
Serang, UPI
Tanah seluas ± 1.745,62 m² di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Serang Jalan Ciracas No. 18, Batok Bali, Kota Serang, Provinsi Banten, berdiri bangunan yang diperuntukan bagi penyelenggaraan pendidikan di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Laboratorium UPI. Gedung ini menjadi simbol komitmen Universitas Pendidikan Indonesia dalam mendukung pendidikan dasar yang berkualitas di wilayah Banten dan sekitarnya.
Gedung baru yang diresmikan oleh Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., pada Rabu (23/7/2025) tersebut bernama Gedung Krakatau, adalah sebuah tindakan nyata dari upaya bersama untuk menciptakan dunia yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua orang, sebagai bagian dari SDGs (Sustainable Development Goals).
Menurut penuturan Kepala Bagian Logistik, Inventarisasi, dan Kendaraan Biro Sarpras UPI H. Aji Ahmad Fauzi, S.T., M.Pd., disebutkan bahwa luas gedung untuk TK dan SD Lab. School adalah ± 1.745,62 m². Gedung tersebut terdiri dari 20 kelas. 18 ruangan adalah kelas baru dan 2 ruangan lainnya adalah kelas existing, dimana dalam perencanaannya, 14 kelas diperuntukkan untuk SD dan 6 kelas untuk TK.
“Pekerjaan ini dilaksanakan selama 150 hari kalender dengan konsultan perencana dari CV. Mahoni, sementara untuk Kontraktor Pelaksana oleh CV. Mugi Jaya dan Konsultan pengawas oleh CV. Ada Putra Central,” ungkapnya.
Untuk diketahui, lanjutnya lagi, pembangunan ruang kelas Lab. School ini menggunakan Biaya RKAT Universitas UPI sebesar ± Rp 10.019.592.000.- dengan rincian, untuk perencanaan sebesar Rp 196.984.000,- untuk fisiknya sebesar Rp. 9.625.268.000,- dan biaya untuk Pengawasnya Rp. 197.592.000,-. Sementara itu untuk pekerjaan lanjutan lantai 2, yang di atas kelas TK dan Perapihan lansekap, diharapkan dapat diselesaikan pada tahun ini.
Sementara itu menurut penuturan Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., ditegaskan bahwa UPI ingin memberikan layanan pendidikan terbaik untuk masyarakat. Dikatakannya,”Keberadaan labschool ini adalah sebagai laboratoriumnya riset UPI. Jadi, bagi bapak ibu dosen yang mempunyai kepakaran di bidang pendidikan bisa menjadikan labschool ini sebagai ajang untuk riset, sehingga nantinya dapat meningkatkan luaran Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sementara itu di sisi lain, UPI juga mempunyai kewajiban untuk pengabdian. Dengan demikian, penyelenggaraan sekolah ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian UPI kepada masyarakat.
Untuk itu, ujarnya lagi, upaya yang kita lakukan tidak boleh setengah-tengah. Pertama, selain pembelajarannya harus bagus, yang kedua, gedungnya juga harus bagus. Ditegaskannya,”Jadi kita mempunyai kampus yang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Gedung ini kita bangun tentunya harus diisi dengan kegiatan proses belajar mengajar, dan diharapkan siswanya banyak, demikian juga dengan gurunya yang selain banyak tebtunya harus sejahtera.”
Pembelajaran ini merupakan hak warga negara untuk mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik, tegasnya. Saat ini UPI sudah memililki 4 sekolah di luar kampus utama, tinggal Kampus UPI di Sumedang yang belum, dan dalam waktu dekat Kampus UPI di Sumedang pun akan memiliki sekolah laboratorium.
“Dengan nama baik yang dimiliki UPI, tentunya ini akan menjadi nilai tawar bagi masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah laboratorium UPI. Di sisi lain, UPI juga memiliki dosen-dosen yang berkompeten di bidang pendidikan, dan tentunya akan memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajarannya. UPI juga mempunyai sarana dan prasarana yang memadai untuk meningkatkan kualitas pelayanan UPI kepada masyarakat,” pungkasnya.
Direktur Kampus UPI di Serang Prof. Dr. Supriadi, M.Pd., menyatakan rasa terima kasihnya atas keberadaan sekolah laboratoium tersebut. Dikatakannya,”Terima kasih atas perhatian dari seluruh Pimpinan Universitas. Pembangunan ini sangat menunjang aktivitas pendidikan di Kampus UPI di Serang dan bisa membangkitkan semangat belajar para siswa. Walaupun belum selesai, tapi sekarang kami sudah merasakan kebahagiaannya. Indikatornya adalah terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang sangat signifikan. Untuk siswa TK, sebelumnya hanya diikuti 7 orang siswa, sekarang tercatat ada 29 orang yang mendaftar. Sementara itu, untuk SD, dari sebelumnya yang mendaftar hanya 39 orang, saat ini ada 124 orang. Demikian pula dengan peningkatan jumlah mahasiswanya yang cukup signifikan.”
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Penyelenggara Sekolah Laboratorium Bumi Siliwangi (YPSL Bumsil) Prof. Dr. H. Juntika Nurihsan, M.Pd., mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, UPI telah melaksanakan amanat MWA, yaitu melaksanakan Peraturan MWA UPI Nomor 3 Tahun 2016 mengatur tentang Pendirian dan Pengelolaan Yayasan di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ketika itu, pimpinan universitas, Rektor dan jajarannya sangat taat dan patuh pada Peraturan MWA Nomor 3 Tahun 2016 tersebut.
Diungkapkannya,”Dengan keberadaan yayasan, kita sangat bersyukur kepada Allah swt, sehingga bisa memperbaiki tata kelola keuangan, tata kelola sarana dan prasarana, tata kelola manajemen atau sarana prasarana dan tentunya tata kelola SDM. Saya juga laporkan, bahwa tim sudah bekerja keras sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yayasan.”
Beberapa waktu lalu, YPSL Bumsil baru saja selesai menyeleksi calon kepala sekolah oleh lima Guru Besar. Jadi, sekarang tidak ada alasan lagi bahwa sekolah laboratorium tidak maju, karena kita tata kelolanya dengan baik.
Kita turunkan guru besar untuk menyeleksi calon kepala sekolah karena UPI itu luar biasa, apa yang tidak ada di UPI? Semuanya ada, bahkan orang lain belajar kepada UPI. Jadi, mari kita bangun tata kelola yayasan ini dengan profesional, dengan baik. Amanat dari Bapak Dewan Penasehat agar YPSL Bumsil di tahun depan bisa meningkatkan kesejahteraan, harus kita tunaikan. Kita lakukan balancing antara pembangunan fisik dan pembangunan psikologis. Jadi kalau tidak naik, kita tidak berhasil.
Prof. Juntika mengungkapkan,”Keberadaan sekolah laboratorium menjadi sangat strategis untuk mengembangkan model-model baru dalam pembelajaran, strategi baru dalam pembelajaran manajemen sekolah dan sebagainya. Tercatat jumlah guru di sekolah laboratorium sebanyak 400 guru dengan 16 sekolah binaan dan IGU terbesar itu dari sekolah laboratorium. Sementara itu untuk jumlah siswa secara umum berjumlah 3500an siswa. Mereka adalah calon pemimpin bangsa Indonesia, karena pembentukan karakter dimulai sejak TK dan SD, ini sangat penting.” (dodiangga)













