
Sumedang, UPI
Tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan program revitalisasi Tari Pancawarna karya Raden Effendi Lesmana Kartadikusumah di Padepokan Sekar Pusaka, Kabupaten Sumedang. Langkah ini diambil guna memperkuat pelestarian seni tari Sunda melalui skema Penelitian Afirmasi Dosen UPI.
Tim penelitian yang diketuai Agus Sudirman dengan anggota Asri Wibawa Sakti, Fitri Kurniati, dan Muhamad Rizki Abdilah ini mengkaji Tari Pancawarna sebagai karya yang memiliki nilai historis, estetis, dan edukatif tinggi.
Agus Sudirman menjelaskan bahwa Tari Pancawarna merupakan karya seni unik yang memadukan dua rumpun tari Sunda, yakni rumpun Keurseus (Lenyepan dan Gawil) serta rumpun Wayang (Jayengrana, Jakasona, dan Gandamanah). Namun, minimnya regenerasi dan keterbatasan dokumentasi membuat tarian ini terancam punah.
“Revitalisasi ini tidak sekadar menghadirkan kembali rangkaian gerak, tetapi merupakan proses terintegrasi yang mencakup dokumentasi, rekonstruksi, validasi, hingga transmisi pendidikan budaya secara berkelanjutan,” ujar Agus.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berorientasi riset artistik (artistic research) yang melibatkan studi arsip, observasi, serta wawancara mendalam. Proses rekonstruksi tarian turut melibatkan Raden Widawati Noer Lesmana, M.Sn., penerus Padepokan Sekar Pusaka sekaligus putri dari maestro pencipta Tari Pancawarna.
Melalui penelitian ini, tim menargetkan terwujudnya dokumentasi revitalisasi Tari Pancawarna yang sistematis, tersusunnya deskripsi akademik sebagai referensi ilmiah, publikasi artikel pada jurnal nasional terakreditasi, video dokumentasi tari, serta rekomendasi model pelestarian dan pembelajaran Tari Pancawarna berbasis padepokan.
Melalui dokumentasi akademik dan audiovisual yang sistematis, riset ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pewarisan Tari Pancawarna sekaligus memperkaya kajian seni tari di lingkungan UPI dan masyarakat luas. (DN)

