
Bandung, 13 September 2025 – Upaya menjaga warisan bahasa daerah kembali mendapat ruang penting di ranah akademik. Pada Sabtu (13/9), Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI dipercaya menjadi mitra utama dalam Diskusi Ilmiah Nasional yang membahas perumusan kurikulum Bahasa Gorontalo.
Kegiatan yang digelar secara daring ini merupakan kolaborasi antara Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Prodi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI, dengan dukungan Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (Ikadbudi) serta Asosiasi Linguistik Terapan Indonesia (ALTI).
Diskusi bertajuk “Dari Potret Lokal ke Desain Ideal: Strategi Perumusan Kurikulum Bahasa Gorontalo” ini diikuti oleh para akademisi, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, pimpinan Kantor Bahasa, para dosen bahasa daerah yang tergabung dalam Ikadbudi, para guru bahasa daerah, penggiat bahasa, hingga mahasiswa.
Forum Berbagi Pengalaman
Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. Suleman Bouti, M.Hum. (Kepala Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah, LPPM UNG), Dr. Haris Santosa Nugraha, M.Pd. (Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Sunda [S-1] dan Prodi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda [S-2], FPBS UPI), serta Dr. Moh. Hidayat Kaniyo, S.T., M.Kom. (Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNG).
Dalam sambutannya, Dr. Haris menekankan bahwa forum ini merupakan langkah strategis bagi pengembangan bahasa daerah.
“Saya pikir tema ini luar biasa penting, karena hari ini kita bukan sekadar merumuskan dokumen kurikulum, tetapi sedang merancang masa depan bahasa Gorontalo agar tetap diajarkan, dicintai, dan dilestarikan,” ujarnya.

Suara dari Gorontalo
Topik pertama, “Potret Kurikulum dan Praktik Pembelajaran Bahasa Gorontalo”, dipaparkan oleh Prof. Dr. Moon Hidayati Otoluwa, M.Hum. Guru Besar UNG ini menegaskan bahwa bahasa Gorontalo bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang sarat nilai.
“Bahasa Gorontalo selain unik, juga identitas budaya. Ia menyimpan nilai dan jati diri, karena itu penting dipelajari di sekolah,” tegas Prof. Moon.
Namun, Prof. Moon juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi bahasa Gorontalo: menurunnya jumlah penutur, semakin dominannya bahasa asing, serta minimnya eksposur bahasa Gorontalo di ruang publik. Karena itu, ia menekankan bahwa pembelajaran di sekolah menjadi kunci utama keberlangsungan bahasa daerah ini.
Belajar dari Bahasa Sunda
Topik kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Yayat Sudaryat, M.Hum. dari FPBS UPI. Dengan pengalaman panjang mengawal kurikulum bahasa Sunda, ia menjelaskan bahwa kurikulum bahasa daerah harus selalu adaptif terhadap perubahan kurikulum nasional dan visi pembangunan daerah.
Menurut Prof. Yayat, pembelajaran bahasa Sunda berpijak pada tiga landasan: linguistik, sosiokultural, dan pedagogi.
“Kami sudah lama mengajarkan bahasa Sunda dengan berbagai perubahan kurikulum nasional, kami pun ikut berubah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Yayat menilai perlunya pendirian Prodi Bahasa Gorontalo sebagai wadah lahirnya pendidik dan pusat pengembangan kurikulum yang berkelanjutan.

Manfaat dan Luaran Berkelanjutan
Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga membuka jalan bagi penguatan pendidikan bahasa daerah di masa depan. Seperti ditegaskan dalam penutupan oleh Prof. Suleman Bouti, kegiatan ini merupakan awal dari kerja sama panjang lintas universitas dan lembaga.
“Kami berprinsip bahwa kegiatan ini merupakan awal yang tidak direncanakan titik akhirnya,” ujarnya optimis.
Keterlibatan Prodi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI dalam forum ini sejalan dengan semangat SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Melalui pengembangan kurikulum bahasa daerah, kegiatan ini berkontribusi memastikan pendidikan yang inklusif, relevan, dan mampu melestarikan identitas budaya lokal di tengah tantangan globalisasi. Kolaborasi ini juga membuktikan bahwa semangat melestarikan bahasa daerah tidak mengenal batas geografis. Dengan menggandeng para ahli dari daerah lain yang sudah berpengalaman, upaya pelestarian bahasa Gorontalo menjadi lebih terarah, profesional, dan berkelanjutan.
Kontributor: Walid Muhammad Taufik

