannya, Prof. Mohammad Ali memposisikan penelitian filologi yang menelaah bahasa, sastra, dan teks serta penelitian pedagogi yang mengkaji proses mengajar dan belajar sebagai dua bidang yang integrasinya menjadi prasyarat bagi perancangan lingkungan pendidikan yang inovatif. Dengan bertumpu pada paradigma pragmatik bermetode campuran (mixed-methods), beliau menegaskan bahwa keunggulan tradisi postpositivis dan konstruktivis dapat saling melengkapi ketika filologi dan pedagogi dipertemukan dalam satu kerangka dialog. Paparan kemudian memetakan lima area integrasi konkret, yakni metodologi pengajaran bahasa, pengembangan berpikir kritis, literasi multimodal, pelestarian bahasa warisan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dan digital humanities lengkap dengan ilustrasi mulai dari pengajaran menulis akademik berbasis korpus hingga analisis sastra berbantuan AI. Di bagian penutup, Prof. Mohammad Ali menawarkan serangkaian strategi kolaborasi tim riset interdisipliner, ko-desain kurikulum, integrasi teknologi, pelatihan guru, hingga riset tindakan (action research) yang dapat diadopsi perguruan tinggi untuk mentransformasi cara pembelajar abad ke-21 berinteraksi dengan bahasa dan sastra.

Rangkaian Acara, Penyelenggara, dan Pejabat yang Hadir

Konferensi ini diselenggarakan oleh Department of English Language Theory and Practice bersama Interfaculty Foreign Languages Department, Fakultas Pariwisata CHDPU, di bawah payung Kementerian Pendidikan Prasekolah dan Sekolah Republik Uzbekistan. Seluruh sesi berlangsung di Conference Hall lantai 1 Gedung Universitas Nomor 3, Fakultas Pariwisata, CHDPU, Kota Chirchiq, Provinsi Tashkent.

Penugasan Prof. Mohammad Ali diatur melalui Surat Tugas Rektor UPI Nomor 2218/UN40/RT.02.01/2026 tertanggal 26 Maret 2026, yang ditandatangani Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. Seluruh pembiayaan kegiatan ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyelenggara. Undangan resmi sebagai pembicara utama dilayangkan langsung oleh Rektor CHDPU, Prof. Muxamedov Gafurdjan Israilovich, Doctor of Chemical Sciences sekaligus Distinguished Scientist Uzbekistan.

Jajaran pembicara pleno menghadirkan sederet akademisi lintas negara, antara lain Dr. Komila Tangirova, Dr. Zulfiya Tuxtaxodjayeva, dan Dr. Gulnara Maxkamova (Uzbekistan National Pedagogical University), Dr. Giuseppe Chiaramonte, Dr. Sabariah Binti Sulaiman, serta Dr. Timur Pak. Konferensi juga menggandeng sejumlah mitra strategis global, di antaranya Universiti Pendidikan Sultan Idris (Malaysia), Auezov University (Kazakhstan), dan University of Warwick (Inggris).

Diplomasi Akademik ke Jantung Peradaban Asia Tengah

Di sela rangkaian kegiatan akademik di Uzbekistan, Prof. Mohammad Ali menyempatkan diri melakukan kunjungan kehormatan (courtesy call) kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kirgistan, Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., di Kantor Kedutaan Besar RI di Tashkent. Dalam pertemuan yang hangat tersebut, Dubes Siti Ruhaini memaparkan karakter masyarakat Uzbekistan yang menurutnya majemuk secara alamiah dan sangat terbuka terhadap kebudayaan lain, tercermin dari beragam etnis yang hidup berdampingan mulai dari Uzbek, Tatar, Rusia, hingga jejak Makedonia. Modalitas keterbukaan yang serupa dimiliki Indonesia sehingga kedua negara dinilai memiliki posisi strategis untuk bersama-sama menghadirkan kembali wajah Islam yang moderat, terbuka, damai, serta rahmatan lil alamin di tengah dunia yang tengah diwarnai konflik. Lebih jauh, Dubes memperkenalkan Uzbekistan dan kawasan Asia Tengah sebagai The New Continent yang telah merampungkan konsolidasi politiknya dan kini menapak ke pembangunan menyeluruh, diiringi pertumbuhan kelas menengah serta pengembangan sumber daya alam dan manusia yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjalin kemitraan yang setara dan saling menguntungkan layaknya keluarga. Menanggapi hal tersebut, Prof. Mohammad Ali menggarisbawahi pentingnya memperluas kerja sama tidak hanya di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial-budaya, tetapi juga sains dan teknologi, sebagai wujud nyata diplomasi akademik UPI yang bersinergi dengan misi diplomatik Indonesia di jantung peradaban Asia Tengah.

Prof. Mohammad Ali diterima oleh Duta Besar RI untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kirgistan, Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., di Kantor Kedutaan Besar RI di Tashkent, 13 April 2026.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti di ruang konferensi. Pada 14 April, para pembicara dan delegasi diajak melakukan kunjungan akademik-kultural ke Samarkand, salah satu pusat peradaban ilmu pengetahuan Islam klasik. Delegasi menyambangi Registan Square, kompleks pemakaman Shah-i-Zinda, serta Gur-e-Amir, sebelum kembali ke Chirchiq pada sore harinya. Kunjungan ini mempertegas posisi Uzbekistan sebagai titik temu historis antara tradisi keilmuan Timur dan Barat.

Partisipasi Prof. Mohammad Ali pada konferensi di Chirchiq menjadi penanda penting perjalanan UPI menuju reputasi universitas pendidikan berkelas dunia. Dengan landasan Diktisaintek Berdampak dan komitmen pada pencapaian SDGs, UPI berharap kegiatan serupa terus direplikasi oleh para Guru Besar dan dosen di lingkungan UPI, sehingga kontribusi keilmuan UPI semakin terasa tidak hanya bagi pendidikan Indonesia tetapi juga bagi peradaban pendidikan global.

(Kontributor: Diemas Arya Komara dan Angga Hadiapurwa)