
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali memperkuat kapasitas akademiknya dengan bertambahnya dua guru besar baru, yakni Prof. Agus Mahendra M.A dan Prof. Achmad Samsudin M.Pd. Penyerahan Surat Keputusan (SK) Guru Besar kepada keduanya secara resmi dilakukan oleh Rektor UPI yang dilaksanakan di Ruang Rapat Timur Gedung Partere Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Jumat (21/8/2026)
Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI, Prof. Dr. H. Dadang Sunendar, M.Hum., menyampaikan bahwa bertambahnya dua guru besar tersebut menjadi kabar membahagiakan sekaligus memberikan penguatan terhadap kapasitas keilmuan UPI.
“SK ini tentu saja memberikan kebahagiaan, anugerah dan menambah amunisi keilmuan bagi UPI karena bertambahnya dua guru besar,” ujar Prof. Dadang Sunendar.
Dengan penambahan tersebut, UPI saat ini memiliki sekitar 231–232 guru besar aktif. Menurut Prof. Dadang, jumlah tersebut merupakan capaian yang cukup baik bagi UPI dalam memperkuat ekosistem akademik dan keilmuan di lingkungan universitas.
Namun, bertambahnya jumlah guru besar tidak hanya dipandang sebagai pencapaian institusional. Prof. Dadang menekankan pentingnya keberadaan guru besar dan dosen UPI untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai karya dan kontribusi akademik.
Ia berharap seluruh guru besar dan dosen UPI semakin produktif menghasilkan karya yang memberikan dampak, baik melalui karya ilmiah, buku, artikel yang bereputasi internasional, maupun berbagai bentuk karya lainnya.

“Harapannya tentu saja seluruh guru besar di UPI dan juga dosen yang lainnya makin memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” tuturnya.
Prof. Dadang menjelaskan bahwa penambahan guru besar di UPI merupakan bagian dari proses pengembangan karier dan kepakaran akademik yang terus berlangsung. Saat ini, sejumlah pengajuan calon guru besar telah berasal dari berbagai fakultas maupun kampus UPI di daerah.
Menurutnya, proses menuju guru besar merupakan tahapan kepegawaian dan akademik yang harus dilalui sesuai dengan persyaratan yang berlaku. UPI pun terus mendorong dan memfasilitasi para akademisi yang memiliki kepakaran untuk mempersiapkan diri menuju jenjang guru besar.
“Ini akan berproses terus dan sudah banyak sebetulnya pengajuan-pengajuan dari fakultas, dari kampus UPI di daerah untuk calon-calon guru besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, DGB UPI juga telah menghadiri sejumlah kegiatan sosialisasi kepakaran bagi calon guru besar di beberapa fakultas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan calon-calon guru besar agar dapat memenuhi berbagai ketentuan yang dipersyaratkan.
Apabila seluruh proses berjalan lancar dan persyaratan terpenuhi, pengajuan calon guru besar selanjutnya akan melalui tahapan di tingkat universitas, Senat Akademik, hingga Kementerian.
Dengan demikian, bertambahnya dua guru besar baru tidak hanya memperkuat jumlah dan kapasitas akademik UPI saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari kesinambungan regenerasi akademik. UPI terus mendorong lahirnya guru besar-guru besar baru yang memiliki kepakaran kuat, produktif menghasilkan karya, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi M.A menegaskan bahwa penambahan jumlah guru besar merupakan bagian penting dalam memperkuat kapasitas dan posisi akademik universitas. Hal tersebut disampaikan setelah UPI melaksanakan penyerahan Surat Keputusan (SK) pengangkatan guru besar kepada dua dosen.
“Alhamdulillah, tadi pagi kita menerima dan menyerahkan SK untuk dua orang guru besar, yang satu dari FPMIPA, yang satu lagi dari FPOK,” ujar Rektor UPI.
Menurutnya, bertambahnya guru besar di lingkungan UPI diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah profesor, tetapi juga mendorong produktivitas akademik dan pengembangan keilmuan. Para guru besar diharapkan terus memperdalam serta memperluas kajian keilmuan yang menjadi bidang keahliannya.
“Semoga, mudah-mudahan menambah jumlah guru besar kita, dan tentu saja yang lebih penting mereka bisa terus produktif, memperdalam, memperluas kajian keilmuannya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rektor berharap keberadaan guru besar baru dapat memberikan kontribusi dalam mencetak dan mendorong lahirnya guru-guru besar berikutnya. Dengan demikian, peningkatan jumlah profesor tidak berhenti pada pencapaian kuantitatif, tetapi berkembang menjadi ekosistem akademik yang semakin kuat dan produktif.
“Mudah-mudahan juga bisa menelurkan guru besar-guru besar baru, sehingga makin menambah jumlah guru besar di UPI,” tambahnya.
Rektor menjelaskan bahwa apabila mengacu pada rasio target sebelumnya, capaian jumlah guru besar UPI sebenarnya telah terpenuhi. Namun, capaian tersebut tidak menjadi alasan bagi universitas untuk berhenti meningkatkan target.
“Kalau rasio yang lama yang ditargetkan itu sudah tercapai, ya kita harus punya target yang lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Menurutnya, UPI tidak ingin berhenti pada jumlah guru besar yang telah dicapai saat ini. Penambahan profesor dipandang sebagai salah satu strategi untuk memperkuat standing akademik UPI, sekaligus meningkatkan kontribusi universitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kita tentu tidak ingin hanya jumlah yang sekarang, kita ingin jumlah guru besar kita lebih besar lagi untuk memperkuat standing akademi kita,” pungkasnya.
Upaya tersebut menunjukkan komitmen UPI untuk terus membangun sumber daya akademik yang unggul. Melalui peningkatan jumlah dan produktivitas guru besar, UPI diharapkan semakin kuat dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi serta memperluas kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan masyarakat. (RI/DN)

