Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melalui penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang terintegrasi. Hal ini mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Penguatan Kelembagaan Vokasi untuk Penyiapan Pekerja Migran Indonesia Kompeten dan Implementasi Sistem E-Vokasi” yang digelar di Kampus UPI, Jumat (13/3/2026).

Kegiatan strategis ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, kementerian terkait, hingga balai pelayanan pelindungan pekerja migran, guna membangun ekosistem vokasi yang responsif terhadap kebutuhan pasar kerja global.

Direktur Eksekutif Pendidikan Vokasi Garuda UPI, Didin Samsudin, memaparkan peran strategis lembaga yang dipimpinnya dalam menciptakan tenaga kerja yang memiliki daya saing internasional. Menurutnya, Pendidikan Vokasi Garuda fokus pada peningkatan kompetensi melalui kolaborasi lintas sektor.

“Kami membangun ekosistem pelatihan yang tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang budaya kerja internasional,” ujar Didin.

Lebih lanjut disampaikan bahwa dalam struktur dan pengembangan programnya, Pendidikan Vokasi Garuda menaungi berbagai pusat penguatan kompetensi, di antaranya UPI Migrant Center yang berperan dalam edukasi, pendampingan, serta penguatan literasi migrasi aman bagi calon pekerja migran Indonesia. Selain itu, Korean Language and Culture Education Center UPI berfokus pada pengembangan kompetensi bahasa serta pemahaman budaya kerja internasional, khususnya bagi calon pekerja migran yang akan bekerja di Korea Selatan. Keberadaan pusat-pusat tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan sumber daya manusia Indonesia agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar kebutuhan pasar kerja global.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Direktorat Pembinaan Kelembagaan Vokasi PMI dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) RI, Victoryado Shandez Joseph, memperkenalkan sistem E-Vokasi. Platform digital terpadu ini dirancang untuk memastikan transparansi dan efektivitas dalam penyiapan calon pekerja.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa sistem E-Vokasi dirancang sebagai platform digital terpadu untuk mendukung penguatan tata kelola pendidikan dan pelatihan vokasi dalam menyiapkan pekerja migran Indonesia yang kompeten dan profesional. Sistem ini memiliki beberapa fitur utama, di antaranya layanan pelatihan vokasi yang menyediakan akses program pelatihan berbasis kebutuhan industri, layanan sertifikasi kompetensi untuk memastikan standar keterampilan yang diakui secara profesional, serta layanan pendampingan dan konseling yang membantu calon pekerja migran dalam mempersiapkan diri secara teknis maupun psikososial sebelum bekerja di luar negeri.

Selain itu, sistem E-Vokasi juga dilengkapi dengan pusat data dan informasi vokasi yang berfungsi sebagai basis pengelolaan data pelatihan, pemetaan kompetensi tenaga kerja, serta monitoring pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Melalui integrasi berbagai layanan tersebut, E-Vokasi diharapkan mampu membangun ekosistem kelembagaan vokasi yang lebih terintegrasi, melibatkan lembaga pendidikan, lembaga pelatihan kerja, pemerintah, serta mitra industri dalam satu sistem kolaboratif yang transparan, efektif, dan berkelanjutan.

 “Sistem ini dilengkapi dengan pusat data untuk memetakan kompetensi tenaga kerja secara akurat, sehingga pemantauan kapasitas SDM dapat dilakukan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Pihak Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, yang diwakili oleh Eka Widi Astuti, S. Sos., M. A., menekankan pentingnya koordinasi antara lembaga vokasi dengan pemerintah daerah. Sinergi ini krusial untuk memastikan warga Jawa Barat memiliki kesiapan mental dan keterampilan yang mumpuni sebelum bersaing di luar negeri.

Secara makro, inisiatif ini merupakan langkah nyata UPI dan pemerintah dalam mendukung agenda global United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Dengan penguatan kelembagaan dan adopsi sistem digital, Indonesia diharapkan tidak hanya mengirimkan tenaga kerja, tetapi mengirimkan “pribadi profesional” yang kompeten dan berdaya saing tinggi di kancah internasional.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan staf ahli dari UPI Migrant Center serta KLCEC UPI, yang berkomitmen mengawal transformasi digital pendidikan vokasi secara berkelanjutan. (@maxkeensopisan)