oleh

Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Pada Selasa, 23 Juni 2026, dunia pendidikan Indonesia berduka. Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, mantan Rektor IKIP Bandung periode 1966–1971 yang kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berpulang ke Rahmatullah pada usia 96 tahun. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang guru besar, melainkan kehilangan seorang pendidik sejati yang sepanjang hidupnya mengabdikan ilmu, pikiran, dan tenaganya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagi banyak kalangan, Prof. Achmad Sanusi adalah sosok langka yang memadukan kecerdasan intelektual, kebijaksanaan moral, dan kesalehan pribadi.

Ia tidak hanya mengajarkan ilmu pendidikan, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan manusia. Kehidupannya merupakan cerminan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan peradaban, jalan pengabdian, dan sekaligus jalan ibadah.

Wafatnya Prof. Achmad Sanusi menutup sebuah perjalanan panjang yang penuh dedikasi, namun tidak menghentikan pengaruh pemikiran dan keteladanan yang diwariskannya. Gagasan-gagasannya tetap hidup di ruang-ruang kuliah, dalam karya-karya akademik, dalam kebijakan pendidikan, dan terutama dalam diri para murid, kolega, serta generasi penerus yang pernah disentuh oleh pemikiran dan kebijaksanaannya.

Bagi keluarga besar UPI, UNINUS, dan komunitas pendidikan nasional, Prof. Achmad Sanusi bukan sekadar mantan rektor atau guru besar. Beliau adalah salah satu arsitek penting Ilmu Pendidikan Indonesia, penggerak profesionalisme guru, sekaligus intelektual yang secara konsisten memperjuangkan pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia. Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, ia senantiasa mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk watak, menumbuhkan tanggung jawab sosial, dan memperkuat akhlak kebangsaan. Kepergian beliau menjadi momentum untuk menengok kembali jejak panjang pengabdian yang telah ditorehkannya. Dari ruang kelas hingga ruang kebijakan, dari kampus hingga masyarakat, dari dunia akademik hingga pembinaan generasi muda, Prof. Achmad Sanusi menunjukkan bahwa perjuangan membangun bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan. Ia memilih melawan kebodohan dengan ilmu, melawan keterbelakangan dengan pencerahan, dan melawan krisis moral dengan keteladanan.

Melawan dengan Pendidikan

Prof. Dr. H. Achmad Sanusi lahir di Banjaran, Bandung Selatan, pada 31 Agustus 1929. Setelah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, ia melanjutkan studi Master of Public Administration (M.P.A.) dan doktoral (Ph.D.) di Indiana University, Amerika Serikat. Bekal keilmuan yang diperolehnya tidak menjadikannya jauh dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, pengalaman akademik internasional tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan Indonesia harus dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Pada usia yang relatif muda, sekitar 37 tahun, ia dipercaya memimpin IKIP Bandung sebagai rektor. Kepemimpinan itu tidak hanya menunjukkan kapasitas intelektualnya, tetapi juga kepercayaan besar yang diberikan kepadanya untuk mengembangkan pendidikan guru di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, IKIP Bandung berkembang sebagai salah satu pusat pemikiran pendidikan yang berpengaruh di tingkat nasional. Bagi Achmad Sanusi, pendidikan bukanlah sekadar proses pemindahan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.  Beliau selalu menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan moral, tanggung jawab sosial, dan kepribadian kebangsaan. Dalam pandangannya, manusia yang terdidik adalah manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, cerdas sekaligus peduli terhadap sesama. Ia juga meyakini bahwa kualitas bangsa sangat ditentukan oleh kualitas gurunya.

Dalam konteks pembangunan nasional, Achmad Sanusi melihat pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial. Pendidikan harus mampu membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Ia percaya bahwa pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia yang berkarakter, berpikir kritis, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

Warisan Pemikiran dan Sistem Nilai

Warisan terbesar Prof. Achmad Sanusi bukanlah jabatan yang pernah diembannya, melainkan sistem nilai yang ditinggalkannya. Ia mewariskan keyakinan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa moralitas dapat kehilangan arah, sementara moralitas tanpa pengetahuan akan kehilangan daya. Beliau juga meninggalkan fondasi penting bagi pengembangan profesionalisme guru di Indonesia. Pemikirannya tentang guru sebagai profesi yang bermartabat masih menjadi rujukan dalam berbagai kebijakan pendidikan hingga saat ini. Di samping itu, perannya dalam memperkuat Ilmu Pendidikan sebagai disiplin akademik melalui Konsorsium Ilmu Pendidikan Indonesia menjadi salah satu kontribusi penting dalam sejarah pendidikan nasional.

Prof. Achmad Sanusi meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang intelektual harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Modernitas, menurutnya, tidak boleh membuat bangsa kehilangan identitas budaya dan moralitasnya. Karena itu, pendidikan harus menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan akhlak.

Tegas, Humanis, dan Humoris

Di balik ketegasan pemikirannya, Prof. Achmad Sanusi dikenal sebagai pribadi yang hangat dan bersahaja. Ia memiliki kemampuan menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang sederhana dan sering kali diselingi humor yang cerdas. Banyak mahasiswa dan kolega mengenangnya sebagai sosok yang mampu membuat forum ilmiah tetap hidup tanpa kehilangan kedalaman substansinya. Humor yang digunakannya bukan sekadar hiburan, melainkan cara untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara lebih manusiawi. Ia memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak harus disampaikan dengan wajah yang kaku. Sebaliknya, pendidikan akan lebih bermakna ketika dibangun di atas relasi yang hangat, dialogis, dan penuh penghargaan terhadap sesama. Kerendahan hati, kesederhanaan, dan keterbukaannya menjadikan beliau dicintai banyak kalangan. Ia tidak pernah menempatkan dirinya jauh dari mahasiswa maupun kolega. Sebaliknya, ia hadir sebagai guru, sahabat, sekaligus teladan.

Keberanian Akademik

Salah satu karakter yang menonjol dari Prof. Achmad Sanusi adalah keberaniannya menjaga marwah akademik. Pada masa-masa yang tidak selalu mudah bagi kehidupan kampus Indonesia, ia berupaya mempertahankan perguruan tinggi sebagai ruang kebebasan berpikir dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ia percaya bahwa kampus harus menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis dan dialog yang sehat. Karena itu, ia selalu mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan fungsi moral dan intelektualnya akibat tekanan kepentingan sesaat. Sikap inilah yang membuatnya dikenang sebagai pemimpin akademik yang berintegritas dan memiliki keberanian moral.

Bagi Prof. Achmad Sanusi, pendidikan bukanlah pekerjaan yang berakhir saat pensiun. Hingga usia senja, beliau tetap aktif menulis, berdiskusi, membimbing, dan memberikan pemikiran bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Semangat intelektualnya tidak pernah padam oleh usia. Banyak dosen, peneliti, dan mahasiswa yang memperoleh inspirasi dari keteladanan hidupnya. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan akhlak, bahwa kecerdasan harus disertai kerendahan hati, dan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang akademisi.

Kembali kepada Sang Khalik

Kini, sosok yang sepanjang hidupnya menyalakan lilin-lilin pengetahuan itu telah kembali menghadap Sang Khalik. Setelah hampir satu abad menjalani kehidupan yang penuh pengabdian, Prof. Dr. H. Achmad Sanusi meninggalkan dunia dengan membawa amal ilmu yang terus mengalir melalui para murid, karya-karya ilmiah, dan gagasan-gagasan yang ditanamkannya dalam dunia pendidikan Indonesia. Wafatnya Prof. Achmad Sanusi bukanlah akhir dari pengaruhnya. Selama masih ada guru yang mendidik dengan hati, selama masih ada kampus yang menjunjung tinggi integritas akademik, dan selama masih ada generasi muda yang belajar untuk menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak, di situlah jejak pengabdian beliau akan tetap hidup. Kita kehilangan raganya, tetapi tidak kehilangan keteladanannya. Kita berpisah dengan sosoknya, tetapi tidak dengan nilai-nilai yang diwariskannya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan alam kuburnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Selamat jalan, Prof. Achmad Sanusi. Engkau sosok murobbi ilmu. Engkau telah melawan dengan pendidikan, mendidik dengan keteladanan, dan mengabdi dengan keikhlasan. Warisanmu akan tetap hidup dalam perjalanan panjang pendidikan Indonesia.  Alunan do’a terus dipanjatkan: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin